Reporter: Fahriyadi | Editor: Fahriyadi .
KONTAN.CO.ID - JAKARTA - Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH) menggelar Rapat Umum Anggota (RUA) 2026 sebagai forum organisasi tertinggi sesuai Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) di Soehana Hall, kawasan SCBD, Jakarta, Selasa (12/5/2026) lalu.
RUA kali ini mengemban dua agenda utama yaitu persetujuan dan pengesahan laporan pertanggungjawaban tahun 2025 dan laporan keuangan 2025, serta persetujuan rencana program kerja tahun 2026 dan anggaran AFTECH tahun 2026. Hadir dalam forum ini para pemimpin regulator dan pemangku kepentingan strategis nasional, mencerminkan posisi AFTECH sebagai mitra pemerintah yang semakin dipercaya dalam mendorong transformasi keuangan digital Indonesia.
Baca Juga: Aftech Rilis Kerangka Klasifikasi Aset Digital, Kunci Pengembangan Tokenisasi
Ketua Umum AFTECH, Pandu Sjahrir menyampaikan pesan yang lugas bahwa Indonesia butuh lebih banyak tech champions, dan tugas industri fintech adalah membangun ekosistem yang memungkinkan mereka lahir dan tumbuh. Namun, Pandu mengingatkan, ambisi melahirkan lebih banyak tech champions Indonesia tidak bisa dipisahkan dari komitmen terhadap tata kelola yang bertanggung jawab.
AFTECH menegaskan bahwa responsible innovation dan good governance bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Bukan hambatan bagi inovasi, tetapi justru fondasi yang memungkinkan inovasi bertahan dan berdampak jangka panjang.
Pandu juga menegaskan bahwa optimisme itu bukan tanpa dasar. Ekosistem fintech Indonesia kini tengah memasuki babak baru yang ditandai oleh pencapaian nyata. Perusahaan-perusahaan digital besar yang beroperasi di Indonesia, kini satu per satu mencatatkan profitabilitas setelah bertahun-tahun membangun fondasi. Ini adalah sinyal kuat bahwa model bisnis fintech dan ekonomi digital Indonesia sudah terbukti sustainable di skala besar.
“Setelah lebih dari satu dekade perjalanan, AFTECH juga mengakui tantangan struktural yang masih harus diselesaikan bersama: ekosistem keuangan digital Indonesia yang masih terlalu terfragmentasi, bergerak masing-masing, sementara tantangan yang dihadapi justru semakin besar dan kompleks. Kalau kita ingin industri ini naik kelas, maka seluruh pemangku kepentingan,termasuk pelaku usaha harus step up. Integrate. Collaborate. Move faster. Kita membangun industri yang tidak hanya tumbuh cepat, tetapi tumbuh dengan cara yang dipercaya dan memberi dampak nyata bagi sektor riil Indonesia,” ungkap Pandu dalam keterangan resminya di Jakarta, Selasa (19/5/2026).
Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi dalam sambutannya memaparkan bahwa ekosistem Inovasi Teknologi Sektor Keuangan (ITSK) yang dinaungi AFTECH telah tumbuh menjadi kekuatan yang semakin relevan: 208 perusahaan anggota, 17,17 juta pengguna Penyelenggara Agregasi Jasa Keuangan (PAJK), 77,32 juta hit Pemeringkat Kredit Alternatif (PKA) serta Rp 2,11 triliun transaksi yang difasilitasi PAJK. Angka-angka tersebut mencerminkan meningkatnya kepercayaan publik serta kemampuan industri menjangkau segmen underserved dan kebutuhan riil UMKM.
Friderica secara khusus menyebut AFTECH sebagai rumah bersama bagi pelaku ITSK yang beragam dan lintas model bisnis. Sebuah pengakuan yang menegaskan peran sentral asosiasi ini tidak hanya sebagai representasi industri, tetapi sebagai institusi yang diharapkan mampu membentuk standar dan karakter industri secara keseluruhan. Dari rumah yang kuat, harapannya, lahir industri yang terpercaya.
“Pertumbuhan tersebut baru memiliki makna jika dibangun di atas fondasi yang benar. Saya menitipkan tiga arahan untuk memperkuat kontribusi AFTECH dan industri ITSK bagi Indonesia. Pertama, memperkuat inklusi, tetapi inklusi yang bertanggung jawab. Kedua, bangun kepercayaan dengan mengutamakan integritas dan tata kelola. Ketiga, seimbangkan inovasi dan regulasi. Regulasi kami tidak memadamkan inovasi yang dilakukan, tetapi justru menyeimbangkan inovasi, faktor bisnis dan pelindungan terhadap konsumen,” ungkap dia.
Fintech sebagai Penggerak Indonesia Emas
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/ Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Rachmat Pambudy, mengaku bersyukur, karena fintech menjadi fasilitator agenda transformasi digital dan arah kebijakan sektor keuangan, melalui akses pembiayaan, alternatif sumber pembiayaan, serta meningkatkan efisiensi transaksi melalui digitalisasi aktivitas ekonomi.
“Kita perlu mendorong fintech untuk membantu mewujudkan Indonesia Emas, sesuai arahan Bapak Presiden Prabowo Subianto. Kalau kami tidak percaya fintech, tidak percaya AFTECH, kita tidak bisa tumbuh lebih cepat, kita tidak bisa tumbuh lebih tinggi, kita tidak bisa tumbuh lebih merata,” ujar Rachmat.
Sementara itu, Wakil Menteri Keuangan Juda Agung, menegaskan pentingnya menjaga kepercayaan masyarakat terhadap layanan keuangan digital sebagai prasyarat pertumbuhan yang berkelanjutan.
Ia menaruh harapan besar pada AFTECH untuk tidak hanya menjadi representasi industri, tetapi menjadi penjaga kepercayaan publik, sebuah peran yang hanya bisa diemban oleh asosiasi yang benar-benar berfungsi sebagai rumah yang kuat bagi seluruh ekosistem fintech nasional. Kepercayaan, tegasnya, adalah aset industri yang paling rapuh sekaligus paling berharga, dan AFTECH berada di posisi yang paling strategis untuk merawatnya.
Ia mengajak seluruh pelaku industri fintech menjadi mitra strategis pemerintah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif, merata, dan berkelanjutan. Ia juga meminta AFTECH menjadi garda terdepan dalam memperkuat transparansi dan penegakan kode etik industri, termasuk pentingnya keterbukaan informasi dan perlindungan konsumen.
"Saya ingin mengajak kita untuk membuat lari fintech Indonesia tidak hanya cepat, tetapi juga aman dan berdampak. Industri fintech harus mampu menjaga kepercayaan publik di tengah pertumbuhan ekonomi nasional yang terus menguat," pesan Juda.
Selain Friderica, Rachmat dan Juda, RUA juga turut dihadiri oleh Ketua Dewan Audit OJK, Sophia Wattimena dan Kepala Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran Bank Indonesia, Ryan Rizaldy. Dalam rangkaian RUA ini, juga dilakukan penandatanganan Nota Kesepahaman antara AFTECH dan Hong Kong Web3.0 Standardization Association, sebuah komitmen bersama untuk memperkuat kolaborasi internasional dalam pengembangan ekosistem keuangan digital dan Web3.
Forum RUA AFTECH 2026 yang dihadiri oleh sebanyak 144 perusahaan anggota AFTECH ini berjalan lancar, dan menghasilkan keputusan bulat atas seluruh agenda yang ditetapkan, meliputi pengesahan laporan pertanggungjawaban dan laporan keuangan tahun 2025, serta persetujuan rencana program kerja dan anggaran AFTECH tahun 2026. Seluruh capaian dan agenda ini bergerak di bawah satu tema kerja yang menjadi kompas AFTECH sepanjang tahun 2026, yakni “Menguatkan Tata Kelola, Menjaga Kepercayaan, dan Menata Arah Kebijakan Masa Depan Industri Fintech Indonesia”.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













