Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Bank yang menjadi penghuni kelompok bank berdasarkan modal inti (KBMI) I terus mengevaluasi strategi naik kelas selagi regulator belum juga mengeluarkan aturan baku terkait. Namun, sejumlah bank nampaknya tak menjadikan konsolidasi sebagai fokus utama.
Sejatinya, konsolidasi bisa menjadi langkah strategis bagi bank kecil memenuhi prasyarat minimum modal inti Rp 6 triliun untuk masuk ke KBMI 2. Dari 33 bank penghuni KBMI 1 dalam riset Kontan, total modal inti seluruh bank mencapai Rp 115,42 triliun per Maret 2026.
Jika seluruh bank dalam kelompok ini tak mengambil opsi konsolidasi untuk menambal sisa modal inti yang diperlukan, artinya total modal inti tambahan yang diperlukan mencapai Rp 82,58 triliun.
Baca Juga: Bahana TCW Terapkan Sejumlah Strategi Ini Guna Tingkatkan Dana Kelolaan
Terkait konsolidasi, menariknya CIMB Group Holdings Berhad baru-baru ini juga mengungkapkan peluang aksi korporasi melalui merger dan akuisisi (M&A). CEO CIMB Group Novan Amirudin bilang itu sejalan dengan komitmen pihaknya terhadap pasar Indonesia.
“Bagi investor yang melihat potensi jangka panjang Indonesia, tentu saat ini merupakan waktu yang tepat untuk masuk,” sebut Novan pekan lalu.
Sebelumnya, unit usaha syariah (UUS) CIMB Niaga juga mengaku terbuka dengan peluang kerja sama setelah melakukan spin off sesuai amanat undang-undang. Kendati begitu, Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan menegaskan hingga kini belum ada rencana konsolidasi baru yang disiapkan pihaknya.
Meski memang, CIMB Niaga sebagai representasi CIMB Group di Indonesia selalu mencermati kesempatan yang ada. “Kami mempunyai beberapa anak perusahaan sehubungan dengan peraturan konglomerasi yang baru. Termasuk nantinya bank usaha syariah (BUS),” tutur Lani kepada Kontan, Selasa (16/6/2026).
Di luar itu, sejumlah bank penghuni KBMI 1 nampaknya juga tak melihat konsolidasi sebagai opsi utama. Misalnya saja, Bank Ina Perdana.
Hingga Maret 2026, modal inti bank konglomerasi ini mencapai Rp 2,81 triliun. Nah demi mengejar sisa modal inti sesuai ketentuan, Direktur Utama Bank Ina Henry Koenaifi mengaku bakal menempuh skema penambahan modal berupa uang tunai oleh pemegang saham.
Baca Juga: BJB Syariah Bidik Pembiayaan Emas Tumbuh 33% Tahun Ini,Optimistis Minat Masih Positif
“Kami sudah informasikan pemegang saham dan mereka siap untuk menambah modal sampai sesuai ketentuan,” ungkap Henry kepada Kontan, Selasa (16/6/2026).
Di luar itu, untuk saat ini, Bank Ina nampaknya belum membuka opsi penambahan modal secara anorganik, termasuk melalui konsolidasi. Alih-alih, Henry mengaku pihaknya bakal mengejar pertumbuhan kinerja, salah satunya melalui perluasan portofolio kredit.
Terkait itu, ia bilang pihaknya saat ini membidik sejumlah segmen potensial, salah satunya yaitu kredit pemilikan rumah (KPR).
Tak jauh berbeda, Bank Oke (OK Bank) hingga saat ini juga belum memiliki rencana konsolidasi tertentu. Hingga Maret 2026, posisi modal inti OK Bank ada di Rp 3,82 triliun. Artinya, saat ini bank masih kekurangan modal inti kisaran Rp 2,17 triliun untuk bisa naik kelas ke KBMI 2.
Sekretaris Perusahaan sekaligus Direktur Kepatuhan OK Bank Efdinal Alamsyah mengaku terus mengevaluasi berbagai opsi strategis untuk menambah modal inti, termasuk peluang konsolidasi maupun aksi korporasi. “Namun hingga saat ini belum terdapat rencana konsolidasi tertentu yang dapat disampaikan kepada publik,” katanya.
Kendati begitu, Efdinal memastikan pihaknya bakal senantiasa mengikuti kebijakan dan arahan regulator. Toh, lanjutnya, aturan terkait penghapusan KBMI 1 dan anjuran naik kelas ke KBMI 2 ini bertujuan untuk memperkuat struktur permodalan industri.
Baca Juga: Pembiayaan Emas BCA Syariah Tumbuh 136% hingga Mei 2026
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













