kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.614.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.940   -67,00   -0,37%
  • IDX 6.176   67,33   1,10%
  • KOMPAS100 814   12,72   1,59%
  • LQ45 622   13,33   2,19%
  • ISSI 212   0,39   0,18%
  • IDX30 351   8,04   2,34%
  • IDXHIDIV20 438   9,47   2,21%
  • IDX80 93   1,54   1,68%
  • IDXV30 117   0,44   0,38%
  • IDXQ30 113   2,94   2,65%

Likuiditas Ketat, Bank Belum Berani Naikkan Bunga Kredit Secara Agresif


Minggu, 19 Juli 2026 / 16:30 WIB
Likuiditas Ketat, Bank Belum Berani Naikkan Bunga Kredit Secara Agresif
ILUSTRASI. Ajukan Kredit Sebelum Bunga Makin Tinggi (KONTAN/Carolus Agus Waluyo)


Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) sejak Mei 2026 mulai memberi tekanan terhadap biaya dana (cost of fund/CoF) perbankan. Namun, bank diperkirakan tidak akan serta-merta meneruskan kenaikan tersebut ke bunga kredit.

Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), rata-rata tertimbang suku bunga kredit rupiah pada Mei 2026 justru turun tipis menjadi 8,72% dari 8,73% pada April 2026. Sebaliknya, suku bunga kredit baru naik menjadi 9,31% pada Mei 2026 dari 8,95% pada bulan sebelumnya.

BI menjelaskan perbedaan arah tersebut mencerminkan adanya efek tunda (lag) dalam transmisi kebijakan moneter. Suku bunga kredit yang telah berjalan (outstanding) masih dipengaruhi proses penyesuaian (repricing) kredit lama, sementara bunga kredit baru sudah mencerminkan kondisi pendanaan (funding) dan persepsi risiko yang dihadapi perbankan saat ini.

BI juga mencatat terdapat perbedaan tren bunga kredit baru antar kelompok bank. Pada Mei 2026, kelompok bank badan usaha milik negara (BUMN) mencatat kenaikan bunga kredit baru menjadi 7,65% dari 7,31% pada April 2026.

Sebaliknya, kelompok Bank Pembangunan Daerah (BPD), Bank Umum Swasta Nasional (BUSN), dan Kantor Cabang Bank Asing (KCBA) justru menurunkan bunga kredit baru masing-masing menjadi 9,18%, 10,88%, dan 7,64% dari sebelumnya 9,54%, 10,94%, dan 8,35%.

Baca Juga: Likuiditas Bank Masih Longgar: OJK Proyeksi Kredit Tumbuh di Atas 10% pada 2026

Staf Riset Ekonomi Makro PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN), Myrdal Gunarto, menjelaskan, lambatnya penurunan bunga kredit merupakan karakteristik yang sudah lama terjadi di industri perbankan nasional.

Menurutnya, bunga kredit memiliki sifat sticky downward, yakni sulit turun meski BI Rate telah dipangkas.

"Penyebab utamanya adalah struktur biaya dana (cost of fund) yang masih kaku. Mayoritas dana pihak ketiga bank berasal dari deposito berjangka satu hingga enam bulan. Bank harus menunggu deposito berbunga tinggi tersebut jatuh tempo sebelum dapat menikmati penurunan biaya dana," ujar Myrdal kepada Kontan.co.id, Jumat (17/7/2026).

Selain itu, bank juga mempertimbangkan premi risiko. Ketika BI menurunkan suku bunga untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, biasanya kondisi ekonomi sedang melambat sehingga perbankan memilih mempertahankan bunga kredit untuk mengantisipasi potensi kenaikan kredit bermasalah (non-performing loan / NPL).

Menurut Myrdal, faktor lain yang membuat bunga kredit sulit turun adalah strategi bank menjaga net interest margin (NIM). Penurunan bunga simpanan yang lebih cepat dibanding bunga kredit memberi ruang bagi bank untuk mempertahankan profitabilitas.

Di sisi lain, sebagian bank juga masih menghadapi biaya operasional yang tinggi sehingga belum memiliki ruang untuk memangkas bunga kredit secara agresif.

Myrdal memperkirakan kenaikan BI Rate sebesar 100 basis poin sejak Mei tahun ini baru akan sepenuhnya ditransmisikan ke bunga kredit dalam waktu satu hingga dua kuartal, atau sekitar tiga hingga enam bulan.

Namun, penyesuaian tersebut tidak terjadi secara bersamaan pada seluruh segmen kredit.

Menurutnya, kredit korporasi dan komersial akan menjadi segmen yang paling cepat mengalami penyesuaian karena banyak menggunakan acuan suku bunga pasar uang seperti INDONIA atau money market rate.

"Sementara KPR maupun kredit kendaraan bermotor bergerak lebih lambat karena umumnya masih menawarkan bunga tetap (fixed rate) selama satu hingga tiga tahun pertama," katanya.

Adapun kredit mikro dan Kredit Usaha Rakyat (KUR) dinilai paling kecil terdampak perubahan BI Rate karena memperoleh subsidi bunga dari pemerintah.

Myrdal memperkirakan sekitar 70% hingga 80% portofolio kredit industri menggunakan skema bunga mengambang (floating rate).

Karena itu, debitur korporasi dan komersial yang menggunakan kredit modal kerja menjadi kelompok yang paling cepat merasakan kenaikan beban bunga. Sementara di segmen ritel, dampak terbesar akan dirasakan debitur KPR yang telah memasuki masa bunga mengambang.

Myrdal memperkirakan hingga akhir tahun ruang kenaikan bunga kredit masih terbatas. Menurutnya, bank akan lebih memilih menjaga kualitas aset dan volume penyaluran kredit dibandingkan menaikkan bunga secara agresif.

Baca Juga: Antisipasi Pengetatan Likuiditas, BTN Mengerem Laju Pertumbuhan Kredit

"Bunga kredit korporasi kemungkinan naik secara moderat. Sementara untuk KPR dan KKB baru, bank masih akan menawarkan berbagai promo bunga tetap agar target pertumbuhan kredit tetap tercapai," tutupnya.

Sementara itu, Presiden Direktur PT Bank CIMB Niaga Tbk Lani Darmawan mengakui kenaikan biaya dana mulai menekan margin bunga perbankan. Namun, kondisi persaingan membuat bank belum bisa sepenuhnya meneruskan kenaikan tersebut kepada debitur.

"Pada saat ini agak sulit untuk menaikkan bahkan untuk mempertahankan margin. Karena kenaikan cost of fund pasti terjadi dan kami tidak bisa langsung passing on ke loan rate," ujar Lani.

Ia mengatakan tekanan semakin besar karena permintaan kredit ritel masih lemah, sedangkan kredit korporasi secara alami memiliki tingkat imbal hasil (yield) yang lebih rendah.

Untuk menjaga profitabilitas, CIMB Niaga memilih mengoptimalkan penghimpunan dana murah (current account saving account / CASA).

Baca Juga: Waspada, Likuiditas yang Ketat di Semester II-2026 Berpotensi Menghambat Laju Kredit

"Fokus tetap sebisa mungkin di CASA dengan cost of fund yang lebih rendah. CASA ratio kami masih di atas 70% pada semester I," katanya.

Dilihat dari laman resminya, CIMB Niaga menetapkan SBDK sebesar 8,15% pada segmen korporasi, 8,90% untuk ritel, menengah, dan kecil. Sementara SBDK KPR/KPA sebesar 8,70% dan kredit non-KPR/non-KPA mencapai 12,11% per 30 Juni 2026.

Pandangan serupa disampaikan PT Bank Central Asia (BCA). Menurut  Executive Vice President Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn, BCA terus mencermati arah kebijakan BI dengan mempertimbangkan berbagai faktor, mulai dari perkembangan makroekonomi, kondisi likuiditas, risiko pasar hingga keseimbangan antara ekspansi kredit dan daya beli masyarakat.

"Penyesuaian suku bunga dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi pasar dan likuiditas bank," ujarnya.

Untuk menjaga daya tarik kredit pemilikan rumah (KPR), BCA tetap menawarkan berbagai pilihan bunga tetap (fixed rate) dalam jangka panjang sehingga nasabah dapat mengantisipasi risiko kenaikan bunga mengambang.

Di sisi pendanaan, biaya dana BCA masih relatif rendah karena ditopang dana murah. Hingga Maret 2026, dana CASA BCA mencapai Rp1.089 triliun, tumbuh 11,2% secara tahunan dan berkontribusi sekitar 85,2% terhadap total dana pihak ketiga (DPK).

Baca Juga: Likuiditas Ketat: Perbankan Ramai Terbitkan Obligasi

Jika dilihat dari laman resminya, SBDK BCA tercatat 6,81% untuk korporasi, 7,74% ritel, 8,10% menengah, 8,04% kecil, 6,95% mikro, 9,14% untuk KPR/KPA, serta 8,55% untuk kredit non-KPR/non-KPA per 30 Juni 2026.

Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN), Nixon LP Napitupulu mengatakan perseroan belum berencana menaikkan bunga KPR secara signifikan meski tekanan likuiditas meningkat.

BTN hanya menyesuaikan bunga promo KPR dari 2,65% menjadi 3,75%, sementara bunga kredit jangka panjang tetap dipertahankan.

"Untuk bunga kredit KPR, kami tidak akan melakukan kenaikan. Yang kami lakukan hanya menaikkan bunga promo. Hari ini kami tidak bisa menjual bunga kredit terlalu murah karena cost of fund naik," ujarnya.

Menurut Nixon, segmen kredit yang paling cepat mengalami kenaikan bunga adalah kredit komersial karena tenor lebih pendek dan mekanisme repricing lebih fleksibel.

"Yang pasti komersial. Kredit usaha itu pasti naik lebih dulu. Kalau terlalu lama ditahan, bank juga akan kesulitan menjaga profitabilitas," katanya.

Ia menambahkan, kondisi likuiditas saat ini masih sangat ketat. Outstanding Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) bahkan telah melampaui Rp1.000 triliun, sehingga persaingan menghimpun dana diperkirakan masih akan berlangsung hingga akhir tahun.

Dalam kondisi tersebut, BTN memilih menanggung sebagian kenaikan biaya dana dibandingkan menaikkan bunga KPR secara agresif.

"Dengan situasi likuiditas yang sangat ketat, bunga dana naik, tetapi kami tidak bisa menaikkan bunga KPR 2%-3%. Kalau dipaksakan, yang terjadi justru kredit macet," ujarnya.

Nixon mengatakan, BTN kini melakukan evaluasi kondisi likuiditas dan suku bunga setiap pekan melalui rapat asset liability committee (ALCO). Menurutnya, likuiditas menjadi faktor penentu arah bisnis perbankan pada tahun ini.

"Game changer hari ini adalah likuiditas. Kami tidak bisa memaksakan kredit tumbuh ketika likuiditas sedang ketat," katanya.

Jika dilihat dari laman resminya, BTN menetapkan SBDK sebesar 8,50% untuk segmen korporasi, 8,75% ritel, 9,80% menengah, 10,35% kecil, 13,65% mikro, 7,95% untuk kredit pemilikan rumah/apartemen (KPR/KPA), serta 10,65% untuk kredit non-KPR/non-KPA.

Baca Juga: BTN Rem Pertumbuhan Kredit Antisipasi Ketatnya Likuiditas, Target Dipatok Naik 10%

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×