Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pelemahan rupiah mulai mendorong masyarakat untuk mengamankan dana dalam mata uang lain. Hal itu terlihat dari masifnya pertumbuhan rekening simpanan valuta asing (valas) pada paruh pertama tahun ini.
Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mencatat, jumlah rekening dolar AS mencapai 16,53 juta per Juni 2026, setara 2,4% dari total rekening simpanan nasional. Dalam sebulan, jumlah ini mencerminkan pertumbuhan 85,3%. Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, pertumbuhannya bahkan mencapai 185,5%.
Sebagai perbandingan, jumlah rekening rupiah pada periode yang sama sebanyak 680,42 juta, hanya tumbuh 1,1% dalam sebulan dan 7,8% dalam setahun. Meski masih mendominasi, hasil ini menunjukkan perkembangan rekening valas jauh mengungguli rekening rupiah.
Baca Juga: Rolex, Hermès hingga Pokémon TCG Kini Jadi Jaminan, Gadai Lesca Naik 25%
Namun begitu, pertumbuhan jumlah rekening yang masif ini tak serta-merta mendorong nilai simpanan valas. Hingga pertengahan tahun ini, simpanan valas mencapai Rp 1.741,46 triliun, hanya naik 1,6% dalam sebulan dan 19,5% dalam setahun.
Menurut Chief Economist Perbanas Winang Budoyo, pertumbuhan jumlah rekening valas yang lebih pesat daripada nominal simpanannya menunjukkan bahwa pertambahan rekening banyak terjadi di segmen simpanan kecil, yakni di bawah Rp 100 juta, yang didominasi oleh nasabah ritel (individu).
Pasalnya, secara komposisi, saat ini rekening di segmen tersebut masih paling mendominasi, yakni sebanyak 689,48 juta atau setara 98,9% dari total rekening nasional.
Hal itu pula yang menjelaskan mengapa secara nominal pertumbuhannya tidak terlalu masif. “Kalau perorangan memang nominalnya lebih terbatas dibanding yang korporasi. Di sisi lain, korporasi selama ini sudah punya rekening valas. Jadi dalam bayangan saya ini yang tumbuh masif dari sisi ritel atau perorangan,” jelas Winang dalam forum di Jakarta, Kamis (30/7/2026).
Baca Juga: QRIS Tap Diperluas, Pembayaran Transportasi Publik Kian Terintegrasi
Menurutnya, fenomena ini terjadi lantaran masyarakat mulai mencari alternatif penyimpanan dana yang aman di tengah volatilitas rupiah. Maklum, rupiah sendiri sudah melemah 8,58% sejak awal tahun ke level Rp 18.111 per dolar AS pada hari ini.
“Karena rupiahnya melemah, semua itu mencari keamanan, mereka lebih banyak menyimpan uangnya dalam bentuk dolar,” sebut Winang.
Dari situ, ia melihat sebenarnya tak ada perubahan signifikan dalam hal perputaran dana di masyarakat. Hanya saja, saat ini masyarakat lebih memilih menggunakan valas untuk meningkatkan daya lindung nilai (hedging).
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














