kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.904.000   -43.000   -1,46%
  • USD/IDR 16.853   10,00   0,06%
  • IDX 8.212   -53,08   -0,64%
  • KOMPAS100 1.158   -9,98   -0,85%
  • LQ45 830   -9,73   -1,16%
  • ISSI 295   -1,25   -0,42%
  • IDX30 432   -3,95   -0,91%
  • IDXHIDIV20 516   -4,82   -0,92%
  • IDX80 129   -1,21   -0,93%
  • IDXV30 142   -0,67   -0,47%
  • IDXQ30 139   -1,75   -1,24%

Kesenjangan Kesiapan Pensiun Makin Nyata, Mayoritas Warga RI Perkirakan Tetap Bekerja


Jumat, 13 Februari 2026 / 20:04 WIB
Kesenjangan Kesiapan Pensiun Makin Nyata, Mayoritas Warga RI Perkirakan Tetap Bekerja
ILUSTRASI. Dana pensiun (CFOTO/Sipa USA via Reuters ). Survei terbaru mengungkap, perencanaan pensiun sejak dini adalah kunci kebebasan finansial. Temukan strategi terbaik.


Reporter: Noverius Laoli | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kesiapan pensiun masyarakat Indonesia masih menghadapi kesenjangan besar. Survei terbaru Sun Life Indonesia di Asia menunjukkan, meski sebagian orang memilih tetap bekerja di usia pensiun demi aktualisasi diri, tak sedikit yang terpaksa melakukannya karena tekanan kebutuhan ekonomi.

Tantangan ini mengemuka di tengah perubahan demografi. Indonesia memasuki fase penuaan penduduk dengan sekitar 30,9 juta warga berusia 60 tahun ke atas pada 2023, atau 11,1% dari total populasi. 

Jumlah tersebut diproyeksikan melonjak menjadi 64,9 juta orang pada 2050, setara 20,5% populasi, menurut data ESCAP.

Kondisi demografi tersebut, ditambah kebiasaan menunda perencanaan pensiun dan meningkatnya ketergantungan pada teknologi digital tanpa pendampingan profesional, dinilai berpotensi memperlebar kesenjangan kesiapan pensiun di Tanah Air.

Baca Juga: Setahun Trump: Mayoritas Warga AS Nilai Presiden Bawa Negara ke Arah Buruk

Survei bertajuk Retirement Reimagined: Asia’s Retirement Divide mencatat, 77% responden di Indonesia memperkirakan akan tetap bekerja setelah mencapai usia pensiun. 

Bagi sebagian, bekerja di usia lanjut dipandang sebagai pilihan untuk menjaga kualitas hidup. Alasan yang paling sering disebut antara lain rasa memiliki tujuan dan pemenuhan diri (48%), menjaga relasi sosial (48%), serta stimulasi mental (36%).

Namun, bagi kelompok lain, keputusan tersebut lahir dari tekanan finansial. Sebanyak 71% responden mengaku membutuhkan penghasilan tambahan untuk menutup biaya hidup sehari-hari dan menjaga keamanan finansial jangka panjang.

Presiden Direktur Sun Life Indonesia Albertus Wiroyo menegaskan adanya dua realitas yang berbeda dalam menghadapi pensiun. 

“Perencanaan pensiun sejak dini menentukan apakah bekerja di usia lanjut menjadi pilihan atau keterpaksaan,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (13/2/2026).

Baca Juga: Dana Pensiun Bank Mandiri Jaga Pendanaan di Tengah Perlambatan Peserta Aktif

Riset ini mengelompokkan responden ke dalam dua kategori utama. 

Pertama, Gold Star Planners, yakni mereka yang relatif siap secara finansial dan memiliki keleluasaan memilih kapan serta bagaimana mengurangi aktivitas kerja. 

Kedua, Stalled Starters, yaitu kelompok yang menunda pensiun karena belum mampu berhenti bekerja.

Bagi Gold Star Planners, melanjutkan pekerjaan lebih banyak didorong oleh tujuan hidup dan kesejahteraan. 

Sebaliknya, Stalled Starters cenderung menunda pensiun karena alasan ekonomi, termasuk kebutuhan membiayai pendidikan dan kebutuhan hidup anak. Sebanyak 43% dari kelompok ini menyebut faktor tersebut sebagai penyebab utama.

Di sisi lain, pemanfaatan teknologi digital juga membawa tantangan baru. Survei mencatat penggunaan generative AI sebagai sumber informasi keuangan melonjak dari 13% menjadi 30%. 

Sebaliknya, minat berkonsultasi dengan bank atau penasihat keuangan profesional justru menurun dibanding tahun sebelumnya.

Albertus mengingatkan bahwa kemudahan akses teknologi tidak selalu diiringi pemahaman yang memadai. “AI bisa membantu sebagai titik awal, tetapi nasihat profesional tetap dibutuhkan agar keputusan pensiun selaras dengan kondisi dan tujuan individu,” katanya.

Baca Juga: Pengurus DPLK Avrist Ungkap Skema yang Tepat dalam Mengelola Dana Pensiun

Keamanan finansial terbukti berkorelasi kuat dengan optimisme menghadapi pensiun. Responden yang menantikan masa pensiun umumnya merasa aman secara finansial dan lebih siap menghadapi transisi hidup. 

Sebaliknya, kekhawatiran terbesar bagi mereka yang cemas menghadapi pensiun adalah ketidakmampuan menopang keluarga dan ketidakpastian ekonomi.

Survei juga menunjukkan, perencanaan pensiun masyarakat Indonesia masih relatif pendek. Sebanyak 24% responden mengaku tidak memiliki rencana sama sekali sebelum pensiun, sementara 34% baru menyusunnya dua tahun menjelang berhenti bekerja. 

Hanya 38% yang merasa sangat percaya diri dengan rencana pensiunnya.

Tekanan tambahan datang dari fenomena sandwich generation, di mana pekerja harus menopang orang tua sekaligus anak. Kondisi ini mendorong sebagian responden menurunkan ekspektasi gaya hidup atau menunda pensiun.

Baca Juga: Dana Pensiun Bank Mandiri Jaga Pendanaan di Tengah Perlambatan Penambahan Peserta

Di tengah berbagai tantangan tersebut, mayoritas masyarakat menginginkan kendali lebih besar atas waktu pensiun. Sebanyak 77% responden menilai pensiun seharusnya menjadi pilihan pribadi, bukan batas usia yang kaku, dan 81% mendukung bekerja melampaui usia pensiun.

Aspek kesehatan juga menjadi faktor kunci. Kondisi fisik dan mental yang baik mendorong optimisme terhadap pensiun, sementara kesehatan yang menurun kerap menjadi alasan pensiun lebih dini.

“Kesehatan adalah kekayaan nyata di masa pensiun. Perencanaan yang menyeluruh akan membantu memastikan keamanan finansial dan kualitas hidup jangka panjang,” tutup Albertus.

Selanjutnya: Delegasi Ukraina Siap Negosiasi dengan Rusia di Jenewa 17–18 Februari

Menarik Dibaca: 13 Makanan Rendah Kalori yang Bagus Dikonsumsi saat Diet

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! [Intensive Workshop] Excel for Business Reporting

[X]
×