kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.581.000   -14.000   -0,54%
  • USD/IDR 17.992   80,00   0,45%
  • IDX 6.010   -61,64   -1,02%
  • KOMPAS100 774   -11,44   -1,46%
  • LQ45 592   -8,80   -1,46%
  • ISSI 208   -2,25   -1,07%
  • IDX30 328   -4,71   -1,41%
  • IDXHIDIV20 419   -5,32   -1,25%
  • IDX80 88   -1,32   -1,47%
  • IDXV30 114   -0,94   -0,82%
  • IDXQ30 107   -1,23   -1,13%

Nasabah Tajir Bertambah, Bisnis Wealth Management Bank Tumbuh


Kamis, 01 Oktober 2026 / 18:26 WIB
Nasabah Tajir Bertambah, Bisnis Wealth Management Bank Tumbuh
ILUSTRASI. Bisnis wealth management perbankan masih menunjukkan pertumbuhan seiring meningkatnya dana nasabah dengan saldo jumbo.(KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Aura Putri | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bisnis wealth management perbankan masih menunjukkan pertumbuhan seiring meningkatnya dana nasabah dengan saldo jumbo.

Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mencatat, total simpanan perbankan mencapai Rp 10.348,86 triliun hingga Juli 2026, tumbuh 0,4% secara bulanan dan 10,9% secara tahunan (yoy).

Berdasarkan nominalnya, simpanan di atas Rp 5 miliar mencatat pertumbuhan paling tinggi, yakni 17,3% yoy menjadi Rp 5.999,21 triliun.

Kondisi ini menjadi peluang bagi perbankan untuk mengembangkan bisnis wealth management. PT Bank DBS Indonesia mencatat jumlah nasabah high net worth individuals (HNWI) menunjukkan tren peningkatan.

Baca Juga: Lakukan Perubahan RKPUS, Tugu Insurance Alihkan Portofolio Kepesertaan UUS

Head of Market Intelligence PT Bank DBS Indonesia Boy Suhendry mengatakan, pertumbuhan tersebut sejalan dengan semakin besarnya kebutuhan nasabah terhadap informasi dan produk investasi. DBS pun terus mengembangkan ragam produk serta layanan wealth management.

"Jumlah customer kita kecenderungan trennya meningkat. Potensi wealth management kita akan semakin besar lagi ke depan," ujarnya di Jakarta, Rabu (29/9/2026).

Pada semester I 2026, DBS Treasures Private Client mencatat pertumbuhan total Asset Under Management (AUM) sebesar 13% secara tahunan. Rata-rata AUM per nasabah juga meningkat 15%. Total Income tumbuh 34%, didorong oleh Investment Fee Income yang meningkat 65%, serta Net Profit After Tax (NPAT) yang bertumbuh 24%.

"Customer kita juga banyak yang berinvestasi di obligasi. Mereka sudah mulai shifting ke aset yang mungkin risiko exposure-nya lebih rendah. Kalau memang ingin dapat cash flow, bisa shifting dari obligasi yang dulu jangka panjang ke obligasi tenor pendek," kata Boy.

Menurut Boy, strategi tersebut memungkinkan nasabah tetap memperoleh imbal hasil sekaligus menekan risiko volatilitas. Selain obligasi, DBS juga menawarkan reksadana pendapatan tetap, valuta asing dan structured product.

Baca Juga: Transaksi Bale Korpora BTN Tumbuh 87,3%, Capai Rp268,98 Triliun hingga Agustus 2026

Sementara itu, PT Bank Central Asia Tbk (BCA) juga mencatat pertumbuhan bisnis wealth management. Executive Vice President Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn mengatakan, hingga Juni 2026, AUM reksa dana dan obligasi BCA meningkat lebih dari 15% yoy.

Pertumbuhan terutama ditopang reksadana yang mencatat kenaikan AUM lebih dari 50% yoy, khususnya reksadana pasar uang dan reksadana pendapatan tetap.

"Peningkatan AUM tersebut memberikan kontribusi terhadap pendapatan fee based income BCA," kata Hera kepada Kontan, Rabu (29/9/2026).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×