kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.628.000   -10.000   -0,38%
  • USD/IDR 17.855   89,00   0,50%
  • IDX 6.385   -56,43   -0,88%
  • KOMPAS100 835   -7,46   -0,89%
  • LQ45 634   -5,96   -0,93%
  • ISSI 222   -3,01   -1,34%
  • IDX30 353   -3,37   -0,95%
  • IDXHIDIV20 440   -4,01   -0,90%
  • IDX80 95   -0,92   -0,95%
  • IDXV30 121   -0,86   -0,71%
  • IDXQ30 114   -1,28   -1,12%

Premi Asuransi Engineering Turun 14,1%, AAUI Ungkap Penyebabnya


Senin, 21 September 2026 / 20:13 WIB
Premi Asuransi Engineering Turun 14,1%, AAUI Ungkap Penyebabnya
ILUSTRASI. Data Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) mencatat, premi lini asuransi engineering atau rekayasa terkontraksi 14,1% secara tahunan (KONTAN/Fransiskus Simbolon)


Reporter: Ferry Saputra | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Data Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) mencatat, premi lini asuransi engineering atau rekayasa terkontraksi 14,1% secara tahunan atau Year on Year (YoY), menjadi sebesar Rp 2,37 triliun pada semester I-2026.

Ketua Umum AAUI Budi Herawan mengatakan terkontraksinya premi asuransi engineering pada semester I-2026 perlu dilihat dari beberapa faktor. Menurutnya, belum tepat jika penurunan tersebut langsung disimpulkan sebagai tanda bahwa pembangunan atau investasi secara keseluruhan mengalami penurunan.

Budi menyebut karakteristik asuransi engineering sangat bergantung pada proyek. Dia menjelaskan produksi premi dapat bergerak cukup besar antarperiode, tergantung pada waktu dimulainya proyek, efektivitas tender dan kontrak, nilai proyek yang diasuransikan, serta jenis proyek yang masuk ke pasar asuransi.

"Penyelesaian beberapa proyek besar pada tahun sebelumnya juga dapat menciptakan basis pembanding yang tinggi, sehingga secara tahunan terlihat terjadi kontraksi," ungkapnya kepada Kontan, Senin (21/9/2026).

Baca Juga: Suku Bunga Tinggi, Mampukah Kredit UMKM Melanjutkan Pertumbuhan?

Secara makro, Budi menilai aktivitas investasi masih cukup kuat. Dia menyampaikan investasi pada semester I-2026 tetap menunjukkan pertumbuhan, termasuk pada sektor hilirisasi.

Budi menerangkan sektor konstruksi nasional juga masih menjadi salah satu sumber pertumbuhan ekonomi. Artinya, aktivitas ekonomi yang menjadi dasar kebutuhan asuransi engineering masih tetap ada.

Meski demikian, Budi bilang efisiensi belanja pemerintah maupun perubahan kapasitas fiskal daerah dapat menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pipeline proyek tertentu, khususnya proyek yang sangat bergantung pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

Dia menyampaikan kondisi tersebut dapat berpengaruh terhadap ruang fiskal sebagian pemerintah daerah dalam menjalankan proyek baru, meskipun besarnya dampak dapat berbeda antarwilayah dan antarjenis proyek. Oleh karena itu, kontraksi premi engineering tidak semata-mata mencerminkan berhentinya aktivitas pembangunan.

Baca Juga: MK Putuskan Syarat Klaim Wajib Ada di Polis Asuransi Sejak Awal, Ini Kata Prudential

"Kemungkinan merupakan kombinasi beberapa faktor, antara lain waktu dimulainya proyek, penundaan atau penjadwalan ulang proyek, perubahan nilai dan jenis proyek, penyelesaian proyek-proyek besar pada periode sebelumnya, serta kondisi belanja pemerintah pusat dan daerah," ungkap Budi.

Sebagai informasi, data AAUI mencatat, nilai klaim lini asuransi engineering mencapai Rp 1,59 triliun pada semester I-2026, atau meningkat 78,5% secara YoY.

Adapun lini asuransi engineering berkontribusi sebesar 4,1% terhadap total premi industri asuransi umum. Secara total, asuransi umum mencatatkan premi sebesar Rp 58,19 triliun. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×