kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.857.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.020   -18,00   -0,11%
  • IDX 7.027   -157,66   -2,19%
  • KOMPAS100 971   -21,90   -2,21%
  • LQ45 715   -12,21   -1,68%
  • ISSI 251   -5,90   -2,30%
  • IDX30 389   -4,63   -1,18%
  • IDXHIDIV20 483   -4,52   -0,93%
  • IDX80 109   -2,25   -2,01%
  • IDXV30 133   -1,42   -1,05%
  • IDXQ30 127   -1,23   -0,96%

Menengok Kesiapan IT Perbankan di Tengah Perkembangan Layanan Digital


Minggu, 05 April 2026 / 14:06 WIB
Menengok Kesiapan IT Perbankan di Tengah Perkembangan Layanan Digital
ILUSTRASI. Pengguna BRImo Capai 45,9 Juta User (DOK/PT Bank Rakyat Indonesia)


Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Di tengah pengembangan digital yang digenjot perbankan, kesiapan sistem information technology (IT) menjadi kunci stabilitas layanan kepada nasabah. 

Awal bulan ini, media sosial resmi PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) sempat kebanjiran keluhan soal eror pada layanan bank.

Sejak pagi, sejumlah nasabah melampirkan tangkap layar aplikasi digital BRImo dengan keterangan saldo kosong, ada pula yang mengaku tak bisa melakukan transaksi lantaran rekening terdeteksi tidak terdaftar pada sistem bank lain. 

Rupanya, BRI tengah melakukan pemeliharaan sistem kala itu. Nasabah diminta menunggu hingga tengah hari untuk dapat mengakses layanan secara normal. 

“Saat ini transaksi pada channel BRI sedang dilakukan pemeliharaan sistem untuk meningkatkan kualitas layanan. Transaksi dapat diakses kembali dalam beberapa jam ke depan (estimasi waktu pukul 12.00 WIB),” demikian ditulis akun X resmi @kontakBRI, Rabu (1/4/2026). 

Manajemen BRI memastikan kini layanan pada seluruh jaringan bank telah beroperasi normal. Nasabah diminta untuk mengulangi transaksi ataupun layanan yang sempat diakses pada masa pemeliharaan.

Di samping itu, manajemen turut mengimbau nasabah untuk menjaga kerahasiaan data pribadi guna menghindari berbagai risiko serangan siber. 

Pada dasarnya peningkatan layanan memang digenjot industri perbankan, sembari menjaga stabilitas layanan.

Misalnya, Bank Tabungan Negara (BTN). Direktur IT BTN Tan Jacky Chen menyebut, pihaknya mengandalkan arsitektur high availability dengan sistem redundansi yang bersifat scalable, serta monitoring selama 24 jam untuk menjaga stabilitas layanan. 

Selain itu, ia bilang setiap perubahan sistem dilakukan melalui proses change management yang ketat, termasuk pengujian menyeluruh dan implementasi pada periode trafik rendah guna meminimalkan potensi gangguan layanan.

“Kami juga menerapkan teknologi pendukung untuk mencapai minimum downtime layanan bagi masyarakat,” jelas Tan kepada Kontan, Kamis (2/4/2026).

Tan juga menjelaskan soal perencanaan kapasitas yang dilakukan secara berkala dengan mengacu pada data historis dan proyeksi pertumbuhan transaksi.

Dengan pendekatan tersebut, ia bilang sistem dapat mengakomodasi lonjakan transaksi, termasuk saat periode high season, dengan tetap menjaga tingkat ketersediaan (uptime).

Dalam aspek manajemen risiko, BTN menerapkan Business Continuity Plan (BCP) dan Disaster Recovery Plan (DRP), termasuk penyediaan data center cadangan serta penetapan Recovery Time Objective (RTO) dan Recovery Point Objective (RPO). 

Tan menyebut pihaknya juga rutin melakukan stress test dan simulasi gangguan. Salah satunya melalui Disaster Recovery Test (DR Test) yang dilakukan minimal satu kali dalam setahun, serta pengujian sebelum peluncuran sistem atau fitur baru.

Ia menegaskan, penguatan IT menjadi bagian integral dari strategi jangka panjang bank. Sejalan dengan itu, bank meningkatkan belanja modal (capital expenditure/capex) untuk IT pada 2026 sekitar 10% dibandingkan tahun sebelumnya, dengan fokus investasi pada penguatan infrastruktur, modernisasi core banking, pengembangan layanan digital, serta peningkatan keamanan siber.

Sementara itu, di KB Bank terdapat IT Roadmap 2026 yang difokuskan pada penguatan fondasi teknologi, peningkatan operational resilience, serta penguatan keamanan dan kapasitas sistem.

Presiden Direktur KB Bank Kunardy Darma Lie menjelaskan, roadmap telah diimplementasikan melalui sejumlah inisiatif strategis, antara lain penyempurnaan kebijakan dan tata kelola IT, pembaruan proses dan prosedur, serta penguatan data center dan disaster recovery center. 

“Kami juga meningkatkan segmentasi jaringan serta standarisasi teknologi dan perangkat,” ungkap Kunardy. 

Di samping itu, ia bilang pihaknya turut memperkuat technology asset management dan meningkatkan kapasitas serta kompetensi sumber daya manusia (SDM) di bidang IT untuk memastikan sistem yang lebih scalable dan andal.

Dalam pengelolaan risiko operasional, khususnya terkait potensi gangguan sistem, bank telah mengimplementasikan kerangka business continuity management dan disaster recovery plan secara menyeluruh.

Sebagai bagian dari mitigasi risiko, Kunardy mengaku bank secara berkala melakukan berbagai pengujian, mulai dari disaster recovery drill, failover testing, hingga capacity testing serta simulasi penanganan insiden.

Ia menyebut penguatan IT menjadi salah satu prioritas strategis yang berjalan seiring dengan ekspansi bisnis.

“Teknologi kini tak lagi sekadar fungsi pendukung, melainkan telah menjadi core infrastructure sekaligus business enabler dalam industri perbankan digital,” katanya.

Untuk itu, investasi akan terus diarahkan pada modernisasi infrastruktur, penguatan keamanan siber (cybersecurity), peningkatan keandalan sistem, otomatisasi, serta pengembangan platform digital.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Apa dampak bagi saya, jika saya...



TERBARU

[X]
×