kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.920.000   30.000   1,04%
  • USD/IDR 16.900   45,00   0,27%
  • IDX 7.935   -168,62   -2,08%
  • KOMPAS100 1.117   -23,38   -2,05%
  • LQ45 816   -13,78   -1,66%
  • ISSI 278   -6,99   -2,45%
  • IDX30 426   -6,36   -1,47%
  • IDXHIDIV20 515   -6,10   -1,17%
  • IDX80 125   -2,26   -1,78%
  • IDXV30 139   -2,98   -2,10%
  • IDXQ30 139   -1,10   -0,79%

Modal dan margin tinggi jadi penyangga NPL


Selasa, 13 September 2016 / 16:48 WIB
Modal dan margin tinggi jadi penyangga NPL


Reporter: Nina Dwiantika | Editor: Rizki Caturini

JAKARTA. Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) ikut memantau kenaikan rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) pada perbankan. Halim Alamsyah, Ketua Dewan Komisioner LPS mengatakan, kenaikan kredit bermasalah ini akan membuat perbankan lebih hati-hati dalam menyalurkan kredit.

Segmen kredit yang akan dihindari untuk pembiayaan kredit adalag komoditas seperti tambang dan batubara karena permintaan masih rendah diiringi harga yang turun. “Ke depan masih ada sentimen positif untuk perbaikan kredit karena regulator perbankan telah memperlonggar sejumlah kebijakan,” katanya, Selasa (13/9).

Saat ini, perbankan mencatat rasio NPL net antara 2,4%-2,5%, dan rasio NPL gross antara 3,0%-3,11%. Tren NPL ini terus naik sejak dari dua tahun belakang.

Meskipun bank mengalami kenaikan kredit bermasalah namun belum mengkhawatirkan karena penyangga (buffer) perbankan masih tinggi. Misalnya, rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) sebesar 22,56% per Juni 2016 dan rasio margin bunga bersih atau net interest margin (NIM) sebesar 5,59% per Juni 2016.

Fauzi Ichsan, Kepala Eksekutif LPS menambahkan, perbankan Indonesia memiliki penyangga modal dan margin yang tinggi sehingga dapat mengimbangi kenaikan rasio kredit bermasalah. Harapannya dengan modal yang masih kuat akan membuat perbankan mempercepat perbaikan kredit bermasalah.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×