Reporter: Ahmad Febrian | Editor: Ahmad Febrian
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri perjalanan masih menunjukkan pertumbuhan di tengah pelemahan rupiah, suku bunga yang relatif tinggi dan ketidakpastian ekonomi global. Namun, tekanan ekonomi mulai mengubah pola belanja masyarakat untuk kebutuhan perjalanan.
Doku - salah satu fintech pembayaran- mencatat, transaksi sektor travel yang diproses perusahaan tumbuh sekitar 33% sepanjang semester I-2026 dibanding periode yang sama tahun lalu. Penopang pertumbuhan tersebut antara lain perjalanan domestik dan pemulihan aktivitas wisata internasional.
VP of Business Development (Airlines & Travel) Doku, Dinus Hafis mengatakan, secara umum industri travel Indonesia masih cukup resilien menghadapi tekanan ekonomi.
"Dari data transaksi yang kami amati, permintaan terhadap perjalanan belum mengalami penurunan yang signifikan, namun pola konsumsi masyarakat berubah," kata Dinus, Selasa (18/8).
Menurut Dinus, konsumen kini lebih berhati-hati mengalokasikan pengeluaran untuk perjalanan. Konsumen semakin banyak memanfaatkan promosi, melakukan pemesanan lebih awal atau early booking, serta memilih destinasi domestik maupun regional yang lebih terjangkau.
Fleksibilitas pembayaran juga semakin menjadi pertimbangan. Konsumen antara lain memanfaatkan fasilitas cicilan kartu kredit maupun cashback melalui dompet digital untuk mengelola pengeluaran perjalanan.
Baca Juga: ASPI: Kartu Kredit Indonesia (KKI) Berpeluang Dapat Terhubung dengan Paylater
Perubahan juga terjadi dari sisi pelaku usaha. Dinus melihat fokus perusahaan travel mulai bergeser dari sekadar mengejar pertumbuhan volume transaksi menuju peningkatan efisiensi operasional dan profitabilitas.
Pelaku industri mulai memperhatikan pengelolaan arus kas, kecepatan settlement, biaya pembayaran, hingga otomatisasi rekonsiliasi. Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga operasional di tengah kenaikan biaya.
Dari portofolio transaksi Doku, transaksi domestik masih mendominasi. Khusus industri travel dan hospitality, online travel agent (OTA) menguasai sekitar 60% portofolio transaksi perusahaan pada sektor ini.
Sementara itu, transaksi cross-border terus bertumbuh sejalan dengan meningkatnya mobilitas wisatawan internasional dan kebutuhan perusahaan travel melayani pembayaran global.
Dinus memperkirakan, tantangan industri travel hingga akhir 2026 masih berasal dari ketidakpastian ekonomi global, fluktuasi nilai tukar, kenaikan biaya operasional, serta meningkatnya ekspektasi konsumen terhadap layanan digital.
Karena itu, menurut dia, pelaku industri perlu menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan efisiensi. Pengelolaan arus kas, pengendalian biaya operasional dan pemanfaatan teknologi pembayaran menjadi beberapa faktor yang perlu diperhatikan untuk menjaga profitabilitas.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














