kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45736,73   34,31   4.88%
  • EMAS931.000 -0,32%
  • RD.SAHAM -0.69%
  • RD.CAMPURAN -0.34%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

AFTECH: Asuransi yang tak garap insurtech bisa alami penurunan pendapatan


Kamis, 05 Desember 2019 / 19:38 WIB
AFTECH: Asuransi yang tak garap insurtech bisa alami penurunan pendapatan
ILUSTRASI. Ilustrasi asuransi. Kehadiran insurtech dinilai kaan menjadi masa depan perusahaan asuransi ke depannya. KONTAN/Muradi/2017/01/19

Reporter: Maizal Walfajri | Editor: Tendi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kehadiran insurtech menjadi masa depan perusahaan asuransi ke depannya. Herman Huang dari Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH) menyatakan berdasarkan survei internasional bahwa 50% perusahaan asuransi yang established merencanakan untuk menambah sektor insurtech atau melakukan diversifikasi.

“Selain itu 86% asuransi bila tidak menggarap insurtech maka akan mengalami penurunan pendapatan. Kehadiran digital insurance technology diharapkan mampu berkontribusi menambah sekitar 2% hingga 3% pertumbuhan industri asuransi konvensional,” dalam Seminar Potensi Disrupsi Insurtech dalam Industri Asuransi di Indonesia di Kampus UGM Jakarta pada Kamis (5/12).

Baca Juga: Godok aturan main insurtech, ini yang akan bakal diatur OJK

Ia menyatakan saat ini pertumbuhan asuransi konvensional peningkatannya sekitar 9% hingga 11% dalam setahun. Ia melanjutkan, insurtech memungkinkan perusahaan asuransi untuk secara langsung menjangkau end user.

Sayangnya, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagai regulator belum memiliki regulasi khusus terkait insurtech. Padahal aturan ini diperlukan menuju inklusi asuransi. Padahal Indonesia memiliki prospek pasar yang menjanjikan.

Ia bilang aturan yang diatur nantinya sebaiknya tidak hanya mengenai saluran penjualan premi saja. Tapi juga meliputi penerapan blockchain, artificial intelligence, analisis data dan Internet of Things (IOT).

Baca Juga: WanaArtha Life resmi masuki bisnis DPLK

Lantaran hal ini akan membuat efisiensi misalnya pembayaran polis dilakukan melalui payment channel. Sedangkan dalam proses klaim dalam syarat tertentu bisa langsung mendapat bayaran. Dan ini sudah terjadi di beberapa negara.

Market outlook pertumbuhan premi asuransi jiwa Indonesia tumbuh 13% menjadi Rp 243 triliun pada 2020. Adapun pertumbuhan premi asuransi umum 10% menjadi Rp 81 triliun pada 2020,” tambah Herman.

Kunci pertumbuhan premi asuransi jiwa didukung oleh rendahnya penetrasi yang baru 2,3% dari pendapatan domestik bruto. Padahal konsumsi tinggi dan adanya kenaikan masyarakat kelas menengah. Selain itu untuk produk syariah dan mikro masih memiliki ceruk pasar yang besar.

Sedangkan untuk asuransi umum ikut tertopang dengan berbagai paket kebijakan seperti asuransi bencana, properti milik aset negara, dan program kementerian kelautan dan perikanan, serta asuransi ekspor minyak sawit dan batubara.

Baca Juga: Asuransi Jasindo gandeng Bank Victoria kembangkan bisnis bank garansi

Herman menyatakan pemain insurtech di Indonesia seperti PasarPolis, Cermati, Fuse, dan Futuready. Bahkan Ia bilang lewat insurtech maka cakupan perlindungan asuransi bisa lebih luas lagi seperti asuransi kebakaran hutan dan polusi.

Bahkan Ia menyatakan konsep insurtech dapat menerapkan asuransi terkustomisasi yakni harga polis disesuaikan dengan karakteristik tertanggung. Namun hal ini membutuhkan analisis big data.




TERBARU

Close [X]
×