CLOSE [X]
kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.602.000   -2.000   -0,08%
  • USD/IDR 17.650   23,00   0,13%
  • IDX 6.442   -99,57   -1,52%
  • KOMPAS100 848   -10,05   -1,17%
  • LQ45 643   -6,31   -0,97%
  • ISSI 223   -4,36   -1,92%
  • IDX30 358   -3,42   -0,95%
  • IDXHIDIV20 447   -3,02   -0,67%
  • IDX80 97   -0,94   -0,96%
  • IDXV30 125   -0,74   -0,59%
  • IDXQ30 115   -0,88   -0,76%

Pemerintah didorong kaji infrastructure bond


Selasa, 07 Maret 2017 / 20:39 WIB


Reporter: Galvan Yudistira | Editor: Rizki Caturini

JAKARTA. Beberapa ekonom mendorong pemerintah menciptakan instrumen investasi baru untuk membantu pendanaan infrastruktur. Salah satu instrumen investasi yang disarankan adalah infrastructure bond.

Anton Gunawan, Kepala Ekonom Bank Mandiri mengatakan, nantinya infrastructure bond ini bisa membantu menambah likuiditas terutama untuk pendanaan proyek jangka panjang.

“Jika infrastructure bond ini bisa dikeluarkan pemerintah, maka instrumen investasi ini akan cukup menarik,” ujar Anton, Senin (6/3).

Dody Arifianto, Kepala Group Risiko Perekonomian dan Sistem Keuangan LPS mengatakan, infrastructure bond ini diharapkan bisa menambah pendanaan tenor panjang khususnya infrastruktur.

“Selama ini yang menjadi kendala pendanaan infrastruktur adalah kurangnya dana tenor panjang terutama dari bank,” ujar Dody kepada KONTAN, Selasa (7/3).

Nantinya infrastructure bond ini disarankan mempunyai tenor panjang antara 15 tahun sampai 25 tahun. Imbal hasil dari infrastructure bond ini juga diperkirakan tinggi di atas 10% menyesuaikan dengan tenor.

Diharapkan infrastructure bond ini bisa membantu pendanaan kredit konstruksi khususnya infrastruktur. Secara proporsi kredit konstruksi infrastruktur ini baru sebesar 5% dari total kredit.

Rendahnya proporsi kredit konstruksi infrastruktur ini disebabkan karena perbankan masih memandang pendanaan infrastruktur masih mempunyai risiko tinggi terutama karena tenornya panjang lebih dari 10 tahun.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×