kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.887.000   7.000   0,24%
  • USD/IDR 16.850   -59,00   -0,35%
  • IDX 8.951   -41,17   -0,46%
  • KOMPAS100 1.235   -4,75   -0,38%
  • LQ45 874   -1,52   -0,17%
  • ISSI 329   -0,59   -0,18%
  • IDX30 449   0,67   0,15%
  • IDXHIDIV20 532   3,66   0,69%
  • IDX80 137   -0,49   -0,35%
  • IDXV30 148   1,36   0,93%
  • IDXQ30 144   0,72   0,50%

Pelaku Usaha Kembali Ekspansi, Penyaluran Kredit Investasi Perbankan Melaju Kencang


Minggu, 25 Januari 2026 / 13:49 WIB
Pelaku Usaha Kembali Ekspansi, Penyaluran Kredit Investasi Perbankan Melaju Kencang
ILUSTRASI. Penyaluran kredit investasi perbankan melonjak 20,5% akhir 2025. (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Penyaluran kredit investasi perbankan mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan pada akhir 2025, seiring dengan meningkatnya permintaan pembiayaan dari pelaku usaha.

Data Bank Indonesia (BI) mencatat, per Desember 2025 penyaluran kredit investasi tercatat tumbuh 20,5% secara tahunan atau year on year (yoy) mencapai Rp 2.506,8 triliun. Pertumbuhannya meningkat dari bulan sebelumnya sebesar 17,8% yoy mencapai Rp 2.406,0 triliun.

Ekonom Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda menilai, pemulihan kredit investasi pada penghujung 2025 didorong oleh kombinasi faktor kebijakan pemerintah dan kesiapan dunia usaha menyongsong tahun berikutnya.

Baca Juga: Paylater BCA Tumbuh Sehat hingga Akhir 2025, NPL Tetap Terjaga

“Pada Desember 2025 terlihat ada peningkatan permintaan kredit investasi yang cukup signifikan, salah satunya terkait dengan program pemerintah,” ujar Huda kepada kontan.co.id, Jumat (23/1/2026).

Ia mencontohkan, perluasan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mendorong kebutuhan pembiayaan investasi, khususnya untuk pembangunan dapur produksi, logistik, serta sarana pendukung lainnya. Kenaikan cakupan program tersebut secara langsung meningkatkan kebutuhan modal jangka panjang dari sisi pelaku usaha.

Selain faktor kebijakan, permintaan kredit investasi juga ditopang oleh meningkatnya optimisme dunia usaha. Hal ini tercermin dari Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia yang berada di zona ekspansif pada akhir 2025.

“Pelaku usaha mulai bersiap untuk ekspansi tahun depan. Ini tercermin dari permintaan kredit investasi dan juga dari indikator PMI manufaktur yang sudah kembali ekspansif,” jelas Huda.

Baca Juga: Zurich Syariah Fokus Dorong Pertumbuhan Asuransi Syariah Berkelanjutan pada 2026

Dari sisi sektoral, Huda menilai sektor-sektor yang berkaitan langsung dengan Program MBG menjadi pendorong utama pertumbuhan kredit investasi. Sektor penyediaan makanan dan minuman, logistik pendukung, hingga industri turunannya diperkirakan mencatat pertumbuhan tertinggi.

Namun demikian, ia mengingatkan bahwa pemulihan kredit investasi ini belum sepenuhnya berkelanjutan. Pasalnya, pertumbuhan masih sangat bergantung pada belanja dan program pemerintah.

“Selama MBG masih berjalan dan anggarannya besar, ekspansi usaha masih akan terjadi. Tapi pertumbuhan ini belum tentu sustain. Jika program pemerintah berakhir, maka dorongan ekspansi dari sektor tersebut juga akan berhenti,” tegasnya.

Terkait kualitas kredit, Huda menilai risiko kredit investasi relatif masih terjaga karena sebagian besar pembiayaan didukung oleh proyek dan kontrak yang jelas. Meski begitu, perbankan tetap perlu mencermati ketergantungan yang terlalu besar pada proyek pemerintah.

Baca Juga: Bank Jakarta Genjot Layanan dan Inovasi Digital

Untuk tahun ini, tren kredit investasi diperkirakan masih dipengaruhi oleh keberlanjutan program fiskal pemerintah, kondisi PMI manufaktur, serta stabilitas suku bunga. Selain itu, kepercayaan dunia usaha dan arah kebijakan ekonomi global juga menjadi katalis penting.

Ke depan, Huda menyarankan agar perbankan tidak hanya mengandalkan proyek berbasis pemerintah. Bank perlu mulai mendorong diversifikasi kredit investasi ke sektor-sektor produktif lain yang lebih berkelanjutan.

“Strateginya, bank harus lebih selektif tapi progresif, memperluas pembiayaan ke sektor manufaktur bernilai tambah, energi terbarukan, serta industri yang punya daya saing jangka panjang. Dengan begitu, pertumbuhan kredit investasi bisa lebih sehat dan tidak bergantung pada satu sumber saja,” pungkasnya.

Sejumlah perbankan juga turut mencatatkan pertumbuhan positif pada kinerja penyaluran kredit investasi. Ambil contoh, PT Bank Mandiri Tbk yang mencatatkan pertumbuhan kredit investasi yang solid hingga November 2025.

Sejalan dengan upaya mendukung program pemerintah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan daya saing industri nasional, kredit investasi Bank Mandiri tumbuh sebesar 26,3% secara tahunan.

Corporate Secretary Bank Mandiri, Adhika Vista, mengatakan pertumbuhan tersebut seiring dengan penyaluran kredit yang disesuaikan dengan kebutuhan nasabah serta penyediaan solusi pembiayaan yang tepat sasaran.

“Pertumbuhan kredit investasi ini ditopang oleh sektor-sektor yang memiliki multiplier effect tinggi terhadap perekonomian,” ujar Adhika.

Adapun sektor-sektor utama penopang pertumbuhan tersebut antara lain industri pengolahan, pengadaan listrik, gas, uap/air panas dan udara dingin, pengangkutan dan pergudangan, serta berbagai sektor produktif lainnya.

Dari sisi kualitas aset, Bank Mandiri menegaskan komitmennya untuk menjaga kualitas kredit tetap sehat. Dalam setiap penyaluran kredit, perseroan secara konsisten menerapkan prinsip kehati-hatian dengan mempertimbangkan profil risiko masing-masing sektor.

“Kami juga memperhatikan penguatan sektor hilirisasi serta pembiayaan proyek strategis nasional. Manajemen risiko yang solid menjadi landasan utama agar pertumbuhan kredit dapat berlangsung secara berkelanjutan,” jelas Adhika.

Ke depan, Bank Mandiri akan terus mendorong pertumbuhan kredit baik di segmen wholesale maupun retail. Fokus penyaluran kredit diarahkan ke sektor-sektor yang prospektif dan resilien, sejalan dengan strategi pengembangan bisnis ritel melalui pendekatan value chain berbasis ekosistem.

Upaya tersebut turut diperkuat dengan optimalisasi pemanfaatan teknologi dan digitalisasi, melalui platform Livin’ by Mandiri dan Kopra by Mandiri, serta penguatan proses operasional guna meningkatkan kualitas layanan dan pengalaman nasabah.

Sejalan, PT Bank Danamon Indonesia Tbk juga mencatat kinerja yang positif pada penyaluran kredit investasi di penghujung 2025. Hingga September 2025 Danamon telah menyalurkan kredit investasi sekitar Rp 33,5 triliun, dengan pertumbuhan hampir 30% secara tahunan.

Direktur Enterprise Banking & Financial Institution Bank Danamon Thomas Sudarma menyampaikan, faktor pendorong pertumbuhan yang sangat signifikan pada penyaluran kredit investasi yakni  utamanya berasal dari sektor industri pengolahan.

Selain manufaktur, penyaluran kredit investasi Danamon juga mengalir ke sektor perdagangan dan real estate, seiring kebutuhan pembiayaan jangka panjang untuk mendukung ekspansi usaha nasabah.

"Peningkatan kredit investasi ini didorong oleh optimisme dunia usaha terhadap stabilitas ekonomi, yang didukung oleh kebijakan pemerintah, serta kebutuhan nasabah untuk memperluas kapasitas produksi dan aktivitas bisnis," jelasnya.

Pihaknya juga melihat permintaan kredit investasi mencerminkan rencana ekspansi yang cukup kuat dari para pelaku usaha, khususnya di sektor manufaktur.

Ke depan, Danamon masih melihat peluang pertumbuhan kredit investasi tetap terbuka pada 2026. Namun, laju pertumbuhan akan disesuaikan dengan strategi perseroan serta mempertimbangkan dinamika kondisi ekonomi, baik dari sisi domestik maupun global.

“Untuk 2026, Danamon mengharapkan pertumbuhan kredit sejalan dengan target pertumbuhan kredit industri perbankan secara umum, dengan tetap mencermati berbagai faktor internal dan eksternal,” tutup Thomas. 

Tak mau kalah, Penyaluran kredit investasi PT Bank Central Asia (BCA) disebut masih terjaga hingga saat ini. Hal ini tercermin, per September 2025 kredit investasi BCA tumbuh 24% yoy menjadi Rp 305 triliun. 

EVP Corporate Communication & Social Responsibility Bank Central Asia (BCA) Hera F Haryn mengatakan, penyaluran kredit dilakukan terhadap sektor-sektor potensial dengan berbagai pertimbangan, seperti kondisi perekonomian domestik dan global, serta potensi bisnis calon debitur. 

"Hal itu sejalan dengan komitmen bank untuk menyalurkan kredit secara prudent, sekaligus mempertimbangkan prinsip kehati-hatian dengan penerapan manajemen risiko yang disiplin,” kata Hera. 

Selanjutnya: Aksi Pendaki AS Alex Honnold Mendaki Gedung Tertinggi di Taiwan Tanpa Tali

Menarik Dibaca: 5 Manfaat Rutin Minum Kopi Setiap Hari untuk Kesehatan Tubuh

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
SPT Tahunan PPh Coretax: Mitigasi, Tips dan Kertas Kerja Investing From Zero

[X]
×