kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.598.000   5.000   0,19%
  • USD/IDR 17.761   68,00   0,38%
  • IDX 6.462   25,58   0,40%
  • KOMPAS100 852   2,28   0,27%
  • LQ45 648   1,42   0,22%
  • ISSI 224   1,27   0,57%
  • IDX30 360   1,29   0,36%
  • IDXHIDIV20 450   2,37   0,53%
  • IDX80 97   0,26   0,27%
  • IDXV30 124   0,43   0,35%
  • IDXQ30 116   0,50   0,43%

Beda Strategi Bank Swasta dan Himbara Menghadapi Tingginya Cost of Fund


Jumat, 18 September 2026 / 06:15 WIB
Beda Strategi Bank Swasta dan Himbara Menghadapi Tingginya Cost of Fund
ILUSTRASI. Strategi penghimpunan dana perbankan menunjukkan perbedaan arah antara bank swasta dan bank milik negara (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Strategi penghimpunan dana perbankan menunjukkan perbedaan arah antara bank swasta dan bank milik negara. Di tengah upaya menekan biaya dana atau cost of fund (CoF), sejumlah bank swasta mengurangi porsi deposito dan memperbesar dana murah melalui giro serta tabungan atau current account saving account (CASA).

Sementara itu, bank-bank yang tergabung dalam Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) justru mencatat pertumbuhan deposito yang cukup tinggi hingga pertengahan 2026.

Laporan analisis uang beredar Bank Indonesia (BI) mencatat, hingga Juli 2026 dana pihak ketiga (DPK) perbankan tumbuh 7,7% secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi Rp 9.666,9 triliun.

Pertumbuhan DPK tertinggi berasal dari giro yang meningkat 10,5% yoy menjadi Rp 3.055,6 triliun. Pertumbuhan tersebut sedikit lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 10,2% yoy.

Selanjutnya, tabungan tumbuh 8,2% yoy menjadi Rp 3.182,1 triliun, sama dengan pertumbuhan pada bulan sebelumnya.

Baca Juga: Uang Pekerja Migran Makin Deras, Bisnis Remitansi Bank Makin Menjanjikan

Sementara itu, deposito hanya tumbuh 4,8% yoy menjadi Rp 3.429,1 triliun. Pertumbuhan deposito tersebut melambat dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 6,2% yoy.

Deposito Bank Swasta Menurun

Tren penurunan deposito terlihat pada sejumlah bank swasta besar. Di PT Bank Central Asia Tbk (BCA), misalnya, deposito berkurang 4,3% yoy menjadi Rp 182,62 triliun per Agustus 2026.

Meski demikian, secara keseluruhan DPK BCA masih tumbuh 8,33% yoy menjadi Rp 1.256,8 triliun. Pertumbuhan tersebut ditopang CASA yang meningkat 10,82% yoy menjadi Rp 1.074,2 triliun.

Kondisi serupa terjadi di PT Bank CIMB Niaga Tbk. Deposito CIMB Niaga turun 12,52% yoy menjadi Rp 69,1 triliun per Juli 2026. Di sisi lain, CASA masih tumbuh 7,14% yoy menjadi Rp 189,4 triliun.

Dengan pertumbuhan CASA tersebut, total DPK CIMB Niaga masih meningkat tipis 1,06% yoy menjadi Rp 258,5 triliun.

Penurunan deposito juga terjadi di PT Bank Maybank Indonesia Tbk. Per Juli 2026, deposito Maybank Indonesia turun 7,04% yoy menjadi Rp 48,2 triliun.

Namun, CASA Maybank Indonesia justru tumbuh 19,93% yoy menjadi Rp 81,52 triliun. Alhasil, total DPK perseroan tetap tumbuh 8,26% yoy menjadi Rp 129,73 triliun.

Himbara Justru Genjot Deposito

Berbeda dengan bank swasta, tren penghimpunan deposito di kelompok Himbara justru menunjukkan pertumbuhan signifikan.

Hingga Agustus 2026, deposito Bank Mandiri tumbuh 47,77% yoy menjadi Rp 501,4 triliun. Pada periode yang sama, CASA tumbuh 8,21% yoy menjadi Rp 1.185,7 triliun.

Dengan demikian, total DPK Bank Mandiri meningkat 17,56% yoy menjadi Rp 1.687,2 triliun.

Pertumbuhan deposito yang lebih tinggi juga dicatatkan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI). Deposito BNI melonjak 63,75% yoy menjadi Rp 389,9 triliun.

Sementara itu, CASA BNI tumbuh 16,44% yoy menjadi Rp 734,7 triliun. Total DPK BNI pun naik 29,4% yoy menjadi Rp 1.124,7 triliun.

Baca Juga: Pinjol Ilegal Masih Bermunculan, OJK Ungkap 951 Entitas Dihentikan

PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) juga mencatat pertumbuhan deposito meski tidak setinggi Mandiri dan BNI. Deposito BRI naik 9,61% yoy menjadi Rp 547,03 triliun.

CASA BRI tumbuh 11,73% yoy menjadi Rp 1.070,2 triliun. Alhasil, total DPK BRI meningkat 11% yoy menjadi Rp 1.617,2 triliun.

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef M. Rizal Taufikurahman menyebut, Himbara memang unggul karena memiliki ekosistem dana pemerintah, BUMN, payroll, dan korporasi besar yang relatif captive, sehingga daya serap likuiditasnya lebih kuat.

Namun di luar itu, Rizal bilang penjaringan deposito yang masif di Himbara pada dasarnya sejalan dengan kebutuhan pendanaan di tengah agresivitas ekspansi kredit–penguatan DPK dibutuhkan untuk menjaga likuiditas.

“Jadi, deposito yang tinggi bukan hanya tanda kekuatan funding, tetapi konsekuensi dari neraca yang sedang berekspansi,” kata Rizal kepada Kontan, Kamis (17/9/2026).

Menurut Rizal, perbedaan tren deposito di Himbara dan bank swasta bakal ditentukan oleh empat variabel, yakni arah suku bunga acuan, spread bunga deposito, pertumbuhan kredit dibanding DPK, serta penempatan dana pemerintah dan korporasi.

Ia bilang bank swasta bisa saja menaikkan bunga dalam pricing deposito, tetapi pergeseran dana bakal tetap sulit terjadi jika dana institusional masih cenderung terkonsentrasi di Himbara.

Di luar itu, Rizal berpandangan, yang perlu menjadi perhatian adalah apakah konsentrasi likuiditas mulai mengubah biaya dana, distribusi kredit, dan keseimbangan kompetisi di tengah industri perbankan.

Bank Fokus Perkuat CASA

Dalam pandangan Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan, deposito sejatinya hanya salah satu produk dalam DPK untuk menjaga likuiditas. Pihaknya sendiri lebih memfokuskan diri ke CASA dengan pertimbangan CoF yang lebih rendah.

“Maka rasio CASA kami saat ini di kisaran 72% dan kami jaga di atas 70%,” tutur Lani.

Baca Juga: Bjb Syariah (BJBS) Raih Rating idA+ dengan Prospek Stabil dari Pefindo

Lagipula, lanjut Lani, saat ini kondisi harga DPK masih mahal–belum lagi memperhitungkan potensi kenaikan suku bunga ke depan. Saat ini, yang terpenting bank mampu menjaga likuiditas di level yang sehat dan efisien.

EVP Corporate Communication and Social Responsibility BCA Hera F Haryn menyebut pihaknya juga fokus memastikan CoF terjaga. Ditopang keunggulan layanan transaksi bank, BCA optimistis dapat menjaga komposisi pendanaan tetap sehat dan kuat.

Dengan begitu, lanjut Hera, BCA dapat senantiasa memastikan likuiditas memadai untuk menyokong komitmen bank dalam menyalurkan kredit berkualitas ke berbagai segmen dan sektor secara pruden.

“Sekaligus mempertimbangkan prinsip kehati-hatian dengan penerapan manajemen risiko disiplin,” imbuhnya.

Sementara itu, Head of Investor Relation BNI Yohan Setio menyebut BNI mampu memenangkan market share di pasar DPK karena terus memperbaiki value proposition. Utamanya, dalam hal produk digital yang membuat performa transaksi meningkat dan mendorong dana mengendap.

Di luar itu, BNI percaya diri dapat menjaga beban CoF. Hingga Juni 2026, CoF BNI ada di 2,56%, turun dari posisi 2,78% pada periode yang sama tahun sebelumnya.

“Namun kami belum bisa bilang kami puas dengan CoF di kisaran 2,6%. Menurut kami masih banyak ruang improvisasi untuk CoF bisa lebih baik lagi ke depannya,” kata Yohan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU

[X]
×