Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Simpanan nasabah jumbo di perbankan terus menggelembung. Lonjakan ini bukan semata mencerminkan akumulasi kekayaan kelompok atas, tetapi juga menunjukkan sikap wait and see pemilik dana besar di tengah risiko geopolitik dan ketidakpastian arah ekonomi.
Data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menunjukkan nilai simpanan nasabah dengan saldo di atas Rp 5 miliar melonjak 22,76% secara tahunan. Kenaikan ini jauh melampaui pertumbuhan simpanan kelompok menengah dan bawah yang cenderung stagnan, bahkan tertekan.
Wakil Ketua Dewan Komisioner LPS Farid Azhar Nasution menjelaskan, lonjakan simpanan jumbo tidak sepenuhnya bersifat organik.
Salah satu pendorongnya adalah kebijakan Kementerian Keuangan yang menempatkan Saldo Anggaran Lebih (SAL) pemerintah di bank-bank Himpunan Bank Milik Negara (Himbara).
Baca Juga: Simpanan Nasabah Kaya Naik 9,45% Meski Ekonomi Lesu, Ini Alasannya
Namun, Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira menilai, tren ini memperlihatkan ketimpangan yang makin nyata. Menurutnya, pertumbuhan simpanan terkonsentrasi di kelompok kaya, sementara simpanan di bawah Rp 100 juta justru mengalami tekanan.
Kondisi tersebut membuat bank berlomba memburu dana besar dengan menawarkan bunga tinggi atau special rate. Dampaknya, biaya dana (cost of fund) perbankan ikut naik.
“Ini menjadi sinyal bank semakin kesulitan mendapatkan dana murah,” kata Bhima.
Situasi ini sekaligus menandai berakhirnya era dana murah. Bank dituntut lebih agresif memperluas basis tabungan, termasuk mendorong pembukaan rekening baru dari pelaku usaha baru dan segmen UMKM.
Baca Juga: Simpanan Nasabah Kaya di Perbankan Kian Meroket
Tanpa langkah itu, tekanan biaya bunga berisiko terus meningkat dan menggerus margin.
Di tengah tren tersebut, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) mencatat pertumbuhan agresif di segmen nasabah kaya.
Sepanjang 2025, dana pihak ketiga (DPK) dari nasabah dengan aset kelolaan di atas Rp 5 miliar tumbuh lebih dari 20% secara tahunan, didominasi produk tabungan dan menjadi yang tertinggi di segmen private banking.
General Manager Divisi Wealth Management BNI Henny Eugenia menyebutkan, lonjakan ini ditopang kolaborasi yang semakin erat antara consumer banking dan business banking.
Dari sisi jumlah rekening, nasabah dengan aset kelolaan di atas Rp 5 miliar tumbuh lebih dari 15% secara tahunan, sementara nasabah private banking dengan AUM di atas Rp 15 miliar melonjak sekitar 25%.
Baca Juga: HSBC Putus Hubungan dengan Nasabah Kaya Timur Tengah di Swiss
Meski demikian, lebih dari 60% dana tersebut masih berasal dari nasabah non-perorangan. Henny mengakui, pertumbuhan segmen ritel mulai berakselerasi, terutama pada produk tabungan.
Tren serupa terlihat di HSBC Indonesia. Direktur International Wealth and Premier Banking HSBC Indonesia Lanny Hendra mengatakan, simpanan nasabah kaya di bank tersebut tetap tumbuh solid hingga akhir 2025, seiring kinerja positif produk deposito, investasi, dan bancassurance.
Menurutnya, kondisi ini mencerminkan strategi diversifikasi portofolio nasabah di tengah ketidakpastian ekonomi.
Selanjutnya: BI Masih Buka Peluang Turunkan Suku Bunga, Inflasi Inti Tetap Rendah
Menarik Dibaca: Ramalan Zodiak Keuangan dan Karier Terbaru Untuk Hari Ini Rabu 28 Januari 2026
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













