Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah mulai menjadi perhatian sektor perbankan nasional karena berpotensi memicu volatilitas pasar keuangan dan memengaruhi likuiditas valuta asing (valas).
Global Markets Economist Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto pun mengamini, ketegangan geopolitik di Timur Tengah dinilai mulai memberi dampak pada dinamika likuiditas valas di dalam negeri. Kondisi ini dipicu oleh aksi investor global yang melakukan penarikan dana dari pasar keuangan Indonesia di tengah meningkatnya ketidakpastian global.
Menurutnya, permintaan valas belakangan ini dipengaruhi oleh pelaku pasar yang melakukan aksi profit taking sekaligus langkah risk averse dengan menarik dana dari pasar keuangan Indonesia.
“Permintaan valas dipengaruhi oleh pihak-pihak yang ingin melakukan profit taking dari pasar keuangan Indonesia. Ada juga yang keluar dari pasar untuk melakukan aksi risk averse, sehingga tentu mempengaruhi posisi likuiditas valas di dalam negeri,” ujarnya kepada Kontan.co.id, Kamis (5/3/2026).
Menurut Myrdal, besarnya aliran valas yang keluar dari sistem keuangan domestik sangat bergantung pada perkembangan kondisi global, khususnya tensi geopolitik yang saat ini menjadi perhatian pelaku pasar.
Baca Juga: Kurs Jual Dolar AS di BCA Tembus Rp 17.000, Bank Fokus Jaga Risiko Valas
Selain faktor geopolitik, perubahan pandangan terhadap prospek ekonomi Indonesia juga sempat menjadi sorotan, termasuk outlook rating terbaru dari Fitch Ratings. Namun demikian, ia menilai dampaknya terhadap pasar keuangan domestik cenderung bersifat sementara.
“Untuk perubahan outlook rating dari Fitch kelihatannya pengaruhnya hanya temporary saja, tidak untuk jangka panjang, mungkin tidak lebih dari satu minggu,” jelasnya.
Di tengah volatilitas nilai tukar, Myrdal melihat transaksi valas di sektor perbankan juga mengalami perubahan. Permintaan lindung nilai atau hedging meningkat, terutama dari kalangan importir yang ingin mengantisipasi risiko pelemahan rupiah.
Sebaliknya, dari sisi suplai valas, eksportir tetap menjadi kontributor utama bagi likuiditas valas di dalam negeri. Terlebih jika harga komoditas global mengalami kenaikan.
Ia mencontohkan, apabila harga komoditas seperti batu bara dan kelapa sawit meningkat, maka arus valas dari eksportir komoditas berpotensi meningkat dan memperkuat likuiditas valas domestik.
“Kalau harga komoditas global naik, seperti batu bara atau CPO, tentu akan memberikan flow yang lebih besar ke likuiditas valas domestik,” katanya.
Untuk menjaga kecukupan likuiditas valas di tengah ketidakpastian global, Myrdal menilai perbankan perlu memperkuat strategi penghimpunan dana valas. Salah satunya dengan menawarkan produk perbankan valas yang lebih menarik kepada nasabah.
Baca Juga: Bank Swasta Atur Strategi Menghadapi Persaingan Bunga Deposito Valas
Menurutnya, upaya pendalaman pasar keuangan (financial market deepening) juga penting agar instrumen dan produk valas semakin beragam sehingga dapat menarik lebih banyak likuiditas ke dalam sistem perbankan.
Selain itu, bank juga disarankan menyiapkan buffer likuiditas guna mengantisipasi potensi arus keluar dana secara besar-besaran jika tensi geopolitik meningkat.
Di sisi lain, perbankan juga perlu lebih aktif menggali sumber suplai valas dari eksportir, khususnya eksportir komoditas yang memperoleh pendapatan dalam mata uang asing.
Sementara bagi nasabah importir, bank dapat mendorong penggunaan instrumen lindung nilai untuk mengurangi risiko volatilitas nilai tukar di tengah ketidakpastian global.
Meski demikian, sejumlah bank memastikan kondisi likuiditas valas saat ini masih terjaga dengan baik.
Corporate Secretary Bank Negara Indonesia (BNI), Okki Rushartomo mengatakan perseroan terus memantau dinamika geopolitik global serta potensi dampaknya terhadap stabilitas pasar keuangan.
Menurutnya, ketegangan global memang dapat memengaruhi sentimen pasar dan pergerakan nilai tukar. Namun, sistem keuangan domestik masih ditopang oleh fundamental ekonomi yang kuat serta koordinasi kebijakan antara otoritas moneter dan fiskal.
Baca Juga: Risiko Tekanan Geopolitik ke Perbankan, OJK: Kita Sudah Pernah Krisis
“Dalam menghadapi ketidakpastian global, BNI menerapkan pengelolaan risiko secara disiplin dan terukur, termasuk melalui prinsip kehati-hatian dalam penyaluran kredit serta pengelolaan portofolio yang terdiversifikasi,” ujarnya.
Ia menambahkan, BNI juga terus memantau likuiditas secara berkelanjutan guna memastikan kemampuan bank dalam memenuhi kebutuhan pendanaan nasabah tetap terjaga. Selain itu, pengelolaan eksposur valuta asing dilakukan secara prudent sesuai dengan ketentuan regulator.
“Melalui pengelolaan likuiditas yang terjaga serta manajemen risiko yang konsisten, BNI optimistis dapat menjaga stabilitas operasional dan mendukung aktivitas bisnis nasabah, termasuk yang memiliki kegiatan usaha lintas negara,” tambahnya.
Senada, Direktur Utama KB Bank Indonesia, Kunardy Darma Lie menilai kondisi likuiditas valas perbankan nasional hingga saat ini masih berada pada level yang memadai.
Menurutnya, stabilitas tersebut didukung oleh kebijakan moneter yang prudent dari Bank Indonesia serta posisi cadangan devisa yang relatif kuat.
“Meskipun konflik geopolitik di Timur Tengah meningkatkan kewaspadaan pasar, hingga saat ini belum terlihat tekanan signifikan terhadap likuiditas valas domestik,” ujarnya.
Kunardy menambahkan, permintaan dolar Amerika Serikat (AS) dari nasabah korporasi mulai menunjukkan peningkatan secara selektif, terutama untuk kebutuhan impor serta pembayaran kewajiban luar negeri. Sementara itu, permintaan dari nasabah individu masih relatif stabil.
Baca Juga: Kredit Bermasalah Naik Januari 2026, Perbankan Waspadai Risiko Geopolitik
Dari sisi transaksi, aktivitas pembelian dolar AS dan transaksi valas memang mengalami kenaikan moderat dibandingkan periode sebelumnya, meski masih dalam batas yang dapat dikelola oleh perbankan.
Ia juga melihat Dana Pihak Ketiga (DPK) valas menunjukkan tren stabil dengan kecenderungan meningkat tipis. Hal ini sejalan dengan preferensi sebagian nasabah yang mulai melakukan diversifikasi penempatan dana dalam mata uang dolar AS.
Selain itu, minat terhadap transaksi lindung nilai atau hedging juga meningkat, terutama dari pelaku usaha yang memiliki eksposur impor atau kewajiban dalam mata uang asing.
Untuk mengantisipasi potensi volatilitas pasar, KB Bank menjaga buffer likuiditas dolar AS pada level yang prudent, memperkuat monitoring arus kas valas, serta memastikan rasio likuiditas tetap berada di atas ketentuan regulator.
“Dengan langkah tersebut, likuiditas valas saat ini tetap solid dan mampu mengantisipasi dinamika pasar global,” jelas Kunardy.
Sementara itu, Presiden Direktur CIMB Niaga, Lani Darmawan mengatakan pihaknya masih melakukan pemantauan terhadap perkembangan pasar seiring meningkatnya tensi geopolitik global.
Menurutnya, hingga saat ini bank belum melihat adanya anomali atau perubahan signifikan dalam transaksi valas.
“Kita monitor bersama. Namun saat ini kami belum melihat irregularities dari transaksi valas. Bank sedang melakukan assessment terhadap dampak berdasarkan perkembangan terakhir,” kata Lani.
Dilihat dari data Bank Indonesia (BI) per Januari 2025, penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) valas perbankan hanya tumbuh 4,9% secara tahunan atau year on year (yoy) mencapai Rp 1.374,6 triliun, padahal di Desember 2025 masih tumbuh 5,5% yoy mencapai Rp 1.338,1 triliun.
Baca Juga: Mewaspadai Efek Ketegangan Geopolitik Global Terhadap Industri Perbankan
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













