kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.021.000   -21.000   -0,69%
  • USD/IDR 16.974   58,00   0,34%
  • IDX 7.137   -224,90   -3,05%
  • KOMPAS100 989   -32,34   -3,17%
  • LQ45 728   -22,86   -3,04%
  • ISSI 249   -9,93   -3,83%
  • IDX30 392   -8,64   -2,16%
  • IDXHIDIV20 487   -9,80   -1,97%
  • IDX80 111   -3,58   -3,12%
  • IDXV30 132   -2,45   -1,82%
  • IDXQ30 127   -2,57   -1,99%

Ada Konflik Timur Tengah, Asei Memperkirakan Tarif Premi War Risk Berpotensi Naik


Jumat, 13 Maret 2026 / 14:51 WIB
Ada Konflik Timur Tengah, Asei Memperkirakan Tarif Premi War Risk Berpotensi Naik
ILUSTRASI. PT Asuransi Asei Indonesia menilai tarif premi war risk atau risiko perang yang terdapat dalam asuransi marine cargo di Indonesia berpotensi naik. (KONTAN/Arif Ferdianto)


Reporter: Ferry Saputra | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Konflik yang terjadi di wilayah Timur Tengah akibat perang Iran dan Amerika Serikat (AS)-Israel membuat risiko lini bisnis pengangkutan menjadi tinggi. Seiring adanya konflik tersebut, PT Asuransi Asei Indonesia menilai tarif premi war risk atau risiko perang yang terdapat dalam asuransi marine cargo di Indonesia berpotensi meningkat jika pasar global meningkat. 

"Tren kenaikan war risk premi di pasar global bisa ikut mempengaruhi harga polis di Indonesia, tergantung kondisi risiko dan penilaian underwriting internal," ucap Direktur Utama Asuransi Asei Dody Dalimunthe kepada Kontan, Jumat (13/3/2026).

Secara industri, Dody menjelaskan eskalasi risiko di Timur Tengah memang dapat memicu kenaikan marine war risk secara global, yang mana pasar internasional telah melihat tarif war risk yang menguat signifikan pada area konflik. Namun, dia bilang penyesuaian tarif itu bersifat makro level, sedangkan perusahaan asuransi lokal cenderung menyesuaikan tarif berdasarkan penilaian risiko berdasarkan suatu kondisi atau case by case.

Baca Juga: Industri Asuransi Umum Bangkit pada 2025, Laba Tembus Rp 15,82 Triliun

"Adapun underwriter Asuransi Asei menilai risiko berdasarkan perjalanan atau underwriting per kontrak pengangkutan atau tertanggung, bukan menetapkan satu tarif tunggal untuk semua rute," katanya.

Sejauh ini, Dody menyebut Asuransi Asei belum melakukan penyesuaian tarif spesifik untuk rute berisiko, seperti Selat Hormuz.

Dody menjelaskan industri asuransi marine global pada prinsipnya menyesuaikan tarif premi untuk wilayah berisiko tinggi setelah adanya eskalasi konflik. Untuk rute perjalanan pengangkutan normal atau tidak termasuk area konflik, premi war risk relatif sangat rendah. 

"Namun, bagi wilayah konflik Timur Tengah atau sekitar Selat Hormuz, premi tersebut umumnya meningkat minimal dua kali lipat di tengah eskalasi berkepanjangan. Bahkan di beberapa insiden ekstrem, premi untuk transit konflik bisa lebih besar lagi dibanding rute standar," tuturnya.

Dody menuturkan perusahaan terkadang menetapkan tambahan surcharges atau biaya tambahan yang memang diminta oleh shipping line sebagai war/strife surcharges untuk pengiriman kontainer di wilayah konflik sampai beberapa ribu US$ per kontainer. Meskipun hal itu bukan angka premi polis asuransi, tetapi mencerminkan tekanan biaya risiko di rantai distribusi.

Baca Juga: Jelang Mudik Lebaran, Permintaan Asuransi Kendaraan Zurich Meningkat

Sementara itu, Dody menyampaikan portofolio asuransi marine cargo Asei untuk rute Timur Tengah tidak terlalu signifikan. Dengan demikian, secara eksposur juga tidak terlalu tinggi. Dia bilang secara data industri asuransi, perusahaan asuransi umum cenderung melaporkan portofolio marine cargo secara agregat, bukan per rute perjalanan. 

"Adapun eksposur ke rute konflik diukur sebagai bagian dari policy exposure global dan biasanya ditandai dalam risk register internal, dan belum membedakan volume atau limit pertanggungan berdasar rute navigasi," ucapnya.

Dody menerangkan banyak perusahaan asuransi di Indonesia cenderung menghindari underwriting langsung terhadap risiko tinggi di zona konflik, termasuk Timur Tengah, atau membatasi limit dan menerapkan seleksi risiko yang sangat ketat. Di beberapa kasus, dia menyebut perusahaan malah memfokuskan underwriting pada perdagangan domestik atau rute yang lebih aman untuk mengelola risiko portofolio.

Berdasarkan laporan keuangan di situs resmi perusahaan, Asei membukukan pendapatan premi sebesar Rp 674,17 miliar per akhir 2025. Adapun aset perusahaan tercatat sebesar Rp 2,69 triliun dan ekuitas sebesar Rp 361,26 miliar per akhir 2025. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Financial Statement in Action

[X]
×