Reporter: Avanty Nurdiana | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) masih menghadapi tantangan dari sisi margin bunga bersih atau net interest margin (NIM). Saham BBNI turun 14,79% sepanjang tahun ini di level Rp 3.630 per saham pada Jumat (14/8/2026). Pada Jumat saja, harga saham BBNI masih naik 0,55% dan sepekan turun 0,27%.
Namun, tekanan tersebut belum membuat PT Samuel Sekuritas Indonesia mengubah pandangannya terhadap saham bank pelat merah ini.
Samuel Sekuritas justru menilai pelemahan harga saham BBNI telah menciptakan peluang menarik bagi investor jangka panjang. Samuel Sekuritas mempertahankan rekomendasi buy dengan target harga Rp 4.700 per saham, yang mencerminkan potensi upside sekitar 29,47% dari harga Rp3.630 per saham yang menjadi acuan riset.
Baca Juga: Harga Minyak Naik, Brent Melonjak 1% di Tengah Kebuntuan Perang Iran
Analis Samuel Sekuritas dalam riset 7 Agustus 2026 menilai, persoalan utama BBNI saat ini bukan terletak pada pertumbuhan bisnis maupun kualitas aset, melainkan tekanan biaya dana yang berpotensi menahan NIM dalam jangka pendek.
Manajemen BBNI telah memangkas panduan NIM 2026 dari sebelumnya 3,5%-3,8% menjadi 3,3%-3,5%.
Menurut analis Samuel Sekuritas, revisi tersebut terutama berkaitan dengan asumsi penarikan penuh saldo Simpanan Anggaran Lebih (SAL) Kementerian Keuangan sebesar Rp 84,7 triliun pada Oktober 2026.
Penarikan dana tersebut berpotensi membuat struktur pendanaan BBNI lebih mahal. Samuel Sekuritas memperkirakan kenaikan cost of fund (CoF) akan lebih cepat terasa dibandingkan manfaat dari penyesuaian suku bunga kredit.
Pasalnya, terdapat jeda sekitar dua kuartal sebelum repricing kredit dapat memberikan dampak penuh terhadap margin.
Dampaknya mulai terlihat pada struktur pendanaan. Porsi dana murah atau CASA turun menjadi 65,4%, sedangkan capital adequacy ratio (CAR) turun 300 basis poin secara tahunan menjadi 18,3%.
Meski demikian, BBNI masih mempertahankan target pertumbuhan kredit 8%-10% dan target cost of credit (CoC) 1,0%-1,2% untuk 2026.
Di tengah persoalan margin, kinerja bisnis inti BBNI justru masih menunjukkan pertumbuhan yang kuat.
Pada kuartal II-2026, kredit BBNI mencapai Rp 969 triliun, melonjak 24,4% secara tahunan dan tumbuh 5,4% secara kuartalan.
Bahkan, jika penyaluran kredit kepada Agrinas dikeluarkan dari perhitungan, pertumbuhan kredit BBNI masih mencapai sekitar 17% YoY.
Pertumbuhan paling kuat berasal dari segmen korporasi dan menengah. Kredit korporasi tumbuh 25% YoY, sedangkan kredit segmen menengah melesat 62% YoY.
Baca Juga: Bitcoin Terkoreksi, Ini Sederet Faktor yang Memengaruhi Pergerakan Harganya
Namun, pertumbuhan kredit yang agresif belum sepenuhnya diimbangi pertumbuhan simpanan. Dana pihak ketiga BBNI relatif stagnan secara kuartalan sehingga LDR meningkat menjadi 88%.
Pada kuartal II-2026, BBNI membukukan laba bersih Rp5,1 triliun, tumbuh 8,1% YoY tetapi turun 10% QoQ.
Penurunan secara kuartalan terutama disebabkan lonjakan provisi sebesar 51,1% QoQ menjadi Rp3 triliun. Kondisi tersebut membuat CoC kuartalan naik menjadi 129 basis poin.
Meski demikian, secara semesteran kinerja BBNI masih cukup solid. Laba bersih semester I-2026 mencapai Rp 10,8 triliun, tumbuh 6,6% YoY.
Capaian tersebut telah merealisasikan sekitar 52% dari estimasi Samuel Sekuritas dan 50,6% dari konsensus, sehingga masih sejalan dengan ekspektasi pasar.
Dari sisi pendapatan, kinerja operasional BBNI juga masih kuat. Pendapatan operasional kuartal II-2026 mencapai Rp 16,7 triliun, naik 15% YoY.
Pendapatan bunga bersih (NII) bahkan mencetak rekor Rp 11,3 triliun, tumbuh 16,3% YoY dan 2,1% QoQ. Hanya saja, kinerja tersebut tertahan oleh pendapatan non-bunga yang turun 14,1% QoQ.
Bagi Samuel Sekuritas, salah satu alasan penting untuk tetap optimistis terhadap BBNI adalah kualitas aset yang terus membaik.
Meski biaya kredit meningkat pada kuartal II-2026, rasio Loans at Risk (LAR) justru turun signifikan menjadi 8,1%, dibandingkan 11% pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Tren positif juga terlihat pada penghapusbukuan kredit. Write-off turun 44% YoY, sementara rasio recovery/write-offmelonjak dua kali lipat menjadi 56%.
Sementara itu, NPL gross tetap terkendali di level 1,9%.
Dengan demikian, menurut Samuel Sekuritas, kenaikan provisi pada kuartal II-2026 belum menunjukkan adanya kemunduran fundamental pada kualitas aset BBNI. Sebaliknya, sejumlah indikator risiko kredit justru bergerak ke arah yang lebih baik.
Di sinilah alasan utama Samuel Sekuritas masih melihat daya tarik BBNI.
Analis Samuel Sekuritas menilai derating saham BBNI sudah terlalu dalam. Saham BBNI saat ini diperdagangkan di sekitar 0,7 kali P/BV 2026F, jauh di bawah rata-rata 10 tahun sebesar 1,1 kali.
Baca Juga: Ekspektasi Kebijakan Suku Bunga, Begini Proyeksi Rupiah untuk Selasa (18/8)
Dengan kata lain, pasar telah memberikan diskon cukup besar terhadap BBNI akibat kekhawatiran terhadap margin dan biaya dana.
Padahal, di balik tekanan tersebut, bank masih mencatat pertumbuhan kredit yang tinggi, NII yang kuat, serta perbaikan kualitas aset.
Belum lagi, BBNI menawarkan potensi dividend yield hingga 7,4%, yang semakin menambah daya tariknya bagi investor yang mengejar pendapatan dividen.
Dengan mempertimbangkan valuasi yang telah tertekan, fundamental bisnis yang tetap kuat dan potensi dividen yang menarik, Samuel Sekuritas mempertahankan beli saham BBNI dengan target harga Rp 4.700.
Bagi investor jangka panjang, tekanan NIM akibat penarikan SAL dinilai lebih sebagai tantangan jangka pendek ketimbang perubahan fundamental BBNI.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
