Reporter: Ferry Saputra | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI) sempat menyampaikan bahwa salah satu faktor yang menyebabkan pangsa asuransi syariah masih kecil karena number of seller atau tenaga pemasar di industri juga terbilang sedikit dibandingkan industri lain.
Perusahaan asuransi umum syariah PT Sinar Mas Asuransi Syariah (SMAS) menilai peran agen menjadi unsur penting dalam mendorong pertumbuhan industri asuransi syariah. Direktur Utama Asuransi Sinar Mas Syariah Daniel Armagatlie menerangkan agen bukan hanya sebagai tenaga pemasar, melainkan juga sebagai sarana edukasi.
"Salah satunya untuk meningkatkan literasi, pemahaman, dan kepercayaan masyarakat terhadap produk asuransi syariah," ungkapnya kepada Kontan, Kamis (22/10).
Baca Juga: Pengadilan Niaga Batalkan Putusan KPPU Soal Penetapan Bunga Pinjol
Namun, Daniel mengatakan strategi distribusi Sinar Mas Asuransi Syariah saat ini belum difokuskan pada keagenan, melainkan lebih didominasi multifinance, broker, perbankan, serta mitra bisnis strategis lainnya.
Meski demikian, dia bilang perusahaan akan terus melakukan penambahan agen, terutama dengan memanfaatkan sharing service dengan perusahaan induk yang sudah memiliki jaringan agen sangat besar dan tersebar di seluruh Indonesia.
Untuk jumlah agen aktif saat ini, Daniel mengatakan tercatat baru sebanyak 20 orang yang sudah memiliki lisensi dan lebih dari 100 orang yang sedang dalam proses lisensi.
Untuk meningkatkan kinerja, Daniel menerangkan pihaknya menerapkan sejumlah strategi ekspansi. Dia bilang perusahaan mengarahkan pada penguatan kerja sama dengan mitra bisnis yang sudah ada, pengembangan sumber bisnis baru, perluasan kanal distribusi, serta inovasi produk yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.
"Kami juga terus mendorong diversifikasi portofolio agar pertumbuhan tidak hanya bergantung pada lini bisnis tertentu, sekaligus memanfaatkan potensi ekosistem ekonomi syariah yang masih sangat besar," ucap Daniel.
Selain itu, Daniel bilang Sinar Mas Asuransi Syariah akan terus meningkatkan kualitas pelayanan dan pemanfaatan teknologi untuk memberikan kemudahan akses, serta meningkatkan pengalaman peserta.
Dia menyebut fokus perusahaan bukan semata-mata mengejar pertumbuhan kontribusi, melainkan memastikan pertumbuhan tersebut tetap sehat, menguntungkan, dan berkelanjutan dengan tetap mengedepankan prinsip-prinsip syariah.
Sebelumnya, Ketua Umum AASI Fauzi Arfan mengatakan jumlah agen di industri asuransi syariah sekitar 113 ribu. Dia bilang kondisi itu sebenarnya masih sangat rendah. Meski demikian, Fauzi optimistis pangsa aset asuransi syariah akan bertumbuh ke depannya, seiring bertambahnya jumlah agen dan adanya kewajiban spin off UUS.
"Pasti kami melihat kuenya yang masih kecil itu pasti akan besar. Kami punya target dalam waktu 3 tahun, termasuk setelah spin off, itu jumlah agen bisa sekitar 200 ribuan," ungkapnya.
Lebih lanjut, Fauzi menerangkan kondisi yang dialami industri asuransi syariah di Indonesia saat ini memang wajar terjadi. Dia bilang kondisi serupa juga terjadi di Malaysia 20 tahun yang lalu.
"Pengalaman dari beberapa negara tetangga, seperti Malaysia, itu 20 tahun yang lalu juga punya isu yang sama. Punya number of sellers yang masih rendah, sehingga kuenya tidak gede. Namun, ketika number of sellersnya naik signifikan, itu impact-nya sangat positif buat industri," ujar Fauzi.
Fauzi juga menilai dengan adanya spin off UUS yang terjadi, diharapkan para perusahaan memiliki visi yang sama untuk mendorong pertumbuhan industri asuransi syariah. Sebagai informasi, OJK mencatat, nilai kontribusi atau premi industri asuransi syariah mencapai Rp 15,96 triliun per Agustus 2026, atau terkontraksi 0,12% secara Year on Year (YoY).
Baca Juga: OJK Atur Lebih Rinci Penyelenggaraan Program DKPK oleh DPLK di Perubahan POJK 27/2023
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














