kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45919,51   10,20   1.12%
  • EMAS1.343.000 -0,81%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Tabungan Masyarakat Kelas Atas Semakin Gendut, Begini Kata Ekonom


Rabu, 15 Mei 2024 / 15:35 WIB
Tabungan Masyarakat Kelas Atas Semakin Gendut, Begini Kata Ekonom
ILUSTRASI. Teller menghitung uang di Bank Mega, Jakarta, Selasa (12/3/2024). KONTAN/Baihaki/12/03/2024  


Reporter: Adrianus Octaviano | Editor: Tendi Mahadi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kondisi tabungan masyarakat kelas atas tampaknya lebih mampu tumbuh kencang dibanding kelas lainnya. Ini terjadi di saat fenomena makan tabungan masih terlihat.

Jika melihat data LPS, simpanan dengan nominal di atas Rp 5 miliar naik 9,1% secara tahunan (year on year/YoY) per Maret 2024 dengan total nominal senilai Rp 4.672 triliun. Pertumbuhan ini menjadi yang paling cepat dibanding tier lainnya.

Memang, simpanan di atas 5 miliar saat ini lebih banyak didominasi oleh simpanan dari korporasi. Namun, tetap ada simpanan perorangan yang ada tier tersebut.

Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro mengungkapkan bahwa masyarakat kelompok kelas atas ini mendapat keuntungan dari dua hal dalam beberapa tahun terakhir.

Baca Juga: Hingga April 2024, BNI Sudah Salurkan KUR Rp 4,59 Triliun

Pertama, ia bilang kelompok masyarakat ini diuntungkan dengan memiliki modal yang besar. Alhasil, mereka mendapat keuntungan yang signifikan dari imbal hasil di pasar modal.

“Bisa dicek berapa return-nya per tahun, itu kan masih di atas inflation rate,” ujar Asmo.

Kedua, Asmo melihat beberapa masyarakat kelas atas ini juga berasal dari sektor komoditas. Tentu, itu terpengaruh dari harga batu bara yang juga naik dalam beberapa tahun terakhir.

Ia mencontohkan pada tahun 2021 hingga 2022, harga batu bara bisa naik hingga 200%. Sementara, penurunan yang terjadi di 2023 hingga 2024 tidak lebih besar dari kenaikan tersebut.

Baca Juga: Bank Mega Syariah Targetkan Tabungan Haji Tumbuh 10% pada Tahun 2024

Ketiga, Asmo juga berpendapat bahwa kelompok kelas atas ini mayoritas merupakan skilled labor. Artinya, kenaikan upahnya pun dinilai lebih tinggi dari tingkat inflasi.

“Kalau yang di bawah, rata-rata tadi capital-nya juga terbatas, tidak masuk di capital market, sehingga return-nya juga tidak tinggi, yang kedua juga unskilled labor dan itu yang membedakan,” tandasnya.

Selanjutnya: RUPST Ekalya Purnamasari (ELPI) Sepakat untuk Membagikan Dividen Rp 46,69 Miliar

Menarik Dibaca: BCA Kembali Gelar Gebyar BCA, Berikut Caranya Untuk Bisa Nikmati Hadiahnya

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×