kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.954.000   50.000   1,72%
  • USD/IDR 16.853   10,00   0,06%
  • IDX 8.212   -53,08   -0,64%
  • KOMPAS100 1.158   -9,98   -0,85%
  • LQ45 830   -9,73   -1,16%
  • ISSI 295   -1,25   -0,42%
  • IDX30 432   -3,95   -0,91%
  • IDXHIDIV20 516   -4,82   -0,92%
  • IDX80 129   -1,21   -0,93%
  • IDXV30 142   -0,67   -0,47%
  • IDXQ30 139   -1,75   -1,24%

Permintaan kredit sepi, dana PEN perbankan hanya penuhi sisi suplai


Senin, 12 April 2021 / 18:37 WIB
Permintaan kredit sepi, dana PEN perbankan hanya penuhi sisi suplai
ILUSTRASI. Permintaan kredit sepi, dana PEN perbankan hanya penuhi sisi suplai.


Reporter: Laurensius Marshall Sautlan Sitanggang | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Pemerintah nampaknya masih berupaya untuk mendorong pertumbuhan kredit perbankan. Apalagi setelah penempatan dana Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) di tahun lalu berhasil mendongkrak pertumbuhan kredit bank penerima dana.

Bagaimana tidak, dari total alokasi dana sebesar Rp 66,75 triliun di Bank BUMN, Bank Pembangunan Daerah (BPD) dan Bank Syariah total penyaluran dalam bentuk kredit telah berlipat ganda mencapai Rp 328,85 triliun. 

Itu artinya, bank-bank di Tanah Air telah berhasil menyalurkan 4,85% dari total alokasi dana. Tapi sayangnya, secara industri pertumbuhan kredit masih tersendat permintaan yang melemah. 

Misalnya saja, tahun 2020 lalu kredit perbankan masih terkontraksi sebesar -2,41% secara tahunan atau year on year (yoy). Pun, data terbaru menurut Bank Indonesia (BI) mencatat kredit perbankan masih terkontraksi -2,3% yoy per Februari 2021 menjadi Rp 5.417,3 triliun. 

Baca Juga: Perkuat permodalan, berikut daftar calon bank BUKU IV

Menurut Direktur Riset CORE Indonesia Piter Abdullah sejatinya alokasi PEN belum bisa dikatakan efektif menopang kredit. "Terbukti sampai saat ini pertumbuhan kredit perbankan masih negatif, tidak mengalami kenaikan yang berarti sejak adanya penempatan dana pemerintah di perbankan," katanya kepada Kontan.co.id, Senin (12/4). 

Lagipula, sebenarnya penempatan dana tersebut hanya mengisi sisi suplai saja. Padahal, selama masa pandemi Covid-19 suplai atau pendanaan bank sudah cukup longgar. 

Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan per Februari 2021 posisi loan to deposit ratio (LDR) bank di Indonesia masih terus menurun hingga ke level 81,54%. Begitu pula dari sisi peningkatan dana pihak ketiga (DPK) yang meningkat 10,11% yoy di dua bulan pertama 2021 menjadi Rp 6.645,9 triliun. 

Indikator lain seperti AL/NCD dan alat likuid pun sangat melimpah. Semisal, total alat likuid perbankan saat ini sudah mencapai Rp 2.184 triliun dengan posisi AL/NCD sebesar 152,01%. Jauh di atas batas aman OJK sebesar 100%. "Penempatan dana pemerintah di bank memang memperbaiki sisi suplai khususnya di bank yang mendapatkan dana," lanjut Piter. 

Hanya saja, selama permintaan masih sepi tentu penyaluran kredit sulit terjadi. Lagipula di tengah pandemi, kalaupun ada permintaan kredit, risiko pun juga tak kalah tinggi. Walhasil, bank saat ini sangat hati-hati dalam menyalurkan kredit. 

Tapi, langkah tersebut diapresiasi Piter. Sebab, dalam kondisi yang serba tidak pasti Pemerintah memang harus tetap berupaya meningkatkan penyaluran kredit. Lagipula, jika tidak ada alokasi pendanaan tersebut maka bisa saja kredit perbankan turun lebih dalam. 

Baca Juga: Kredit produktif BRI tumbuh 3,8% yoy pada Februari 2021

Sementara itu, Sekretaris Perusahaan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) Aestika Oryza Gunarto bilang pemerintah memang bersiap melanjutkan program PEN tersebut dan telah menetapkan anggaran. Namun, dana tersebut utamanya akan disalurkan dalam bentuk program dukugan UMKM dan koperasi, insentif usaha, kesehatan, perlindungan usaha, hingga program prioritas. 

Bank BRI sebagai salah satu bank pelat merah menyebut, akan tetap berkomitmen dalam menyukseskan program PEN yang digagas pemerintah tersebut. Aestika juga mengamini, dari sisi pendanaan kondisi likuiditas sangat mumpuni. 

Fakta juga menunjukkan, saat ini untuk pertama kalinya dalam liam tahun, rasio menabung masyarakat terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sudah di atas 30%. Hal ini mengindikasikan masalah perbankan bukan dari sisi likuiditas tapi permintaan kredit. "Sehingga pekerjaan rumahnya adalah bagaimana upaya mendorong pemulihan ekonomi," paparnya. 

Bank nomor wahid dari segi aset ini memandang, untuk menggerakkan dan memulihkan perekonomian, langkah pemerintah sudah tepat dengan mengeluarkan berbagai stimulus yang diterima oleh masyarakat bawah, yang diberikan kepada pengusaha mikro dan kecil. Karena dengan stimulus tersebut dapat menggerakkan perekonomian, khususnya mengungkit daya beli masyarakat dan konsumsi rumah tangga. "Kedua hal tersebutlah yang menjadi faktor utama yang akan mendorong permintaan serta pertumbuhan kredit perbankan," imbuh Aestika.

Dia menilai, untuk meningkatkan permintaan kredit ada dua cara yang bisa ditempuh. Pertama, dengan memberikan pekerjaan bagi proyek padat karya seperti infrastruktur, atau insentif dalam bentuk stimulus untuk meningkatkan daya beli. 

Dari sisi kredit, ada lima sektor yang menurut perseroan yang bisa mempercepat pemulihan ekonomi. Antara lain manufaktur, pertanian, perdagangan, konstruksi serta akomodasi dan makanan/minuman. Kelima sektor ini berdasarkan data OJK memang menyumbang 60,1% pertumbuhan ekonomi nasional dan menyerap 75,4% tenaga kerja. "Lima sektor usaha tersebut patut mendapat prioritas untuk penyaluran kredit dan pemulihan ekonomi nasional," katanya. 

Baca Juga: BUMN konstruksi mencatatkan kinerja yang rapuh sepanjang tahun lalu

Sebagai informasi saja, tahun lalu BRI memperoleh penempatan dana sebesar Rp 15 triliun. Dari total dana tersebut, BRI mampu mengembangkannya dalam bentuk kredit sebesar Rp 136,7 triliun atau sembilan kali lipat alokasi dana. 

Nah, tahun ini Pemerintah melalui Kementerian Keuangan pun sudah kembali menempatkan dana PEN ke perbankan. Salah satunya ke bank-bank daerah. Setidaknya ada 22 BPD yang mendapatkan pendanaan sebesar Rp 16,45 triliun dari pemerintah. 

Targetnya, dari alokasi tersebut BPD diharap bisa menyalurkan kredit hingga tiga kali lipat atau mencapai Rp 50 triliun. Salah satu bank yang mendapat dana PEN di 2021 yakni PT BPD Sumatera Utara (Bank Sumut) sebesar Rp 1 triliun untuk jangka waktu 6 bulan ke depan. "Dana PEN telah diterima pada hari Kamis 8 April 2021," kata Sekretaris Perusahaan Bank Sumut Syahdan Siregar. 

Menurutnya, sesuai arahan pemerintah dana tersebut bakal disalurkan ke sektor-sektor produktif seperti KUR dan kredit UMKM. Dia juga menggarisbawahi, secara aturan dana PEN memang tidak diperkenankan untuk ditempatkan pada instrumen surat berharga maupun transaksi valuta asing. 

Adapun, latar belakang perseroan kembali mendapat dana PEN adalah berkat keberhasilan perseroan tahun lalu yang melampaui target pemerintah. Tahun lalu, Bank Sumut mendapatkan dana alokasi PEN senilai Rp 1 triliun dengan target leverage kredit sebesar Rp 2 triliun. "Bank Sumut berhasil menyalurkan PEN sebesar Rp 2,2 triliun kepada 20.389 debitur," ujarnya. 

Sebelumnya Bank Sumut juga optimis, tahun ini kredit bisa lebih menggeliat atau tumbuh sekitar 3,9% yoy. 

Selanjutnya: Strategi pemerintah untuk kerek pertumbuhan ekonomi di kuartal II 2021

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! [Intensive Workshop] Excel for Business Reporting

[X]
×