kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.087.000   40.000   1,31%
  • USD/IDR 16.885   10,00   0,06%
  • IDX 7.438   -3,11   -0,04%
  • KOMPAS100 1.033   -3,84   -0,37%
  • LQ45 756   -3,59   -0,47%
  • ISSI 262   -0,02   -0,01%
  • IDX30 400   -1,14   -0,28%
  • IDXHIDIV20 493   -2,12   -0,43%
  • IDX80 116   -0,57   -0,49%
  • IDXV30 134   -0,64   -0,48%
  • IDXQ30 129   -0,33   -0,25%

Kredit UMKM Masih Tertekan, Bank Digital Dipandang Jadi Solusi


Rabu, 11 Maret 2026 / 10:34 WIB
Kredit UMKM Masih Tertekan, Bank Digital Dipandang Jadi Solusi
ILUSTRASI. Kredit UMKM stagnan, bank digital jadi harapan baru UMKM! (KONTAN/Fransiskus Simbolon)


Reporter: Ammar Rezqianto | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sektor kredit usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia masih menunjukkan pertumbuhan yang lambat. Menurut ekonom dari Center of Economic and Law Studies (Celios), bank digital seharusnya bisa menjadi solusi strategis untuk mendorong penyaluran kredit UMKM.

Direktur Ekonomi Digital Celios, Nailul Huda, menyoroti bahwa pertumbuhan kredit UMKM pada Desember 2025 masih mengalami kontraksi.

Data dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat penyaluran kredit UMKM pada Januari 2026 mencapai Rp 1.482,9 triliun atau setara 17,33% dari total kredit perbankan. Namun, secara tahunan, segmen kredit ini justru mengalami kontraksi tipis sebesar 0,53%.

"Pertumbuhan kredit secara keseluruhan itu sudah mengalami bounceback ya, kita ada di 9% di triwulan akhir Desember 2025, tapi kalau untuk kredit UMKM itu masih mengalami kontraksi. Artinya dibandingkan tahun lalu, kredit UMKM itu masih tumbuh minus," kata Nailul dalam acara Amar Bank, Selasa (10/3/2026).

Baca Juga: BNI Targetkan Penjualan Sukuk Ritel SR024 Capai Rp 800 Miliar

Nailul menilai pertumbuhan kredit UMKM yang lambat disebabkan oleh kesulitan yang dialami banyak pelaku UMKM untuk mengakses layanan perbankan konvensional. Mulai dari prosedur administrasi, persyaratan agunan, hingga tingkat suku bunga yang tinggi menjadi kendala utama.

"Kita lihat proporsi total kredit UMKM juga menurun. Ini memperlihatkan satu sisi, perbankan itu lebih memilih kreditnya untuk korporasi. Nah, ini kita lihat ada peluang nih untuk digital banking bisa mengerek porsi UMKM di total kreditnya supaya bisa lebih tinggi," ujarnya.

Selain itu, Nailul menyoroti perubahan pola transaksi dan konsumsi masyarakat yang semakin digital. Ia memprediksi total transaksi digital di tahun 2026 akan mencapai 4 triliun transaksi.

Baca Juga: BCA Sesuaikan Operasional Cabang Selama Libur Nyepi dan Lebaran 2026

"Transaksi dari bank digital pun mengalami kenaikan. Meskipun di tahun 2026 ada berbagai macam gejolak, kita prediksi pertumbuhannya sedikit melambat di angka 10%," kata Nailul.

Faktor-faktor tersebut, menurut Nailul, menjadi peluang strategis bagi bank digital untuk meningkatkan penyaluran kredit UMKM. Bank digital perlu memanfaatkan keunggulan mereka dalam prosedur yang lebih fleksibel dan syarat yang tidak memberatkan pelaku UMKM, sehingga segmen ini dapat lebih optimal tersentuh oleh pembiayaan formal.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×