Reporter: Ferry Saputra | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bank Indonesia (BI) dan Kementerian Keuangan bersinergi memperkuat koordinasi fiskal dan moneter untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah. Salah satu langkah jitu yang ditempuh adalah berencana meningkatkan imbal hasil investasi atau yield investasi instrumen di dalam negeri.
PT Asuransi Asei Indonesia menilai rencana pemerintah dan BI untuk meningkatkan daya tarik instrumen investasi domestik pada prinsipnya dapat memberikan peluang positif bagi industri asuransi, termasuk Asuransi Asei.
"Sebab, sebagian besar portofolio investasi perusahaan asuransi ditempatkan pada instrumen pendapatan tetap, seperti obligasi pemerintah, deposito, dan surat berharga lainnya," ujar Direktur Utama Asuransi Asei Dody Dalimunthe kepada Kontan, Senin (8/6/2026).
Berdasarkan laporan keuangan perusahaan di situs resmi, Asuransi Asei mencatatkan total investasi sebesar Rp 514,62 miliar per April 2026.
Baca Juga: Ekuitas LKM Konvensional Menurun per April 2026, Ini Penyebabnya
Didominasi investasi di instrumen deposito berjangka sebesar Rp 220,13 miliar, kemudian instrumen Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp 211,86 miliar per April 2026. Adapun Asei mencatatkan hasil investasi sebesar Rp 6,56 miliar per April 2026.
Dody menerangkan dampak positif yang akan timbul, yakni peningkatan yield instrumen domestik akan membuka peluang memperoleh hasil investasi yang lebih tinggi, terutama untuk penempatan dana baru maupun re-investasi atas instrumen yang jatuh tempo. Selain itu, imbal hasil yang lebih menarik dapat membantu meningkatkan pendapatan investasi dan memperkuat profitabilitas perusahaan.
"Ditambah, instrumen dalam negeri yang makin kompetitif berpotensi menarik aliran dana ke pasar keuangan domestik, sehingga meningkatkan likuiditas dan kedalaman pasar," tuturnya.
Meski demikian, Dody menyebut ada sejumlah dampak negatif yang berpotensi muncul. Dia bilang dampaknya, yakni jika kenaikan yield terjadi akibat peningkatan suku bunga acuan, harga obligasi yang saat ini dimiliki perusahaan berpotensi mengalami penurunan (mark-to-market loss), terutama pada instrumen berdurasi panjang.
Dampak negatif lainnya, yaitu volatilitas pasar keuangan dapat meningkat selama periode penyesuaian kebijakan sehingga memengaruhi nilai portofolio investasi jangka pendek. Selain itu, kenaikan suku bunga juga dapat memperlambat aktivitas ekonomi dan dunia usaha, yang pada akhirnya dapat berdampak terhadap pertumbuhan bisnis asuransi dan kualitas risiko tertanggung.
Secara umum, Dody menyebut bagi perusahaan asuransi yang memiliki horizon investasi jangka panjang, peningkatan yield cenderung memberikan manfaat lebih besar dibandingkan risikonya. Dengan catatan, perusahaan melakukan pengelolaan aset dan liabilitas yang prudent.
Baca Juga: BRI Perluas QRIS Cross Border BRImo ke China, Transaksi di Luar Negeri Kian Mudah
Menyikapi kebijakan itu, Dody menerangkan Asuransi Asei akan tetap menerapkan prinsip kehati-hatian dengan mengedepankan aspek keamanan, likuiditas, dan imbal hasil yang optimal sesuai profil liabilitas perusahaan.
Dody bilang perusahaan juga akan menerapkan beberapa strategi dalam mengelola investasi seiring adanya rencana tersebut. Dia mengatakan pihaknya akan melakukan penyesuaian komposisi portofolio secara bertahap untuk memanfaatkan instrumen yang menawarkan yield lebih menarik, serta memperkuat investasi pada instrumen pendapatan tetap berkualitas tinggi, terutama surat berharga negara dan obligasi korporasi dengan peringkat yang baik.
"Selain itu, menerapkan strategi duration management agar risiko perubahan suku bunga dapat dikelola secara optimal, serta menjaga diversifikasi portofolio investasi untuk mengurangi konsentrasi risiko pada instrumen atau sektor tertentu," ucapnya.
Ditambah, Asei akan memastikan kecukupan likuiditas guna mendukung pembayaran klaim dan kebutuhan operasional perusahaan, serta melakukan pemantauan secara berkala terhadap perkembangan pasar keuangan, kebijakan moneter, kondisi ekonomi domestik dan global. Dody berharap strategi tersebut dapat menjaga stabilitas hasil investasi, sekaligus memanfaatkan peluang yang muncul dari perubahan kebijakan pemerintah dan Bank Indonesia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













