Reporter: Ammar Rezqianto | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Dana korporasi masih melimpah di industri perbankan. Kondisi ini tercermin dari pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) nasabah korporasi yang masih jauh lebih tinggi dibandingkan DPK nasabah ritel pada awal 2026.
Data Bank Indonesia (BI) menunjukkan pertumbuhan DPK perbankan pada Februari 2026 mencapai 9,2% secara tahunan atau year on year (yoy). Meski masih tumbuh positif, angka tersebut melambat dibandingkan Januari 2026 yang tercatat sebesar 10,8% (yoy).
Dari sisi segmen nasabah, DPK korporasi masih menjadi penopang utama pertumbuhan simpanan perbankan. Pada Februari 2026, DPK korporasi tumbuh sebesar 15,9% (yoy), sementara DPK perorangan hanya naik 2,4% (yoy).
Meski sama-sama mengalami perlambatan dibandingkan Januari 2026, pertumbuhan dana korporasi masih jauh lebih kuat. Sebagai perbandingan, DPK korporasi pada Januari 2026 tumbuh 18,2% (yoy), sedangkan DPK perorangan hanya 3,2% (yoy).
Baca Juga: Amartha: Pembiayaan Inklusif Berkontribusi ke Pendapatan UMKM
Berdasarkan jenis produknya, pertumbuhan simpanan korporasi paling besar terjadi pada giro yang tumbuh 19,8% (yoy). Selain itu, tabungan korporasi juga naik 19,4% (yoy), sedangkan simpanan berjangka korporasi tumbuh 10,1% (yoy).
Sejumlah bank pun mengakui bahwa dana korporasi masih mendominasi pertumbuhan simpanan di awal tahun ini. Salah satunya adalah PT Bank Oke Indonesia Tbk (OK Bank).
Direktur OK Bank, Efdinal Alamsyah, mengatakan DPK korporasi di bank tersebut tumbuh sekitar 7% pada Maret 2026 dibandingkan posisi akhir 2025.
"Sedangkan untuk simpanan individu relatif stabil, hanya mengalami pertumbuhan sangat kecil, kurang dari 1%," kata Efdinal saat dihubungi, Senin (20/4/2026).
Hal serupa juga terjadi di PT Bank KB Indonesia Tbk. Direktur Utama KB Bank, Kunardy Darma Lie, menyebut pertumbuhan DPK korporasi sejalan dengan fokus model bisnis perseroan yang memang mengandalkan pendanaan dari segmen wholesale.
Hingga Maret 2026, DPK pada segmen wholesale tumbuh 13,39% (yoy). Menurut Kunardy, pertumbuhan tersebut terutama ditopang oleh kenaikan giro korporasi dan deposito institusi.
Di sisi lain, DPK ritel di KB Bank masih mengalami kontraksi. Kunardy menilai kondisi tersebut dipengaruhi oleh perilaku nasabah ritel yang cenderung menggunakan tabungannya untuk konsumsi sehari-hari.
"Ke depan, strategi akan tetap difokuskan pada penguatan pendanaan wholesale dengan menawarkan suku bunga yang kompetitif," kata Kunardy kepada Kontan, pekan lalu.
Senior Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI), Trioksa Siahaan, menilai tren penumpukan dana korporasi di perbankan terjadi akibat siklus bisnis dan kehati-hatian dunia usaha dalam melakukan ekspansi.
Baca Juga: BTN Ungkap Tren Simpanan Kelas Menengah Bawah Mulai Pulih
Menurut Trioksa, ketidakpastian ekonomi global membuat banyak perusahaan memilih menahan belanja modal dan menjaga likuiditas. Akibatnya, dana korporasi lebih banyak mengendap di rekening bank dibandingkan diputar untuk ekspansi usaha.
"Bila daya beli dan permintaan barang meningkat maka korporasi juga akan melakukan utilisasi dananya untuk ekspansi," kata Trioksa saat dihubungi, Senin (20/4/2026).
Ia memperkirakan kondisi tersebut dapat berubah apabila situasi global membaik, inflasi tetap terkendali, dan suku bunga berada di level rendah. Dalam kondisi tersebut, dunia usaha diperkirakan akan mulai kembali meningkatkan aktivitas bisnis dan penyaluran investasi.
Pelaku pasar kini menantikan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang akan digelar pekan ini. Dalam RDG tersebut, BI akan menyampaikan perkembangan ekonomi terkini, proyeksi inflasi, serta arah kebijakan suku bunga.
Jika hasil RDG menunjukkan prospek ekonomi yang positif dan sejalan dengan ekspektasi pelaku usaha, maka perputaran dana korporasi diyakini akan kembali meningkat dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional pada paruh kedua 2026.
"Harapannya pertumbuhan ekonomi pada semester 2 nanti akan bergairah dan naik kembali," ucapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













