Reporter: Ferry Saputra | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ketidakpastian pasar keuangan menjadi tantangan bagi industri asuransi umum dalam menjaga kinerja investasi hingga akhir 2026. Perusahaan perlu menyeimbangkan upaya memperoleh imbal hasil dengan pengelolaan risiko, kecukupan modal, serta kemampuan memenuhi kewajiban pembayaran klaim.
Direktur Utama PT Asuransi Asei Indonesia Dody Dalimunthe mengatakan, salah satu faktor yang perlu diwaspadai adalah volatilitas pasar saham dan potensi penurunan harga saham lebih lanjut.
Menurut dia, perusahaan asuransi umum perlu mengantisipasi kemungkinan tekanan pasar berlanjut apabila ketidakpastian mengenai status Indonesia dalam indeks global, arus modal asing, dan kepercayaan investor belum mereda.
"Dampaknya tidak hanya terhadap nilai investasi saham, tetapi juga terhadap kinerja keuangan dan permodalan perusahaan," ungkapnya kepada Kontan, Jumat (16/10/2026).
Baca Juga: Prudential Syariah Sebut Banyaknya Asuransi Syariah Berdampak Positif bagi Industri
Dody mengatakan, faktor lain yang perlu dicermati adalah arah suku bunga acuan dan imbal hasil obligasi. Perubahan suku bunga acuan dapat memengaruhi harga pasar obligasi, termasuk Surat Berharga Negara (SBN).
Oleh karena itu, perusahaan asuransi umum perlu memperhatikan durasi portofolio, risiko perubahan nilai pasar, serta kesesuaian jatuh tempo investasi dengan kebutuhan pembayaran klaim.
Selain itu, pelemahan rupiah dan ketidakpastian ekonomi global juga menjadi faktor yang berpotensi memengaruhi kinerja investasi. Dody menyampaikan, pergerakan nilai tukar, tensi geopolitik, dan perubahan kebijakan perdagangan internasional dapat berdampak terhadap biaya operasional, risiko bisnis tertanggung, serta nilai investasi yang memiliki eksposur mata uang asing.
Risiko konsentrasi dan likuiditas juga perlu mendapat perhatian. Dody menilai, diversifikasi investasi tidak cukup dilakukan dengan memperbanyak jenis instrumen. Perusahaan asuransi umum juga perlu memastikan eksposur terhadap emiten, sektor industri, kelompok usaha, dan pihak terkait tetap terkendali.
"Pada saat yang sama, ketersediaan aset likuid harus dijaga agar perusahaan mampu memenuhi klaim tanpa terpaksa menjual investasi pada kondisi pasar yang merugikan," tuturnya.
Strategi Investasi Asuransi Umum hingga Akhir 2026
Dody menambahkan, kesesuaian strategi investasi dengan kewajiban perusahaan menjadi aspek penting yang perlu dicermati. Industri asuransi umum harus memastikan bahwa target imbal hasil tidak mengesampingkan tujuan utama investasi, yakni menjaga keamanan aset dan mendukung pemenuhan kewajiban kepada tertanggung.
"Oleh karena itu, strategi investasi perlu terintegrasi dengan proyeksi arus kas, kecukupan modal, pengelolaan risiko, dan ketentuan regulator," ucapnya.
Bagi Asuransi Asei, Dody menerangkan bahwa penempatan investasi ditujukan untuk mendukung ketahanan keuangan perusahaan, bukan sebagai sumber keuntungan yang berdiri sendiri. Perusahaan berfokus pada upaya menjaga kualitas aset, mempertahankan likuiditas yang memadai, serta mengoptimalkan hasil investasi dengan risiko yang terukur.
Baca Juga: Asei Sebut Koreksi Tajam Pasar Saham Jadi Perhatian bagi Industri Asuransi Umum
Dalam kondisi pasar yang tidak menentu, Dody menuturkan bahwa keberhasilan investasi tidak ditentukan oleh seberapa tinggi imbal hasil yang dapat diperoleh, melainkan oleh kemampuan menghasilkan imbal hasil yang wajar tanpa mengganggu kemampuan perusahaan memenuhi kewajibannya.
Dia mengatakan, prinsip tersebut perlu menjadi landasan bagi industri asuransi umum dalam menghadapi dinamika pasar hingga akhir 2026.
Investasi Asuransi Umum Tumbuh, Hasil Investasi Menyusut
Berdasarkan data statistik Otoritas Jasa Keuangan (OJK), total investasi industri asuransi umum mencapai Rp 132,26 triliun per Juni 2026. Nilai tersebut meningkat 5,8% secara tahunan atau year on year (YoY).
Namun, pertumbuhan nilai investasi tersebut belum diikuti peningkatan hasil investasi. Pada periode yang sama, hasil investasi industri asuransi umum tercatat sebesar Rp 3,64 triliun, terkontraksi 5,6% secara YoY.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














