kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.598.000   5.000   0,19%
  • USD/IDR 17.761   68,00   0,38%
  • IDX 6.462   25,58   0,40%
  • KOMPAS100 852   2,28   0,27%
  • LQ45 648   1,42   0,22%
  • ISSI 224   1,27   0,57%
  • IDX30 360   1,29   0,36%
  • IDXHIDIV20 450   2,37   0,53%
  • IDX80 97   0,26   0,27%
  • IDXV30 124   0,43   0,35%
  • IDXQ30 116   0,50   0,43%

Deposito Bank Swasta Susut di Era Suku Bunga Tinggi, Punya Himbara Masih Merekah


Kamis, 17 September 2026 / 20:33 WIB
Deposito Bank Swasta Susut di Era Suku Bunga Tinggi, Punya Himbara Masih Merekah
ILUSTRASI. Bank Indonesia (BI) mencatat, hingga Juli 2026 dana pihak ketiga (DPK) perbankan tumbuh 7,7% secara tahunan menjadi Rp 9.666,9 triliun (KONTAN/Baihaki)


Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Tingginya suku bunga mendorong perbankan memperkuat dana murah giro dan tabungan (current account saving account/CASA) untuk menekan biaya dana (cost of fund/CoF). Pada sejumlah bank, khususnya bank swasta, upaya itu juga diikuti dengan pengurangan deposito sebagai dana mahal. 

Laporan analisis uang beredar Bank Indonesia (BI) mencatat, hingga Juli 2026 dana pihak ketiga (DPK) perbankan tumbuh 7,7% secara tahunan (year-on-year/YOY) menjadi Rp 9.666,9 triliun. 

Pertumbuhan tertinggi ditorehkan giro sebesar 10,5% YOY menjadi Rp 3.055,6 triliun, melaju dari pertumbuhan 10,2% YOY pada bulan sebelumnya. Kemudian disusul tabungan tumbuh 8,2% YOY menjadi Rp 3.182,1 triliun, sama dengan pertumbuhan bulan sebelumnya. 

Baca Juga: Bjb Syariah (BJBS) Raih Rating idA+ dengan Prospek Stabil dari Pefindo

Sementara itu, deposito hanya tumbuh 4,8% YOY menjadi Rp 3.429,1 triliun, melambat dari pertumbuhan 6,2% YOY pada bulan sebelumnya. 

Di sejumlah bank swasta besar, jumlah deposito bahkan berkurang. Bank Central Asia (BCA) misalnya, berkurang 4,3% YOY menjadi Rp 182,62 triliun per Agustus 2026. Secara keseluruhan, DPK bank masih tumbuh 8,33% YOY menjadi Rp 1.256,8 triliun, ditopang CASA yang naik 10,82% YOY menjadi Rp 1.074,2 triliun. 

CIMB Niaga juga, depositonya turun 12,52% YOY menjadi Rp 69,1 triliun per Juli 2026, sementara CASA masih tumbuh 7,14% YOY menjadi Rp 189,4 triliun sehingga total DPK berhasil naik tipis 1,06% YOY menjadi Rp 258,5 triliun. 

Pun, deposito Maybank Indonesia turun 7,04% YOY menjadi Rp 48,2 triliun per Juli 2026 dan CASA tumbuh 19,93% YOY menjadi Rp 81,52 triliun. Dus, total DPK masih naik 8,26% YOY menjadi Rp 129,73 triliun. 

Namun, trennya berbeda di Himpunan Bank Milik Negara (Himbara). 

Hingga Agustus 2026, deposito Bank Mandiri tumbuh 47,77% YOY menjadi Rp 501,4 triliun. Di sisi lain, CASA tumbuh 8,21% YOY menjadi Rp 1.185,7 triliun sehingga total DPK naik 17,56% YOY menjadi Rp 1.687,2 triliun. 

Di Bank Negara Indonesia (BNI), deposito bahkan melonjak 63,75% YOY menjadi Rp 389,9 triliun. Dengan CASA tumbuh 16,44% YOY menjadi Rp 734,7 triliun, total DPK BNI naik 29,4% YOY menjadi Rp 1.124,7 triliun. 

Baca Juga: Cukup Tap to Pay, BRI Kartu Kredit Beri Diskon 25% untuk Boost Juice Bar!

Sementara itu, Bank Rakyat Indonesia (BRI) mencatat kenaikan deposito sebesar 9,61% YOY menjadi Rp 547,03 triliun. CASA tumbuh 11,73% YOY menjadi Rp 1.070,2 triliun, sehingga total DPK naik 11% YOY menjadi Rp 1.617,2 triliun. 

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef M. Rizal Taufikurahman menyebut, Himbara memang unggul karena memiliki ekosistem dana pemerintah, BUMN, payroll, dan korporasi besar yang relatif captive, sehingga daya serap likuiditasnya lebih kuat. 

Namun di luar itu, Rizal bilang penjaringan deposito yang masif di Himbara pada dasarnya sejalan dengan kebutuhan pendanaan di tengah agresivitas ekspansi kredit–penguatan DPK dibutuhkan untuk menjaga likuiditas. 

“Jadi, deposito yang tinggi bukan hanya tanda kekuatan funding, tetapi konsekuensi dari neraca yang sedang berekspansi,” kata Rizal kepada Kontan, Kamis (17/9/2026). 

Menurut Rizal, perbedaan tren deposito di Himbara dan bank swasta bakal ditentukan oleh empat variabel, yakni arah suku bunga acuan, spread bunga deposito, pertumbuhan kredit dibanding DPK, serta penempatan dana pemerintah dan korporasi. 

Ia bilang bank swasta bisa saja menaikkan bunga dalam pricing deposito, tetapi pergeseran dana bakal tetap sulit terjadi jika dana institusional masih cenderung terkonsentrasi di Himbara. 

Baca Juga: Industri Dana Pensiun Hadapi Tantangan Likuiditas dan Kecukupan Iuran

Di luar itu, Rizal berpandangan, yang perlu menjadi perhatian adalah apakah konsentrasi likuiditas mulai mengubah biaya dana, distribusi kredit, dan keseimbangan kompetisi di tengah industri perbankan.

Dalam pandangan Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan, deposito sejatinya hanya salah satu produk dalam DPK untuk menjaga likuiditas. Pihaknya sendiri lebih memfokuskan diri ke CASA dengan pertimbangan CoF yang lebih rendah. 

“Maka rasio CASA kami saat ini di kisaran 72% dan kami jaga di atas 70%,” tutur Lani. 

Lagipula, lanjut Lani, saat ini kondisi harga DPK masih mahal–belum lagi memperhitungkan potensi kenaikan suku bunga ke depan. Saat ini, yang terpenting bank mampu menjaga likuiditas di level yang sehat dan efisien. 

EVP Corporate Communication and Social Responsibility BCA Hera F Haryn mengatakan, pihaknya juga fokus memastikan CoF terjaga. Ditopang keunggulan layanan transaksi bank, BCA optimistis dapat menjaga komposisi pendanaan tetap sehat dan kuat. 

Dengan begitu, lanjut Hera, BCA dapat senantiasa memastikan likuiditas memadai untuk menyokong komitmen bank dalam menyalurkan kredit berkualitas ke berbagai segmen dan sektor secara pruden. 

“Sekaligus mempertimbangkan prinsip kehati-hatian dengan penerapan manajemen risiko disiplin,” imbuhnya. 

Baca Juga: Biaya JKN Tembus Rp191,3 Triliun, BPJS Kesehatan Siapkan Strategi Baru

Sementara itu, Head of Investor Relation BNI Yohan Setio menyebut BNI mampu memenangkan market share di pasar DPK karena terus memperbaiki value proposition. Utamanya, dalam hal produk digital yang membuat performa transaksi meningkat dan mendorong dana mengendap. 

Di luar itu, BNI percaya diri dapat menjaga beban CoF. Hingga Juni 2026, CoF BNI ada di 2,56%, turun dari posisi 2,78% pada periode yang sama tahun sebelumnya. 

“Namun kami belum bisa bilang kami puas dengan CoF di kisaran 2,6%. Menurut kami masih banyak ruang improvisasi untuk CoF bisa lebih baik lagi ke depannya,” kata Yohan. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?

Video Terkait



TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×