Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) sejumlah bank pelat merah mengalami penurunan pada semester I-2026. Kondisi ini menjadi sorotan di tengah langkah PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) menerbitkan instrumen modal tambahan Additional Tier 1 (AT1) untuk memperkuat struktur permodalan.
Berdasarkan data yang dihimpun, CAR Bank Mandiri turun dari 19,5% pada semester I-2025 menjadi 17,9% pada semester I-2026. CAR BNI juga menyusut dari 21,1% menjadi 18,1% pada periode yang sama.
Penurunan turut dialami PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), dengan CAR turun dari 25% menjadi 21,5%. Sementara itu, PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) mencatat perbaikan CAR dari 17,5% menjadi 20%.
Baca Juga: AAUI Sebut Tingginya Volatilitas Pasar Modal Jadi Perhatian Industri Asuransi Umum
Penerbitan instrumen AT1 oleh Bank Mandiri dan BNI menjadi salah satu langkah bank untuk memperkuat bantalan modal di tengah kebutuhan mendukung ekspansi bisnis. Namun, penerbitan instrumen tersebut tidak serta-merta menunjukkan bank sedang mengalami tekanan permodalan.
Bank Mandiri telah menerbitkan Perpetual Bond senilai US$ 750 juta yang diakui sebagai komponen modal inti tambahan pada akhir September 2026. Manajemen menyatakan dana hasil penerbitan tersebut digunakan untuk memperkuat struktur dan rasio permodalan sekaligus mendukung ekspansi usaha.
Sementara itu, BNI menyelesaikan penerbitan instrumen AT1 senilai US$ 700 juta pada April 2026 dengan tingkat imbal hasil 7,15% per tahun. Instrumen tersebut telah diperhitungkan sebagai modal inti tambahan pada akhir Mei 2026.
Ekonom CORE Indonesia, Yusuf Rendy Manilet menilai, penerbitan AT1 oleh kedua bank tersebut perlu dilihat dengan mempertimbangkan perbedaan tujuan penerbitannya.
Menurut Yusuf, penerbitan AT1 BNI juga disertai rencana pembelian kembali sebagian besar instrumen AT1 lama terbitan 2021. Karena itu, langkah BNI lebih tepat dipandang sebagai pembaruan struktur modal, sedangkan penerbitan Bank Mandiri merupakan tambahan modal baru.
“Untuk membedakan apakah penerbitan AT1 merupakan langkah antisipatif atau tanda tekanan, indikator utamanya adalah arah CAR serta perbandingan antara pertumbuhan aset berisiko dan kemampuan laba menambah modal,” ujar Yusuf kepada Kontan.co.id, Senin (19/10/2026).
Baca Juga: OJK Sebut 169 BPR/BPRS Memiliki Modal Inti di Bawah Rp 6 Miliar
Ia menjelaskan, CAR dapat menurun ketika pertumbuhan aset tertimbang menurut risiko lebih cepat dibandingkan pembentukan modal dari laba yang ditahan. Kondisi tersebut dapat terjadi ketika bank agresif menyalurkan kredit, sementara kemampuan menghasilkan modal internal tidak tumbuh secepat kebutuhan ekspansi.
Yusuf menilai, ekspansi kredit menjadi faktor dominan yang perlu dicermati. Sementara itu, kualitas aset menjadi risiko lanjutan yang dapat memperbesar kebutuhan modal apabila kenaikan kredit bermasalah mendorong peningkatan pencadangan.
Di BNI, Yusuf menyoroti pertumbuhan kredit yang mencapai 24,4% secara tahunan hingga Juni 2026, disertai peningkatan beban pencadangan sebesar 42,1% dan penurunan margin bunga bersih dari 3,83% menjadi 3,55%.
Menurutnya, kombinasi pertumbuhan kredit yang tinggi dan tekanan terhadap kemampuan menghasilkan laba dapat meningkatkan kebutuhan modal bank.
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef), M Rizal Taufikurahman, juga menilai penerbitan AT1 oleh Bank Mandiri dan BNI mencerminkan kebutuhan memperkuat modal, tetapi tidak otomatis menandakan kesulitan permodalan.
“Pembeda utamanya adalah ketahanan modal inti utama atau CET1 setelah ekspansi kredit, pencadangan, dan dividen,” kata Rizal.
Ia menjelaskan, AT1 dapat meningkatkan CAR tanpa menambah modal inti utama atau Common Equity Tier 1 (CET1). Karena itu, kenaikan CAR setelah penerbitan AT1 belum tentu mencerminkan penguatan kualitas modal inti pada tingkat yang sama.
Rizal menambahkan, strategi penguatan modal perlu mempertimbangkan keseimbangan antara ekspansi kredit, pembagian dividen, dan kemampuan bank membentuk modal dari laba ditahan. Penerbitan AT1 memang dapat menghindari dilusi kepemilikan seperti pada penerbitan saham baru, tetapi tetap menimbulkan biaya distribusi dan risiko nilai tukar karena instrumennya berdenominasi valuta asing.
Menjelang akhir 2026, kecukupan modal bank akan bergantung pada kemampuan menjaga pertumbuhan aset berisiko tetap sejalan dengan pembentukan modal internal serta mengelola risiko kredit.
Di sisi lain, KONTAN telah berupaya meminta tanggapan sejumlah bank Himbara terkait perkembangan CAR dan strategi memperkuat permodalan. Namun, hingga berita ini ditulis, bank-bank tersebut belum memberikan tanggapan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














