Reporter: Surtan PH Siahaan | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
JAKARTA. Persaingan bisnis perbankan kian sengit. Kondisi tersebut sampai-sampai membuat sejumlah pelakunya kesulitan mencapai kinerja terbaik. Tengok saja performa PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) selama sembilan bulan tahun ini.
Hingga September 2012, BBNI baru menyalurkan total kredit senilai Rp 184,5 triliun atau meningkat 14,8% dibanding periode sama tahun lalu senilai Rp 160,7 triliun.
Sayangnya, loan growth bank ini lebih rendah dari loan growth bank-bank besar lain sebesar 20%-23%. Lesunya penyaluran kredit diiringi turunnya level loan to deposit ratio (LDR) dari 78,3% menjadi 76,6% year-on-year (yoy).
Analis Samuel Sekuritas, Joseph Pangaribuan menilai, penurunan rasio penyaluran kredit itu lebih karena banyak nasabah BNI melunasi pinjaman. Selain itu, BNI juga menurunkan porsi pembiayaan dalam dollar AS. "Depresiasi rupiah juga menyumbang loan growth yang rendah itu," tutur Joseph.
Tapi, BBNI berpeluang memperbaiki kinerja di 2013. Asal, BBNI mampu memaksimalkan prospek kredit pemilikan rumah (KPR) yang naik dan proyek MP3EI. Jika tidak, penyaluran kredit di tahun depan akan flat dan cenderung melandai.
Lantaran penyaluran kredit rada seret itu, analis Batavia Prosperindo Sekuritas, Andy Ferdinand bilang, perolehan laba bersih BBNI hingga kuartal III 2012 di bawah ketiga pesaingnya yaitu PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI).
Meski pertumbuhan penyaluran kredit rendah dibanding industri, tapi kata Andy, ada catatan positif BBNI yaitu turunnya non performing loan (NPL) dari 3,8% menjadi 3,4% di kuartal III 2012. Ini menunjukkan kualitas aset BBNI membaik.
Analis AAA Sekuritas, A Indrajatri menambahkan, penyaluran kredit BBNI menurun karena ketatnya persaingan industri perbankan. Soal likuiditas, BBNI justru tergolong baik. Itu nampak dari dana pihak ketiga (DPK) naik 16,8% ke Rp 238,9 triliun yoy.
Menurut dia, melambatnya penyaluran kredit terjadi secara menyeluruh. Tak hanya BBNI, penyaluran kredit BBRI juga menurun.
Indrajatri melihat, ke depan BBNI akan fokus menyalurkan kredit kelas menengah seperti KPR. Pasalnya, risiko kredit kelas menengah rendah. Dia memproyeksi, BBNI mampu meningkatkan pendapatan bunga bersih 31,1% menjadi Rp 16 triliun di 2013. Sementara laba bersih bisa naik 27,6% dari Rp 6,5 triliun mencapai Rp 8,3 triliun.
Proyeksi Joseph, laba bersih BBNI naik 7% jadi Rp 7,5 triliun di 2013. Sedangkan, pendapatan bunga bersih akan 16,13% dari Rp 15,5 triliun di tahun ini menjadi Rp 18 triliun di 2013.
Margin BBNI hanya akan naik tipis karena BNI kurang fokus dan bersaing di semua segmen. "Jika bisa dapat margin tinggi penyebabnya lantaran kinerja bukan dari pengaruh bunga dan efisiensi perusahaan," papar dia.
Joseph merekomendasikan beli saham BBNI karena valuasi harganya masih murah ketimbang rata-rata industri. Ia menargetkan harga BBNI di Rp 5.000 mencerminkan price to book value (PBV) 1,7 kali di 2013. Indrajatri dan Andy juga merekomendasikan beli saham BBNI dengan target harga masing-masing Rp 4.900 dan Rp 4.650 di 2013.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













