Reporter: Ferry Saputra | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Asuransi Asei Indonesia menerapkan sejumlah strategi dalam mengelola risiko dan menekan rasio klaim asuransi kredit.
Direktur Utama Asuransi Asei, Dody Dalimunthe, mengatakan strateginya adalah melakukan penguatan underwriting dengan memperketat kriteria penjaminan kredit, seperti kualitas profil debitur, histori kredit, dan jaminan.
"Ditambah, menyesuaikan rate premi sesuai profil risiko," ungkapnya kepada Kontan, Selasa (6/1/2026).
Dody menyampaikan perusahaan juga melakukan pricing aktuaria yang lebih tepat dengan menggunakan model aktuaria yang lebih akurat untuk menentukan tarif premi yang mencerminkan risiko sebenarnya dari portofolio kredit.
Baca Juga: Ini Penjelasan Asei Soal Asuransi Barang Milik Negara Lewat Pooling Fund Bencana
Strategi lainnya, yakni melakukan risk sharing. Dody bilang pembagian risiko dengan pemberi kredit atau lender agar tidak sepenuhnya ditanggung oleh perusahaan asuransi saja atau mengacu pada POJK 20/2023. Selain itu, melakukan pencadangan teknis yang ketat sesuai dengan standar regulator dan ekspektasi klaim di masa depan.
"Menetapkan batasan maksimum eksposur terhadap satu debitur atau sektor tertentu untuk menghindari konsentrasi risiko, serta diversifikasi portofolio dengan mendorong pertumbuhan produk lain yang lebih stabil untuk menyeimbangkan profil risiko keseluruhan perusahaan," tuturnya.
Secara umum, Dody juga menyampaikan terdapat beberapa faktor yang mendorong tingginya rasio klaim asuransi kredit, yakni kualitas portofolio kredit yang diasuransikan mengalami stres karena pinjaman berisiko tinggi atau portofolio kredit memburuk.
Selain itu, dipengaruhi juga dinamika kondisi ekonomi makro yang dipicu faktor eksternal, seperti pertumbuhan ekonomi yang melambat, tekanan sektor pembiayaan, atau meningkatnya kredit macet yang dapat mendorong realisasi klaim lebih tinggi.
"Praktik underwriting dan pricing yang kurang memadai atau underwriting yang tidak disiplin juga dapat menyebabkan premi tidak sebanding dengan risiko yang diasumsikan," ucapnya.
Dody menambahkan, dipengaruhi juga cadangan teknis yang belum optimal, yang mana ketidakcukupan pencadangan klaim akan mendorong realisasi klaim yang lebih besar dari ekspektasi.
Terkait kinerja asuransi kredit, Dody mengatakan asuransi kredit di Asei mengalami pertumbuhan signifikan sepanjang 2025, setelah pada 2024 hampir semua bank dan lembaga pembiayaan masih menunggu karena belum sepenuhnya menyesuaikan dengan ketentuan POJK 20 tahun 2023.
Baca Juga: Asei Siapkan Langkah Mitigasi Antisipasi Potensi Kenaikan Klaim Akibat Bencana
Dia bilang Asei berkomitmen agar tertanggung dapat menerapkan risk sharing, pemisahan risiko jiwa dan risiko kredit, serta pembatasan biaya akuisisi sesuai ketentuan. Selain itu, Asei juga menerapkan sistem monitoring pertanggungan dan penanganan klaim.
Secara keseluruhan, Dody mengatakan pertumbuhan premi asuransi kredit Asei sepanjang 2025 juga diikuti dengan kenaikan rasio klaim. Adapun angka rasio klaim asuransi kredit Asei tersebut juga sejalan dengan rasio klaim di industri asuransi kredit.
"Rasio yang tinggi dipandang sebagai tekanan risiko yang signifikan, karena margin underwriting menjadi tipis dan profitabilitas berpotensi tertekan," kata Dody.
Asal tahu saja, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, pendapatan premi asuransi umum dan reasuransi pada lini usaha kredit sebesar Rp 19,67 triliun, dengan klaim sebesar Rp 16,83 triliun per Oktober 2025. Dengan demikian, rasio klaim asuransi kredit berada pada level 85,56%.
Selanjutnya: 3 Manfaat Makan Bawang Putih saat Pilek, Apa Saja?
Menarik Dibaca: 8 Mitos tentang Kolesterol yang Tidak Perlu Dipercaya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












