kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45736,73   34,31   4.88%
  • EMAS931.000 -0,32%
  • RD.SAHAM -0.69%
  • RD.CAMPURAN -0.34%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

Bankir memprediksi NIM masih bakal layu di tahun depan


Selasa, 17 Desember 2019 / 19:19 WIB
Bankir memprediksi NIM masih bakal layu di tahun depan
ILUSTRASI. Pelayanan nasabah Bank BCA di Tangerang Selatan, Jumat (8/11). Rasio net interest margin (NIM) industri perbankan yang berada di level 4,9% per September 2019./pho KONTAN/Carolus Agus Waluyo/08/11/2019.

Reporter: Laurensius Marshall Sautlan Sitanggang | Editor: Tendi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tahun ini, kemampuan bank mencetak margin bunga lebih loyo. Hal ini tercermin dari rasio net interest margin (NIM) industri perbankan yang berada di level 4,9% per September 2019. Posisi tersebut nyaris tak bergerak sejak bulan Mei 2019 silam.

Pun, beberapa bank juga mencatatkan penurunan NIM di tahun ini. Semisal bank umum kelompok usaha (BUKU) IV yang mencatatkan NIM di kuartal III 2019 sebesar 5,48%. Menurun dari periode tahun lalu yang sempat menyentuh 5,8%.

Baca Juga: Punya direktur keuangan, LinkAja siap cari investor swasta

Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BCA) Jahja Setiaatmadja mengatakan, penurunan NIM lebih disebabkan dari sisi likuiditas dan kemampuan tiap bank menyalurkan kredit. Apalagi, Bank Indonesia (BI) juga sudah menurunkan tingkat bunga acuan BI 7 days reverse repo rate (7DRRR) sebanyak 100 bps tahun ini menjadi 5%.

Jahja juga mengatakan, ruang penurunan NIM masih bisa berlanjut sampai tahun depan. Namun, di sisi lain bisa saja NIM malah mengalami peningkatan jika kondisi likuiditas dan permintaan kredit memadai. "Bunga tidak bisa diramal tetap stabil atau turun terus, jadi NIM tergantung dari tingkat bunga," terangnya kepada Kontan.co.id, Selasa (17/12).

Lagipula, perbankan juga menurut Jahja belum sepenuhnya mentransmisikan penurunan bunga deposito ke tingkat bunga kredit. Artinya NIM bisa saja justru tumbuh.

Namun, penurunan bunga dipastikan akan terjadi. Hanya saja, tenggat waktunya sangat beragam. "Deposito lama belum bisa turun bunganya sampai jatuh tempo, bisa satu sampai 12 bulan tergantung tenor," katanya.

Baca Juga: Kredit ekspor-impor BCA ikuti kinerja negara

Catatan saja, BCA sampai akhir September 2019 lalu masih mampu mencatat NIM di level tinggi 6,2% mengalahkan BUKU IV lainnya. Pun, kondisi tersebut naik 10 basis poin dari tahun sebelumnya atau year on year (yoy). BCA sendiri diakui Jahja tidak mematok target untuk posisi NIM di tahun depan.

Di samping itu, bank menengah atau BUKU III terpantau menjadi kelompok bank dengan penyusutan NIM paling tajam. Data OJK menunjukkan NIM BUKU III turun 25 bps secara tahunan menjadi 3,97% di kuartal III 2019.




TERBARU

Close [X]
×