kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.630.000   -15.000   -0,57%
  • USD/IDR 17.913   43,00   0,24%
  • IDX 5.643   -177,60   -3,05%
  • KOMPAS100 728   -24,24   -3,22%
  • LQ45 553   -19,90   -3,47%
  • ISSI 197   -4,65   -2,31%
  • IDX30 314   -10,96   -3,37%
  • IDXHIDIV20 389   -11,74   -2,93%
  • IDX80 83   -2,75   -3,22%
  • IDXV30 107   -1,77   -1,63%
  • IDXQ30 102   -3,08   -2,93%

Pasar uang antar bank (PUAB) mulai sepi, begini penyebabnya menurut bankir


Senin, 18 November 2019 / 06:20 WIB


Reporter: Laurensius Marshall Sautlan Sitanggang | Editor: Herlina Kartika Dewi

Menurut BNI, kebutuhan likuiditas jangka pendek saat ini memang sebagian besar dilakukan melalui transaksi term repo dengan BI.

Kebutuhan likuiditas sangat tergantung dari permintaan kredit dibandingkan dengan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK). Tercermin dari LDR perbankan yang per Agustus 2019 sudah menembus 94,66% tertinggi setidaknya sejak awal tahun ini. 

"Tren suku bunga Rupiah dari sudut pandang kami masih turun, cenderung dengan suku bunga. Oleh karena itu, transaksi PUAB tenor jangka pendek (ovenight) di bawah 1 bulan akan mendominasi PUAB," ujar manajemen BNI. 

Adapun, saat ini RRH volume PUAB BNI sebesar Rp 1 triliun sampai Rp 1,5 triliun.

Di sisi lain, PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk (Bank Jatim) justru mengatakan secara historis, kebutuhan likuiditas di akhir tahun untuk BPD akan meningkat. Hal serupa juga kerap terjadi di Bank Jatim. 

Baca Juga: BI pastikan kondisi pasar uang antar bank tidak ketat

Namun, Direktur Keuangan Bank Jatim Ferdian Timur Satyagraha mengungkap bahwa Bank Jatim sudah melakukan pengelolaan portofolio pada PUAB sambil mengelola portofolio surat berharga. "Apabila dibutuhkan likuiditas, dapat dijadikan underlying untuk transaksi repo, agar kondisi likuiditas tetap terjaga," katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×