kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Musim konsolidasi, bank kecil atur strategi untuk bisa naik kelas


Kamis, 28 Februari 2019 / 19:18 WIB
Musim konsolidasi, bank kecil atur strategi untuk bisa naik kelas

Reporter: Anggar Septiadi | Editor: Tendi Mahadi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Di tengah musim konsolidasi perbankan, bank-bank kecil tak melulu ingin ambil langkah instan: menunggu dicaplok bank besar. Beberapa Bank Umum Kelompok Usaha (BUKU) 1, dan BUKU 2 masih ingin mandiri. Bahkan tahun ini, beberapa bank kecil siap naik kelas.

PT Bank Kesejahteraan Ekonomi misalnya, tahun ini menargetkan bisa naik kelas ke BUKU 1. Direktur Utama Sasmaya Tuhuleley bilang salah satu langkah akan dilakukan perseroan dengan melepas sahamnya ke publik, alias initial public offering (IPO).


“Kita sedang siapkan prosesnya, sekitar Mei bisa IPO, paling telat Juni karena kami pakai laporan buku Desember. Kita saat ini pun sudah menunjuk underwriter dari Bahana Sekuritas, dan Mirae Sekuritas,” katanya kepada Kontan.co.id.

Sasmaya menambahkan melantai di bursa jadi salah satu penopang upaya perseroan naik buku. Sebelumnya BKE juga telah menerbitkan saham baru (right issue) senilai RP 300 miliar pada tahun lalu. Nah, sisanya akan berupaya diperoleh melalui aksi IPO.

“Kebutuhan dana kami untuk bisa naik BUKU II itu sekitar Rp 600 miliar hingga RP 700 miliar. Kalau dari right issue semua lengkap ditambah kita berharap langsung naik ke BUKU II,” lanjut Sasmaya.

Sementara hingga kuartal 3/2018 modal inti perseroan masih mencapai Rp 331,2 miliar. Sehingga jika seluruh target right issue dieksekusi pemegang saham, maka melalui IPO, Bank Kesejahteraan Ekonomi masih butuh Rp 300 miliar hingga RP 400 miliar agar bisa naik kelas ke BUKU II dengan modal inti di atas Rp 1 triliun.

Selain itu adapula PT Bank China Construction Bank INdonesia Tbk (MCOR) yang juga menargetkan naik kelas ke BUKU III akhir tahun ini. Dalam keterbukaan informasi, Selasa (26/2) lalu DIrektur Utama You Wennan bilang upaya tersebut akan dilakukan melalui penerbitan obligasi subordinasi.

“Perseroan merencanakan untuk memperkuat modal pelengkap, melalui penambahan penerbitan obligasi subordinasi senilai maksimum US$ 50 juta. Obligasi ini bersifat bilateral yang secara keseluruhan diambil oleh China Bank Corporation,” katanya.

Aksi korporasi ini pun telah terjadi pada 22 Februari 2019 lalu, dan sebelumnya telah direstui Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 31 Desember 2018. Sementara hingga September 2018, CCB Indonesia tercatat memiliki total modal senilai Rp 2,21 triliun, yang berasal dari modal inti senilai RP 2,08 triliun, dan modal pelengkap senilai Rp 130 miliar.

“Perseroan akan memperkuat struktur permodalan, sebagai landasan untuk pengembangan bank selanjutnya ke skala yang lebih besar. Hal ini untuk meningkatkan klasifikasi Perseroan yang saat ini tergolong kelompok BUKU II dan ditargetkan menjadi kategori BUKU III pada akhir tahun 2019,” sambungnya.

Sebagai tambahan, dari data Statistik Perbankan Indonesia Otoritas Jasa Keuangan (OJK) hingga Desember 2018, kinerja BUUKU 1, dan 2 sejatinya memang tak menngembirakan. Hingga akhir 2018, BUKU 1 hanya bisa meraih laba senilai Rp 700 miliar, melorot 2,23% (yoy) dibandingkan 2017 senilai Rp 716 miliar.

Sedangkan BUKU 2, pertumbuhan labanya lebih anjlok lagi. Dari data serupa, pada Desember 2018, BUKU 2 hanya mampu meraih laba Rp 9,18 triliun, dengan pertumbuhan yang menurun 10,72% (yoy) dibandingkan 2017 senilai Rp 10,28 triliun.





Close [X]
×