Reporter: Ammar Rezqianto | Editor: Noverius Laoli
Menurutnya, sentimen utama datang dari pelemahan kurs rupiah. Jika rupiah terus mengalami pelemahan, ia khawatir aksi net sell terhadap saham big banks belum akan mereda.
"Sektor perbankan itu punya korelasi yang erat dengan makro ekonomi domestik. Pelemahan kurs rupiah akan memicu offload investor asing," kata Nafan saat dihubungi, Kamis (4/6/2026).
Adapun menurut Nafan, saham BBCA dan BBRI merupakan dua emiten dengan kapitalisasi paling besar di bursa Indonesia. Sebab itu, kedua saham ini akan langsung terdampak oleh sentimen pasar, termasuk mengalami penurunan harga terdalam.
Meski harganya terus melemah, Nafan tetap merekomendasikan akumulasi saham big banks secara bertahap. Untuk target harga secara jangka panjang, Nafan menyebut BBCA di Rp 8.375 dan BBRI di Rp 3.670.
Analis Kiwoom Sekuritas Abdul Aziz Setiyo Wibowo juga optimistis saham big banks akan kembali menguat. Ia menyebut, secara teknikal, tengah terjadi fenomenal candle doji di BCA.
Candle doji adalah posisi di mana harga saham bergerak tipis antara naik dan turun harga. Jika BBCA berhasil rebound dari situasi ini,
Baca Juga: Pendanaan Fintech Lending dari Lender Asing Naik 18,28% per Maret 2026, Ini Sebabnya
Aziz menyebut investor bisa melakukan trade jangka pendek dengan target harga Rp 5.875 sampai Rp 5.900. Ia juga menyebut harga support BBCA di Rp 5.300.
Sementara untuk BBRI, Aziz menyebut harga supportnya ada di Rp 2.780. Ia bilang, ini adalah saat yang pas bagi invesor untuk mengakumulasi BBRI dengan target harga jangka pendek do Rp 3.070.
Aziz menyampaikan, saat ini harga saham big banks tengah berada di valuasi yang rendah. Ini menjadi peluang bagi investor baru yang ingin mulai mengakumulasi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













