kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.651.000   11.000   0,42%
  • USD/IDR 17.981   -32,00   -0,18%
  • IDX 5.876   131,22   2,28%
  • KOMPAS100 765   20,79   2,79%
  • LQ45 582   16,29   2,88%
  • ISSI 204   4,37   2,19%
  • IDX30 329   8,59   2,68%
  • IDXHIDIV20 406   11,61   2,94%
  • IDX80 87   2,30   2,72%
  • IDXV30 110   2,89   2,69%
  • IDXQ30 106   3,06   2,97%

AFTECH: Asuransi yang tak garap insurtech bisa alami penurunan pendapatan


Kamis, 05 Desember 2019 / 19:38 WIB
ILUSTRASI. Ilustrasi asuransi. Kehadiran insurtech dinilai kaan menjadi masa depan perusahaan asuransi ke depannya. KONTAN/Muradi/2017/01/19


Reporter: Maizal Walfajri | Editor: Tendi Mahadi

Market outlook pertumbuhan premi asuransi jiwa Indonesia tumbuh 13% menjadi Rp 243 triliun pada 2020. Adapun pertumbuhan premi asuransi umum 10% menjadi Rp 81 triliun pada 2020,” tambah Herman.

Kunci pertumbuhan premi asuransi jiwa didukung oleh rendahnya penetrasi yang baru 2,3% dari pendapatan domestik bruto. Padahal konsumsi tinggi dan adanya kenaikan masyarakat kelas menengah. Selain itu untuk produk syariah dan mikro masih memiliki ceruk pasar yang besar.

Sedangkan untuk asuransi umum ikut tertopang dengan berbagai paket kebijakan seperti asuransi bencana, properti milik aset negara, dan program kementerian kelautan dan perikanan, serta asuransi ekspor minyak sawit dan batubara.

Baca Juga: Asuransi Jasindo gandeng Bank Victoria kembangkan bisnis bank garansi

Herman menyatakan pemain insurtech di Indonesia seperti PasarPolis, Cermati, Fuse, dan Futuready. Bahkan Ia bilang lewat insurtech maka cakupan perlindungan asuransi bisa lebih luas lagi seperti asuransi kebakaran hutan dan polusi.

Bahkan Ia menyatakan konsep insurtech dapat menerapkan asuransi terkustomisasi yakni harga polis disesuaikan dengan karakteristik tertanggung. Namun hal ini membutuhkan analisis big data.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×