kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.616.000   15.000   0,58%
  • USD/IDR 18.092   9,00   0,05%
  • IDX 6.148   56,58   0,93%
  • KOMPAS100 806   9,69   1,22%
  • LQ45 615   8,17   1,35%
  • ISSI 212   1,88   0,89%
  • IDX30 346   4,71   1,38%
  • IDXHIDIV20 426   4,03   0,95%
  • IDX80 92   1,14   1,25%
  • IDXV30 116   0,74   0,64%
  • IDXQ30 111   1,46   1,34%

Pertumbuhan Pembiayaan Hijau Dibayangi Risiko Greenwashing


Kamis, 30 Juli 2026 / 11:43 WIB
Pertumbuhan Pembiayaan Hijau Dibayangi Risiko Greenwashing
ILUSTRASI. Di tengah meningkatnya pembiayaan hijau perbankan, industri keuangan diingatkan memastikan setiap proyek memenuhi prinsip keberlanjutan. (KONTAN/Baihaki)


Reporter: Yuliana Hema | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Di tengah meningkatnya pembiayaan hijau perbankan pada semester I-2026, industri keuangan diingatkan memastikan setiap proyek benar-benar memenuhi prinsip keberlanjutan dan bukan sekadar mengusung label ramah lingkungan.

Komisaris Independen PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) Lukmanul Khakim menilai keberhasilan pembiayaan hijau tidak cukup diukur dari besarnya dana yang disalurkan, tetapi juga dampak lingkungan yang dihasilkan.

"Semakin besar nilai pembiayaan hijau, semakin besar pula tanggung jawab untuk memastikan bahwa label 'hijau' benar-benar mencerminkan kualitas yang nyata," ujar Lukmanul, Rabu (29/7/2026).

Menurut Lukmanul, industri perbankan perlu mewaspadai praktik greenwashing, yakni pencitraan proyek seolah-olah ramah lingkungan, padahal manfaat keberlanjutannya tidak sesuai dengan klaim yang disampaikan kepada investor maupun masyarakat.

Baca Juga: BRI Andalkan Transformasi BRIvolution Reignite Perkuat Kinerja

"Pembiayaan hijau harus mampu membuktikan manfaat lingkungan secara nyata. Ketika klaim keberlanjutan tidak didukung bukti yang dapat diverifikasi, kepercayaan investor akan melemah," kata Lukmanul.

Data semester I-2026 menunjukkan Bank Mandiri menyalurkan pembiayaan hijau Rp173 triliun, BCA Rp123 triliun, BNI Rp78 triliun, sedangkan BRI membukukan pembiayaan berkelanjutan mencapai Rp 815,4 triliun.

Lukmanul bilang tren tersebut menjadi sinyal positif karena pembiayaan hijau mampu mempertemukan kepentingan pertumbuhan ekonomi dengan upaya pelestarian lingkungan sekaligus meningkatkan daya tarik investasi berbasis keberlanjutan di Indonesia.

Dia menambahkan tantangan industri perbankan kini bukan lagi sekadar meningkatkan nilai pembiayaan hijau, melainkan memastikan setiap proyek memenuhi standar keberlanjutan yang jelas serta dapat dipertanggungjawabkan secara independen.

Baca Juga: Penjaminan Polis Tidak Menjamin Unsur Investasi di Produk Asuransi, Ini Kata OJK

Lukmanul juga mendorong pengembangan skema blended finance, digitalisasi penilaian proyek hijau UMKM, peningkatan kompetensi analis kredit, pemanfaatan kecerdasan buatan, serta verifikasi independen terhadap proyek berlabel hijau.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU

[X]
×