Reporter: Avanty Nurdiana | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pekan ini akan menjadi penentu arah kebijakan moneter lebih lanjut. Dari data Bloomberg, 13 dari 24 ekonom yang disurvei memperkirakan, suku bunga acuan Bank Indonesia tetap di level 5,75%. Sementara 11 ekonom memperkirakan bunga acuan naik 25 bps di level 6%.
Arah suku bunga yang akan ditentukan pada 22 Juli 2026 ini akan menjadi penentu pergerakan saham perbankan pekan ini.
Di pekan lalu, saham bank seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) kompak menguat. Kenaikan terbesar dialami oleh saham BBCA yang menguat sebesar 4,02% di level Rp 6.475 per saham di Jumat (17/7/2026). Kenaikan harga saham tersebut membuat BBCA naik 5,28% dalam lima hari.
Baca Juga: BNI Alihkan 77,8 Juta Saham Buyback ke Program Saham Pegawai
Selanjutnya, saham BMRI menjadi saham naik terbesar kedua dengan kenaikan sebesar 3,94% di Jumat menjadi Rp 4.480 per saham. Kenaikan harga saham BMRI telah naik sebesar 10,07% dalam lima hari.
Saham BBRI menjadi saham bank dengan kenaikan terbesar ketiga. Di mana kenaikan saham BBRI mencapai 3,85% di Rp 2.970 per saham di Jumat (17/7/2026). Adapun dalam lima hari saham BBRI naik 6,45%. Terakhir kenaikan saham BBNI sebesar 2,29% dalam sehari di Rp 3.580 per saham. Sementara dalam lima hari saham BBNI naik 4,68%.
Secara fundamental menurut Analis CGS International Sekuritas Indonesia, Handy Noverdanius dalam riset 3 Juli 2026, saham emiten perbankan besar masih dipasang overweight. Adapun saham BBNI dan BBCA jadi top picks.
Menurut Handy, prospek kualitas aset yang stabil serta valuasi saham perbankan yang berada di level historis rendah menjadi alasan utama mempertahankan pandangan positif terhadap sektor tersebut. "BBCA dan BBNI tetap menjadi top picks kami karena memiliki likuiditas dana pihak ketiga yang paling kuat dan mampu memanfaatkan lingkungan suku bunga yang tinggi," ujarnya.
Ke depan, investor dinilai perlu mencermati sejumlah katalis penting, antara lain rilis kinerja keuangan kuartal II-2026, hasil peninjauan peringkat utang pemerintah Indonesia oleh Standard & Poor's yang diperkirakan diumumkan pada Juli 2026, perkembangan kebijakan pemerintah terkait penurunan suku bunga kredit UMKM, serta pembayaran pertama pinjaman Agrinas yang jatuh tempo pada September 2026.
Di sisi lain, Handy mengingatkan bahwa risiko utama sektor perbankan berasal dari kenaikan biaya pendanaan yang lebih tinggi dari perkiraan dan potensi memburuknya kualitas kredit. Sementara itu, katalis positif bagi sektor ini antara lain kejelasan kebijakan pemerintah, NIM yang lebih tinggi dari ekspektasi, serta pertumbuhan kredit yang melampaui proyeksi pasar.
Baca Juga: Citi Luncurkan Instrumen Digital untuk Permudah Akses Pendanaan Perusahaan Tertutup
Kinerja bank-bank besar di Indonesia masih menunjukkan tren positif hingga lima bulan pertama 2026 meski menghadapi tekanan kenaikan biaya pendanaan yang berpotensi menggerus margin bunga bersih alias net interest margin (NIM).
Handy menyebutkan rata-rata laba bersih empat bank terbesar (big 4 banks) tumbuh 9,3% secara tahunan pada periode lima bulan di 2026. Sementara itu, tiga bank BUMN terbesar mencatatkan pertumbuhan laba bersih yang lebih tinggi, yakni 11,7% yoy.
"Kinerja tersebut didorong oleh peningkatan pendapatan bunga bersih sebesar 7,8% yoy dan pendapatan nonbunga sebesar 12,1% yoy," tulis Handy dalam risetnya.
Menurut dia, pertumbuhan laba juga ditopang oleh kenaikan laba operasional sebelum pencadangan alias pre-provision operating profit (PPOP) yang tumbuh rata-rata 9,1% yoy pada periode yang sama, dengan rasio biaya terhadap pendapatan alias cost to income ratio (CIR) yang relatif stabil.
Meski demikian, Handy mencatat margin bunga bersih mulai mengalami tekanan dibandingkan realisasi kuartal I-2026 akibat meningkatnya biaya dana (cost of fund).
Di sisi kualitas aset, biaya kredit (cost of credit/CoC) bank-bank besar secara umum membaik sekitar 10 basis poin (bps) dibandingkan tahun lalu. Pengecualian terjadi pada PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) yang mencatat kenaikan CoC sebesar 8 bps yoy, namun masih berada dalam kisaran target manajemen.
"Kami memperkirakan kinerja kuartal II-2026 bank-bank besar akan sesuai dengan ekspektasi. Namun terdapat risiko penurunan terhadap target NIM apabila biaya pendanaan terus meningkat dalam beberapa bulan ke depan," ujar Handy.
Ia memperkirakan setiap penurunan NIM sebesar 10 bps berpotensi memangkas laba bersih empat bank besar pada 2026 sekitar 2% hingga 5%.
Baca Juga: JACCS MPM Finance Siapkan Dana Rp 230 Miliar untuk Lunasi Obligasi Jatuh Tempo
Dari sisi intermediasi, Handy mencatat rata-rata pertumbuhan kredit tahun berjalan tiga bank BUMN terbesar mencapai 5,9% hingga Mei 2026.
Namun apabila kredit program Agrinas atau koperasi desa dikeluarkan dari perhitungan, pertumbuhan kredit turun menjadi 5,4%. Sebagai pembanding, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), yang tidak terlibat dalam program Agrinas, mencatat pertumbuhan kredit YTD sebesar 0,75%.
Menurut Handy, bank-bank besar masih menargetkan pertumbuhan kredit pada kisaran high single digit sepanjang 2026 sehingga diperlukan percepatan penyaluran kredit pada semester II tahun ini.
Ia juga mengutip data Bank Indonesia yang menunjukkan pertumbuhan kredit industri perbankan mencapai 10,8% yoy hingga Mei 2026, atau 8,6% jika tidak memasukkan kredit Agrinas.
"Kredit investasi masih menjadi motor utama pertumbuhan dengan kenaikan 20,5% yoy atau 12,6% tanpa Agrinas, disusul kredit modal kerja sebesar 7,9% dan kredit konsumsi sebesar 5,8%," jelasnya.
Handy juga menyoroti penempatan dana Sisa Anggaran Lebih (SAL) pemerintah di bank-bank BUMN yang dinilai membantu menahan kenaikan biaya dana dalam jangka pendek.
Secara total, pemerintah telah menempatkan dana SAL sebesar Rp 309 triliun di bank-bank BUMN, termasuk penempatan Rp 117 triliun pada 29 Juni dan Rp32 triliun pada 1 Juli 2026 dengan tenor satu bulan.
Menurut Handy, dana tersebut membantu bank mengelola suku bunga deposito khusus yang sebelumnya naik ke kisaran 7%–8%, dari sebelumnya sekitar 5%–6%.
"Penempatan dana SAL bermanfaat bagi biaya pendanaan dalam jangka pendek, namun perbaikan kondisi makroekonomi tetap diperlukan agar dampaknya dapat berkelanjutan," katanya.
Meski demikian, biaya dana bank-bank BUMN besar masih meningkat sekitar 20 bps pada periode lima bulan di 2026 dibandingkan rata-rata kuartal I-2026.
Baca Juga: Likuiditas Ketat, Bank Belum Berani Naikkan Bunga Kredit Secara Agresif
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_24062609492500.jpg)
