Reporter: Ferry Saputra | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Perusahaan asuransi umum PT Asuransi Tokio Marine Indonesia (Tokio Marine Indonesia) menilai prospek lini asuransi marine cargo masih berpeluang tumbuh positif pada 2026, meski ketidakpastian global dan dinamika geopolitik masih membayangi.
Presiden Direktur Tokio Marine Indonesia Sancoyo Setiabudi mengatakan dalam situasi global yang penuh tantangan, kebutuhan perlindungan pengiriman justru semakin penting.
“Prospek asuransi marine cargo tahun ini tetap positif di tengah ketidakpastian global dan dinamika geopolitik. Dalam kondisi seperti itu, kebutuhan perlindungan pengiriman menjadi makin penting,” ujarnya, Sabtu (28/2/2026).
Baca Juga: Multifinance Dominasi Pipeline Obligasi Awal 2026, Nilainya Rp 20,15 Triliun
Peluang dari Perdagangan Intra Asia
Sancoyo menjelaskan peluang terbesar masih berasal dari perdagangan intra Asia, khususnya kawasan Association of Southeast Asian Nations (ASEAN).
Selain itu, pengiriman domestik antarpulau di Indonesia juga dinilai tetap aktif seiring kuatnya aktivitas perdagangan nasional.
Pada 2026, Tokio Marine Indonesia menargetkan pertumbuhan premi marine cargo sekitar 8%. Perseroan menekankan fokus pada kualitas portofolio, bukan sekadar mengejar volume.
Untuk mencapai target tersebut, perusahaan akan menerapkan strategi pengelolaan risiko secara disiplin, memperkuat kerja sama dengan broker dan mitra logistik, serta meningkatkan kualitas layanan terutama proses klaim yang cepat dan transparan.
Baca Juga: Danantara Pangkas 15 Asuransi BUMN Jadi 3 Entitas, AAJI Nilai Persaingan Kian Dinamis
Kinerja 2025 Stabil
Sepanjang 2025, premi marine cargo tercatat relatif stabil meski mengalami sedikit penyesuaian dibandingkan 2024.
Kondisi tersebut dipengaruhi perubahan rute pengiriman, kenaikan biaya logistik, serta penyesuaian rantai pasok akibat dinamika geopolitik global.
Berdasarkan laporan keuangan, Tokio Marine Indonesia membukukan pendapatan premi sebesar Rp 1,90 triliun per akhir 2025, dengan klaim bruto Rp 1,13 triliun dan laba setelah pajak mencapai Rp 268,19 miliar.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













