Reporter: Ammar Rezqianto | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkapkan, pertumbuhan penyaluran kredit perbankan pada semester II-2026 berpotensi tumbuh lebih kencang pada sektor industri yang berkaitan dengan ekspor.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Erdiana Rae mengatakan, efek pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bisa memberikan dampak yang berbeda pada masing-masing sektor industri.
Menurutnya, di tengah pelemahan rupiah, kredit di sektor yang berkaitan dengan ekspor berpotensi akan meningkat. Pasalnya, permintaan ekspor dari pihak luar negeri cenderung akan naik akibat harga bahan baku domestik yang dinilai semakin murah.
"Begitu mata uang kita terdepresiasi, ekspor akan lebih banyak permintaannya karena harganya otomatis jadi lebih murah bagi di sana. Tapi kebalikannya kalau kita impor, harga yang kita beli jadi lebih mahal," jelas Dian saat ditemui, Selasa (2/6/2026).
Baca Juga: Asei: Prospek Asuransi Marine Cargo Masih Berpeluang Tumbuh Positif Sepanjang 2026
Dengan begitu, Dian menyebut pertumbuhan kredit bank pada semester 2-2026 akan bergantung dari eksposur nilai tukar rupiah terhadap masing-masing sektor industri.
Dian pun menyoroti kenaikan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 50 bps menjadi 5,25% pada Mei 2026. Dian bilang, kenaikan BI Rate ini tidak serta-merta akan langsung membuat perbankan menaikkan suku bunga kreditnya dalam waktu dekat.
Menurut Dian, masing-masing manajemen bank pasti akan mempertimbangkan aspek bisnis sebelum menaikkan suku bunga kreditnya, salah satunya melihat kondisi likuiditas dan tingkat biaya dana.
"Akan selalu ada jeda waktu untuk perbankan menyesuaikan. Karena bank itu bisnis, dia akan mengkalkulasi tingkat suku bunga bisa dinaikkan," kata Dian.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













