Reporter: Ferry Saputra | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Asosiasi Perusahaan Penjaminan Indonesia (Asippindo) menilai adanya dinamika perekonomian dapat mendorong sebagian perusahaan penjaminan untuk meningkatkan porsi penjaminan konsumtif, khususnya segmen Aparatur Sipil Negara (ASN), TNI, dan Polri.
Secara rasional, Sekretaris Jenderal Asippindo, Agus Supriadi mengatakan profil risiko konsumtif segmen ASN lebih terukur karena adanya mekanisme pemotongan gaji langsung, serta proses penjaminan ke segmen tersebut lebih efisien dengan waktu analisis lebih singkat.
"Ditambah, beban permodalan untuk risiko konsumtif ASN umumnya lebih rendah," katanya kepada Kontan, Minggu (31/5/2026).
Namun, Agus memperkirakan pengalihan fokus secara masif ke sektor konsumtif tidak akan dilakukan industri penjaminan karena adanya mandat kelembagaan. Dia menjelaskan perusahaan penjaminan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) memiliki mandat utama untuk mendorong pembiayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), serta sektor produktif.
Baca Juga: Nilai Imbal Jasa Penjaminan Membaik, Ini Penjelasan Asippindo
"Selain itu, adanya aspek profitabilitas. Dalam hal tersebut, margin premi penjaminan konsumtif relatif lebih rendah dibandingkan produktif," tuturnya.
Lebih lanjut, Agus menyampaikan industri penjaminan perlu menerapkan sejumlah strategi guna menjaga kinerja tetap terjaga. Dia mengatakan strategi yang akan ditempuh industri adalah menjaga porsi penjaminan produktif UMKM berkualitas tinggi, disertai peningkatan proporsi penjaminan konsumtif sebagai instrumen menjaga stabilitas Non Performing Loan (NPL) dan likuiditas perusahaan.
Sebagai informasi, data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, total outstanding penjaminan produktif industri penjaminan mencapai Rp 272,07 triliun per Maret, atau porsinya 70,32% terhadap total outstanding perusahaan penjaminan yang sebesar Rp 386,87 triliun.
Asippindo menyampaikan porsi penjaminan sektor produktif tersebut bisa saja berpotensi mengalami penurunan secara gradual apabila terjadi peningkatan signifikan pada rasio NPL dan pelemahan kondisi makro ekonomi.
Baca Juga: Asippindo Dorong Pemurnian Industri Penjaminan
"Penurunan diproyeksikan bersifat terbatas, mengingat outstanding penjaminan produktif yang telah disalurkan tetap berjalan hingga jatuh tempo," ungkap Agus.
Lebih lanjut, Agus menerangkan penurunan porsi yang signifikan hanya akan terjadi jika risiko kredit UMKM meningkat tajam di atas ambang toleransi industri, serta tidak terdapat insentif kebijakan dari pemerintah maupun relaksasi ketentuan permodalan dari OJK.
Namun, dia bilang apabila penjaminan Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan pembiayaan bersubsidi tetap berjalan optimal, porsi penjaminan produktif diperkirakan bisa tetap terjaga.
"Apabila program penjaminan KUR dan pembiayaan bersubsidi tetap berjalan optimal, porsi penjaminan produktif akan relatif terjaga pada kisaran 65%-70%," ucap Agus.
Baca Juga: Asippindo Beberkan Kendala Industri Penjaminan dalam Mengembangkan Produk Lain
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













