kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.399.000   -1.000   -0,07%
  • USD/IDR 16.202
  • IDX 7.285   -42,48   -0,58%
  • KOMPAS100 1.135   -6,86   -0,60%
  • LQ45 913   -7,71   -0,84%
  • ISSI 218   -0,65   -0,30%
  • IDX30 454   -4,27   -0,93%
  • IDXHIDIV20 544   -4,82   -0,88%
  • IDX80 128   -0,99   -0,77%
  • IDXV30 127   -0,26   -0,20%
  • IDXQ30 153   -1,52   -0,98%

Sejumlah Perbankan Optimistis Penyaluran Kredit ke Sektor Smelter Semakin Ngegas


Senin, 20 Mei 2024 / 13:15 WIB
Sejumlah Perbankan Optimistis Penyaluran Kredit ke Sektor Smelter Semakin Ngegas
ILUSTRASI. Sejumlah perbankan optimis penyaluran kredit ke sektor smelter akan semakin ngegas di tahun ini. ANTARA FOTO/Jojon/rwa.


Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Handoyo .

KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Sejumlah perbankan optimis penyaluran kredit ke sektor smelter akan semakin ngegas di tahun ini. Hal ini seiring dengan berbagai insentif yang dicanangkan pemerintah terkait hilirisasi industri pengolahan sebagai upaya dalam menggenjot sektor tersebut agar semakin bertumbuh.

Untuk diketahui, Bank Indonesia (BI) terus memperkuat Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) untuk meningkatkan penyaluran kredit perbankan. Penguatan KLM dilakukan dengan memperluas sektor prioritas yang dapat menerima insentif tersebut.

Sektor yang diperluas untuk insentif KLM adalah sektor prioritas. Adapun cakupan sektor yang diperluas antara lain sektor penunjang hilirisasi, konstruksi, real estate, dan ekonomi kreatif. Termasuk sektor otomotif, perdagangan, Listrik-Gas-Air Bersih (LGA), dan jasa sosial. Penguatan KLM akan menambah likuiditas perbankan sebesar Rp 81 triliun. Sehingga total insentif yang telah diberikan menjadi Rp 246 triliun.

Baca Juga: Menilik Sulitnya Pendanaan Proyek Smelter Bauksit

Berdasarkan data Bank Indonesia (BI) penyaluran kredit ke industri pengolahan termasuk hilirisasi hingga smelter memang menunjukkan tren meningkat. Per Maret 2024, penyaluran kredit ke sektor ini mencapai Rp 322,7 triliun. Meningkat 15,4% secara tahunan atau year on year (YoY) dari periode sama di tahun sebelumnya yang sebesar Rp 279,7 triliun.

Adapun PT Bank Mandiri (Persero) Tbk terus memacu penyaluran kredit terhadap sektor ini. Hingga Maret 2024, Bank Mandiri telah menyalurkan kredit ke sektor smelter logam sebesar Rp 26,17 triliun, yang mayoritasnya digunakan untuk smelter nikel dan alumina.  

"Bank Mandiri sebagai agen perubahan akan terus mendukung program pemerintah, termasuk pengembangan hilirisasi logam di Indonesia. Kami melihat penyaluran kredit ke sektor ini bisa mendongkrak pertumbuhan ekonomi dan lepas dari middle income trap sehingga bisa menjadi negara maju," Teuku Ali Usman, Corporate Secretary Bank Mandiri kepada kontan.co.id, Jumat (17/5).

Terlebih, kata pria yang akrab disapa Alus ini, Bank Indonesia telah merilis Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) yang akan menambah likuiditas perbankan dalam menyalurkan kredit ke sektor-sektor hilirisasi, perumahan, pariwisata, inklusif termasuk UMKM dan KUR, serta ekonomi keuangan hijau.

Alus mengatakan, di tahun 2024 ini guidance pertumbuhan kredit Bank Mandiri secara konsolidasi berada dikisaran 13%-15% YoY, dengan pertumbuhan kredit akan difokuskan kepada sektor-sektor yang prospektif sesuai Loan Portfolio Guideline dengan tetap menjaga tingkat diversifikasi portfolio sesuai risk appetite serta tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian.

Sementara Wakil Direktur Utama PT Bank Syariah Indonesia (BSI) Bob Tyasika Ananta mengungkapkan, bahwa BSI tentu tetap memperhatikan sektor bisnis yang memberikan profit optimal dan risiko terjaga serta sesuai dengan praktik ESG. BSI pun memiliki nasabah pembiayaan smelter dengan outstanding sekitar Rp 300 miliar.

"Secara bertahap BSI akan terus mengembangkan sektor ini sesuai dengan kriteria risiko yang dimiliki bank," ujar Bob.

Baca Juga: Kementerian Investasi: Hilirisasi Dikuasai Investasi Asing

Bob juga menjelaskan, per Maret 2024, komposisi pembiayaan konsumer BSI sebesar 54% dengan nilai outstanding di atas Rp 135 triliun. Adapun pembiayaan wholesale komposisinya sekitar 27% dari total pembiayaan atau sekitar Rp 69 triliun.

Menurutnya, penyaluran pembiayaan pada segmen wholesale memang membutuhkan mitigasi risiko yang lebih kompleks serta pencadangan lebih besar dikarenakan loan sizenya. 

Senior Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Amin Nurdin menilai, prospek penyaluran kredit pada sektor smelter cukup bagus karena sudah terlihat historikalnya bank memang sudah mulai membuka diri untuk sektor smelter. Meskipun kata Amin masih pakai sindikasi karena terlalu berisiko belum sepenuhnya bisa dilepas begitu saja.

Insentif KLM juga disebut Amin bisa mendorong peningkatan kredit walaupun tidak terlalu signifikan.

"Sampai dengan akhir tahun juga diproyeksikan akan bertumbuh tapi sama seperti pertumbuhan kredit pada umumnya hanya melandai," kata Amin.

Oleh karena itu dalam menggenjot bisnis ini perbankan menurut Amin bisa melakukan promosi, juga melakukan diversifikasi usaha dengan mencoba mencari alternatif lain untuk penyalurannya.

Baca Juga: Proyek Smelter Bauksit Jalan di Tempat

Adapun Peneliti ekonomi dari Center of Economic and Law Studies (Celios)Lay Monica mengatakan,       Untuk Bank Himbara (Himpunan Bank Milik Negara) dan bank besar lokal kemungkinan besar  sudah lebih membuka diri ke sektor smelter. "Tapi saya ragu untuk bank asing," katanya.

Sementara itu, insentif KLM disebut Monica belum tentu dapat mendorong penyaluran kredit ke sektor ini, hal ini bergantung pada strategi bisnis dan risk appetite masing-masing bank. 

"Saya kira penyalurannya hingga akhir tahun ini akan meningkat khususnya dari sisi Bank Himbara. Hal ini karena dorongan politik dan kebijakan di sektor mineral," ujarnya.

Menurut Monica, perbankan perlu lebih prudent dalam menyalurkan kredit di sektor ini. Harus memahami nature dan rantai pasok calon debitur.

"Karena ini bisnis yang praktiknya bisa sangat berbeda antar perusahaan. Jadi harus lebih teliti dalam melihat kondisi internal perusahaan calon debitur," ucap Monica.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×