kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.616.000   15.000   0,58%
  • USD/IDR 18.111   28,00   0,15%
  • IDX 6.186   94,98   1,56%
  • KOMPAS100 811   14,88   1,87%
  • LQ45 619   12,34   2,03%
  • ISSI 214   3,34   1,59%
  • IDX30 349   7,21   2,11%
  • IDXHIDIV20 430   7,44   1,76%
  • IDX80 93   1,76   1,94%
  • IDXV30 117   2,05   1,78%
  • IDXQ30 112   2,25   2,06%

CIMB Niaga Akui Bisnis Trade Finance Terdampak Pelemahan Rupiah


Senin, 08 Juni 2026 / 09:30 WIB
Diperbarui Senin, 08 Juni 2026 / 11:56 WIB
CIMB Niaga Akui Bisnis Trade Finance Terdampak Pelemahan Rupiah
ILUSTRASI. CIMB Niaga (KONTAN/Ammar Rezqianto)


Reporter: Ammar Rezqianto | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pelemahan nilai tukar rupiah yang terjadi saat ini berdampak besar pada bisnis perbankan. Salah satu dampak dari pelemahan rupiah paling terasa pada bisnis trade finance.

Trade Finance merupakan layanan perbankan untuk memberi pembiayaan atau jaminan keamanan terhadap aktivitas perdagangan nasabah, baik domestik maupun internasional

Direktur Business Banking CIMB Niaga Rusly Johannes mengatakan, bisnis trade finance yang erat kaitannya dengan aktivitas ekspor-impor turut terdampak dari pelemahan rupiah.

Baca Juga: Askrindo Garap Potensi Bisnis Asuransi Pariwisata Saat Liburan Sekolah

Ia menyebut pembiayaan untuk aktivitas impor jadi tertantang karena semakin mahalnya biaya importir, sedangkan aktivitas ekspor mengalami peningkatan karena permintaan asing akan produk domestik meningkat.

"Di satu sisi, biaya impor menjadi lebih mahal bagi pelaku usaha yang masih bergantung pada bahan baku dari luar negeri. Namun di sisi lain, eksportir memperoleh keuntungan dari peningkatan daya saing harga produk Indonesia di pasar global," kata Rusly kepada Kontan, Jumat (5/6/2026).

Rusly menjelaskan, bisnis trade finance CIMB Niaga saat ini masih tumbuh positif. Ia bilang, pertumbuhan trade finance banknya saat ini didorong oleh meningkatnya aktivitas ekspor di sektor manufaktur dan komoditas.

Akan tetapi, Rusly bilang, saat ini pembiayaan untuk aktivitas impor tumbuh lebih moderat akibat tekanan biaya dari pelemahan rupiah.

"Pertumbuhan transaksi ekspor secara tahunan di CIMB Niaga jauh lebih cepat dibandingkan transaksi impor di periode Januari-Mei 2026," ucapnya.

 

Rusly memproyeksi, transaksi ekspor di CIMB Niaga akan tetap tumbuh hingga akhir tahun 2026. Akan tetapi, ia menyebut pertumbuhannya mungkin tidak setinggi tahun kemarin.

Sedangkan untuk transaksi impor, Rusly menyebut ada potensi perlambatan pertumbuhan dengan adanya tendensi beberapa transaksi impor berubah menjadi transaksi dalam negeri.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Legacy Data-Driven Forecasting: Prediksi Penjualan Lebih Akurat, Keputusan Bisnis Lebih Tepat

[X]
×