Reporter: Ammar Rezqianto | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kenaikan suku bunga acuan (BI Rate) menjadi 5,5% membuat banyak bank kelimpungan untuk menstabilkan bisnisnya. Bank-bank dengan modal inti kecil dinilai jadi yang paling tertekan.
Bank dalam Kelompok Bank Modal Inti 1 (KBMI 1) saat ini semakin dipaksa untuk tergerus dalam persaingan industri yang semakin ketat. Dengan naiknya BI Rate, bank kecil harus memilih antara menambah modal atau melakukan merger.
Guru besar ekonomi Universitas Airlangga, Rahma Gafmi menyampaikan, dalam situasi BI Rate tinggi seperti sekarang ini, kedua opsi itu menjadi pilihan terbaik bagi bank kecil.
Baca Juga: Citi Indonesia Mulai Implementasikan AI, Targetkan Efisiensi Operasional Perbankan
Pasalnya, ketika BI Rate naik, Rahma menyebut nasabah kelas atas akan cenderung memindahkan dana simpanannya pada bank-bank besar karena faktor keamanan.
Selain dari keamanan, nasabah juga akan memindahkan dana untuk mencari imbal hasil yang lebih tinggi.
"Nasabah yang mengejar imbal hasil tinggi akan melirik instrumen moneter seperti SRBI yang kuponnya ikut terkerek, atau produk wealth management bank raksasa," kata Rahma saat dihubungi akhir pekan lalu.
Sebab itu, Rahma menilai bank KBMI 1 mau tidak mau juga harus ikut menaikkan bunga simpanan guna menjaga nasabah tidak pergi. Masalahnya, banyak bank KBMI 1 tidak punya modal cukup besar untuk itu.
Ia kemudian menambahkan, menaikkan bunga simpanan akan turut berdampak pada biaya dana (cost of fund/COF) yang lebih tinggi. Saat ini pun, banyak bank KBMI 1 yang pendanaannya didominasi oleh deposito.
"Menghadapi era higher-for-longer ini, bank KBMI 1 tidak bisa lagi mengandalkan cara konvensional "bakar duit" lewat bunga deposito," ucapnya.
Baca Juga: Masuk Jaringan CIPS, Bank Mandiri Perkuat Transaksi RMB Indonesia-China
Maka, Rahma menilai solusi merger dengan bank lain atau memperkuat modal adalah opsi terbaik untuk bank KBMI 1.
Ia pun menyebut bank KBMI 1 yang masih dapat bersaing adalah mereka yang memiliki spesialisasi bisnis yang kuat.
"Bagi bank KBMI 1 yang strukturnya generik dan modalnya pas-pasan, bersikeras jalan sendiri justru berisiko tergilas oleh efisiensi bank-bank digital dan bank raksasa," kata Rahma.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













