kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.759.000   -15.000   -0,54%
  • USD/IDR 18.077   77,00   0,43%
  • IDX 5.840   -101,28   -1,70%
  • KOMPAS100 772   -13,86   -1,76%
  • LQ45 581   -8,07   -1,37%
  • ISSI 203   -2,64   -1,28%
  • IDX30 329   -5,24   -1,57%
  • IDXHIDIV20 407   -5,51   -1,34%
  • IDX80 87   -1,44   -1,63%
  • IDXV30 111   -2,14   -1,88%
  • IDXQ30 106   -1,74   -1,61%

Pendanaan Fintech Lending dari Lender Asing Naik 18,28% per Maret 2026, Ini Sebabnya


Kamis, 04 Juni 2026 / 17:25 WIB
Pendanaan Fintech Lending dari Lender Asing Naik 18,28% per Maret 2026, Ini Sebabnya
ILUSTRASI. Outstanding pendanaan industri fintech P2P lending yang berasal dari lender luar negeri mencapai Rp 14,06 triliun per Maret 2026. (KONTAN/Muradi)


Reporter: Ferry Saputra | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, outstanding pendanaan industri fintech peer to peer (P2P) lending atau pinjaman daring (pindar) yang berasal dari lender luar negeri mencapai Rp 14,06 triliun per Maret 2026. Nilainya meningkat 18,28%, jika dibandingkan periode sama tahun lalu.

Pengamat sekaligus Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda mengatakan peningkatan pendanaan dari lender luar negeri tak terlepas dari sejumlah faktor. Dia bilang salah satunya imbal hasil yang ditawarkan fintech lending.

"Dengan nilai pengembalian yang lebih tinggi dibandingkan instrumen investasi lainnya, lender dari luar negeri tertarik menanamkan uangnya ke platform pindar Indonesia," katanya kepada Kontan, Kamis (4/6/2026).

Baca Juga: Easycash Beberkan Pertimbangan Lender Asing Berinvestasi di Fintech Lending

Selain itu, Nailul beranggapan lender luar negeri juga melihat prospek dari pasar Indonesia yang menurutnya masih cukup positif. Selama masih ada credit gap, dia bilang permintaan layanan pembiayaan pindar masih cukup tinggi. 

"Mereka tampaknya juga tidak mempermasalahkan kondisi dari sisi mikronya industri pindar. Namun, bagi lender dalam negeri, pasti terpengaruh terkait kondisi mikronya," tuturnya.

Nailul juga beranggapan peningkatan tersebut disebabkan banyak lender yang berasal dari China menempatkan dana di fintech lending Indonesia. Sebab, mereka menilai prospek fintech lending di China sudah tak positif.

"Mereka akan mencari negara berkembang dengan prospek bisnis pindar yang lebih baik, salah satunya Indonesia. Di sisi lain, perbankan juga enggan menyalurkan kreditnya ke masyarakat unbankable, sehingga menjadi peluang lender asing ke Indonesia," ucap Nailul.

Ditambah, Nailul berpandangan dengan kondisi investasi Indonesia yang dinamis saat ini, lender dari luar negeri akan menjadi pilihan sumber pembiayaan yang realistis oleh platform pindar. 

Dari sisi penyelenggara, PT Amartha Mikro Fintek (Amartha) menyampaikan ada sejumlah faktor yang menjadi pertimbangan utama lender luar negeri dalam menaruh pendanaan. VP Public Relations Amartha Harumi Supit mengatakan salah satunya adalah melihat fintech lending yang menerapkan tata kelola prudent.

"Dengan demikian, Amartha juga menerapkan prinsip tata kelola dan mitigasi risiko yang ketat guna menjaga kualitas portofolio," katanya kepada Kontan, Rabu (3/6/2026).

Baca Juga: AAJI Catat Total Polis di Industri Asuransi Jiwa Meningkat 3,6% pada Kuartal I-2026

Harumi menerangkan lender luar negeri, terutama berasal dari Eropa, juga sangat fokus pada nilai-nilai keberlanjutan, seperti pemberdayaan perempuan dan pelestarian lingkungan. Dia bilang nilai itu juga yang menjadikan partner luar negeri memilih bermitra dengan Amartha.

Harumi menyampaikan Amartha yang sudah berdiri selama 16 tahun berfokus pada pemberdayaan ekonomi perempuan yang berkelanjutan di lebih dari 50.000 desa. Alhasil, itu menjadi daya tarik juga bagi lender luar negeri.

Lebih lanjut, Harumi mengatakan sejauh ini Amartha didukung lebih dari 30 lender institusi dari skala nasional maupun global. Dia menerangkan sudah ada beberapa lender institusi dari luar negeri yang bermitra dengan Amartha untuk menaruh pendanaan. Misalnya saja, International Finance Corporation (IFC), organisasi nirlaba global Accion, Women's World Banking, Norfund, Swedfund, hingga Beenext asal Singapura.

"Mereka menjadi partner institusi yang mendukung Amartha untuk menyalurkan pembiayaan ke Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) daerah," ucapnya.

Sementara itu, Harumi mengungkapkan Amartha telah melayani lebih dari 4 juta UMKM dan menyalurkan pembiayaan produktif lebih dari Rp 47 triliun sampai saat ini. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

[X]
×