Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Bank Indonesia (BI) terus mengoptimalkan kebijakan insentif likuiditas makroprudensial (KLM) guna mendorong penyaluran kredit perbankan, khususnya ke sektor-sektor prioritas.
Hingga minggu pertama April 2026, total insentif KLM yang telah disalurkan mencapai Rp 427,9 triliun.
Dari jumlah tersebut, alokasi terbesar berada pada jalur penyaluran kredit (lending channel) sebesar Rp 358,0 triliun, sementara sisanya Rp 69,9 triliun dialokasikan melalui jalur penurunan suku bunga (interest rate channel).
Baca Juga: BI Optimistis Penyaluran Kredit Tumbuh 12% pada 2026
Jika dilihat berdasarkan kelompok bank, penyaluran KLM didominasi oleh bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sebesar Rp 224,0 triliun. Disusul bank swasta nasional (BUSN) sebesar Rp 166,6 triliun, Bank Pembangunan Daerah (BPD) Rp 29,6 triliun, serta kantor cabang bank asing (KCBA) sebesar Rp 7,8 triliun.
Dari sisi sektoral, dana insentif ini difokuskan untuk mendorong pembiayaan ke sektor-sektor strategis yang menjadi prioritas nasional. Di antaranya sektor pertanian, industri, dan hilirisasi, sektor jasa termasuk ekonomi kreatif, serta sektor konstruksi, real estate, dan perumahan.
Selain itu, BI juga mengarahkan KLM untuk memperkuat pembiayaan ke sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), koperasi, serta pembiayaan inklusif dan berkelanjutan.
Gubernur BI Perry Warjiyo menyampaikan, penguatan kebijakan KLM yang berlaku sejak 16 Desember 2025 dirancang untuk meningkatkan insentif bagi bank yang agresif menyalurkan kredit sekaligus responsif dalam menurunkan suku bunga.
“Implementasi KLM diarahkan untuk mendorong penyaluran kredit ke sektor prioritas serta penurunan suku bunga kredit baru,” ujarnya saat RDG BI, Rabu (22/4).
Dengan kebijakan ini, BI berharap intermediasi perbankan semakin kuat sehingga mampu menopang pertumbuhan ekonomi di tengah dinamika global.
Baca Juga: Kredit Perbankan Tumbuh 9,49% pada Maret 2026, Kredit Investasi Jadi Motor Penggerak
“Insentif ini menjadi bagian dari upaya menjaga momentum pertumbuhan kredit dan pembiayaan perbankan,” jelas Perry.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













