CLOSE [X]
kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.601.000   -9.000   -0,34%
  • USD/IDR 17.962   0,00   0,00%
  • IDX 6.283   51,31   0,82%
  • KOMPAS100 830   7,35   0,89%
  • LQ45 632   4,53   0,72%
  • ISSI 217   2,29   1,07%
  • IDX30 356   1,90   0,54%
  • IDXHIDIV20 442   1,99   0,45%
  • IDX80 95   0,75   0,80%
  • IDXV30 119   0,50   0,42%
  • IDXQ30 114   0,52   0,45%

Bank Digital Tak Rem Laju Kredit di Tengah Tantangan Likuiditas


Senin, 20 Juli 2026 / 20:12 WIB
Bank Digital Tak Rem Laju Kredit di Tengah Tantangan Likuiditas
ILUSTRASI. Loan to deposit ratio (LDR) bank digital masing tinggi saat terjadi tantangan likuiditas               (KONTAN/Carolus Agus Waluyo)


Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Meski kompak mencatatkan pertumbuhan positif, bank digital sejatinya tak benar-benar bebas dari tantangan likuiditas di pasar. Itu tercermin dari rasio kredit terhadap deposito (loan to deposit ratio/LDR) yang masih tinggi. 

Salah satunya terlihat pada PT Allo Bank Indonesia Tbk yang hingga Mei 2026 menyalurkan kredit sebesar Rp 10,13 triliun atau tumbuh 38,6% secara tahunan (year-on-year/YoY) sementara total dana pihak ketiga (DPK) terhimpun sebanyak Rp 6,17 triliun atau bertambah 7,75% yoy. 

Dari situ, artinya posisi LDR Allo Bank ada di kisaran 163,9%. Sebagai perbandingan, pada Mei 2025 posisi LDR Allo Bank ada di kisaran 127,4%. 

Digital Strategy Head Allo Bank Destya D. Pradityo mengatakan, posisi LDR bank saat ini pada dasarnya mencerminkan dinamika pertumbuhan bisnis. Itu sejalan dengan penyaluran kredit yang lebih masif ketimbang penghimpunan DPK. 

Baca Juga: Zurich: Pertumbuhan Asuransi Properti Masih Terbuka hingga Akhir 2026

Pun, Destya bilang, posisi LDR saat ini merupakan konsekuensi wajar bagi bank yang masih berada dalam fase ekspansi bisnis. 

“Asal tetap didukung oleh permodalan yang kuat, pengelolaan likuiditas yang disiplin, dan kualitas aset yang terjaga,” ujar Destya kepada Kontan, Senin (20/7/2026). 

Posisi LDR bank yang terbilang sangat ketat ini juga tak menyurutkan niat bank dalam ekspansi kredit. Destya bilang, pertumbuhan kredit bakal tetap dikejar, hanya saja lebih selektif dan terukur serta didukung kualitas aset yang baik. 

“Fokus kami bukan semata mengejar pertumbuhan setinggi mungkin, melainkan menjaga keseimbangan antara pertumbuhan kredit, penghimpunan dana, kualitas aset, dan profitabilitas,” tegasnya. 

Namun begitu, ia tak menampik bahwa tahun ini tantangan yang dihadapi industri perbankan cenderung lebih besar ketimbang tahun lalu. Dinamika suku bunga, ketidakpastian global, serta kompetisi penghimpunan dana membuat seluruh industri perlu lebih cermat dalam mengelola likuiditas dan struktur pendanaan. 

Hingga saat ini ia memastikan kondisi likuiditas Allo Bank masih dalam koridor yang dapat dikelola. Pihaknya masih mengandalkan DPK sebagai sumber likuiditas utama dan terus memperkuat porsi dana murah melalui sejumlah strategi. 

Di antaranya yaitu peningkatan aktivitas transaksi nasabah, pengembangan use case pembayaran digital, payroll, serta penguatan integrasi dengan ekosistem. Fokus bank kini diarahkan untuk membangun funding yang lebih granular dan berkelanjutan agar ketergantungan terhadap pricing dapat dikurangi secara bertahap.

Baca Juga: Dana Pensiun Borong SBN Rp159 Triliun Kurangi Investasi Saham, Ini Penjelasan ADPI

Sementara itu, PT Krom Bank Indonesia juga mencatatkan tren yang tak jauh berbeda. Hingga Mei 2026, Krom Bank menyalurkan kredit sebesar Rp 10,76 triliun atau melesat 80,8% yoy dan total DPK yang terhimpun mencapai Rp 11,84 triliun atau terbang hingga 124% yoy. 

Dus, posisi LDR Krom Bank berada di kisaran 90,8%. Sebagai perbandingan, pada periode yang sama tahun lalu posisi LDR bank ada di kisaran 112,5%. 

Dalam memandang dinamika penghimpunan dana di perbankan saat ini, Presiden Direktur Krom Bank Anton Hermawan bilang, ada bergeser dari kompetisi berbasis suku bunga menuju pengelolaan likuiditas dan struktur pendanaan yang lebih optimal. 

Di Krom Bank, Anton mengatakan, pihaknya bakal tetap fokus untuk meningkatkan porsi dana murah guna menjaga struktur pendanaan yang lebih efisien. Dengan begitu, penyaluran kredit dapat terus dioptimalkan dan berada di posisi yang kompetitif di era suku bunga tinggi. 

Dalam hal pendanaan, Krom Bank masih fokus ke penduduk usia muda di bawah 40 tahun dengan tingkat kemampuan digital yang baik, serta kelompok mapan secara finansial.

Anton mengungkapkan, pada dasarnya pemilihan segmen ini didasari oleh tingginya penggunaan digital banking di segmen tersebut.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×