kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.690.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.910   -29,00   -0,16%
  • IDX 6.410   65,94   1,04%
  • KOMPAS100 845   12,09   1,45%
  • LQ45 640   9,44   1,50%
  • ISSI 222   2,82   1,29%
  • IDX30 359   5,14   1,45%
  • IDXHIDIV20 438   4,81   1,11%
  • IDX80 96   1,44   1,52%
  • IDXV30 120   0,97   0,81%
  • IDXQ30 114   1,39   1,23%

Tambahan Dana SAL Rp 400 Triliun, Bank Swasta Bisa Ikut Pangkas Biaya Dana


Minggu, 09 Agustus 2026 / 17:25 WIB
Tambahan Dana SAL Rp 400 Triliun, Bank Swasta Bisa Ikut Pangkas Biaya Dana
ILUSTRASI. Teller melayani nasabah yang menabung di Bank BCA (KONTAN/Baihaki)


Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kebijakan pemerintah menambah penempatan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) di bank-bank Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) hingga mencapai Rp 400 triliun dinilai mulai mengubah dinamika likuiditas perbankan.

Tambahan likuiditas tersebut diperkirakan dapat meredakan persaingan penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) dan membuka ruang penurunan biaya dana atau cost of fund (CoF), meski dampaknya terhadap bank swasta diperkirakan tidak akan merata.

Data Bank Indonesia menunjukkan tekanan biaya dana memang masih berlangsung. Pada Mei 2026, biaya dana (HPDK) meningkat menjadi 3,03% dari 3,00% pada April 2026.

Baca Juga: OJK: Fenomena Tech Winter Masih Jadi Perhatian bagi Industri Modal Ventura Saat Ini

Kenaikan tersebut terutama berasal dari kelompok bank BUMN yang HPDK-nya naik dari 2,77% menjadi 2,84%. BI menjelaskan, peningkatan tersebut dipengaruhi perubahan struktur pendanaan setelah tambahan penempatan dana SAL sebesar Rp 110 triliun pada akhir Mei 2026 yang sebagian besar ditempatkan dalam bentuk deposito.

Meski demikian, secara kinerja sejumlah Himbara masih mampu menurunkan biaya dana secara tahunan. CoF Bank Mandiri turun dari 2,44% pada semester I-2025 menjadi 2,01% pada semester I-2026. BNI juga mencatat penurunan dari 2,78% menjadi 2,56%, sementara BTN berhasil memangkas CoF dari 4,1% menjadi 3,0%.

Namun secara kuartalan, tekanan masih terlihat. CoF Bank Mandiri naik dari 1,97% pada kuartal I-2026 menjadi 2,01% pada semester I-2026. BNI juga mengalami kenaikan dari 2,49% menjadi 2,63% pada periode yang sama, mencerminkan persaingan likuiditas yang masih cukup ketat di industri perbankan.

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Muhammad Rizal Taufikurahman mengatakan, penempatan dana SAL pada dasarnya memberikan keuntungan bagi Himbara karena memperoleh sumber likuiditas yang relatif murah.

Namun demikian, dampaknya terhadap biaya dana bank swasta tidak serta-merta langsung terasa. "Efeknya lebih banyak melalui berkurangnya tekanan Himbara dalam berebut DPK. Jadi kalau agresivitas bunga deposito Himbara menurun, bank swasta punya ruang menurunkan cost of fund. Tetapi kalau dana murah itu justru dipakai untuk ekspansi kredit agresif, kompetisi hanya bergeser dari sisi pendanaan ke sisi penyaluran kredit," ujar Rizal kepada Kontan, Minggu (9/8/2026).

Menurutnya, tambahan SAL hingga sekitar Rp 400 triliun berpotensi membuat persaingan penghimpunan DPK menjadi lebih longgar secara agregat. Namun distribusi likuiditas masih menjadi tantangan karena dana cenderung terkonsentrasi pada kelompok bank tertentu.

"Bank swasta, terutama yang basis CASA-nya lemah, tetap bisa menghadapi biaya dana tinggi. Karena itu isu utamanya bukan hanya likuiditas cukup atau tidak, tetapi seberapa merata likuiditas tersebut tersebar di industri perbankan," katanya.

Baca Juga: Terkontraksi 5,33%, Pembiayaan Investasi Multifinance Rp 167,89 Triliun per Juni 2026

Rizal menilai, bank swasta sebaiknya tidak terpancing perang suku bunga deposito. Sebaliknya, strategi yang lebih tepat adalah memperkuat dana murah (CASA), membangun ekosistem transaksi, meningkatkan loyalitas nasabah, serta mendiversifikasi sumber pendanaan agar ketergantungan terhadap deposito berbiaya tinggi semakin berkurang.

Ia memperkirakan tekanan biaya dana masih akan bertahan hingga akhir 2026 seiring tingginya kebutuhan pembiayaan kredit dan persaingan penghimpunan dana.

"Tambahan SAL memang bisa meredakan tekanan likuiditas, tetapi pada saat yang sama berpotensi menciptakan competitive asymmetry antara Himbara dan bank swasta. Bank swasta harus lebih disiplin dalam pertumbuhan kredit, memperkuat dana murah, dan menjaga pricing berbasis risiko agar tidak mengorbankan margin maupun kualitas aset," ujarnya.

Pandangan serupa disampaikan Direktur Risk, Compliance, and Legal Allo Bank Ganda Raharja Rusli. Menurutnya, tambahan dana SAL mulai mengurangi tekanan likuiditas di industri perbankan.

"Dengan adanya penambahan dana SAL ke Bank Himbara menjadi Rp 400 triliun, tekanan likuiditas di perbankan nasional dan tekanan cost of fund menjadi berkurang. Hal tersebut yang terjadi selama kurun waktu seminggu pertama Agustus dan diharapkan berlangsung hingga akhir tahun 2026," ujar Ganda.

Ia menilai, tambahan likuiditas tersebut membuat persaingan penghimpunan DPK menjadi lebih longgar sehingga bank swasta memiliki ruang untuk menurunkan biaya dana.

Meski demikian, menurutnya industri masih akan terus memantau perkembangan sebelum melakukan penyesuaian strategi pendanaan.

"Karena tambahan dana SAL ke Bank Himbara baru terjadi beberapa bulan, bank masih terus memantau situasi dan tidak menutup kemungkinan penurunan biaya dana dalam beberapa bulan ke depan," katanya.

Baca Juga: OJK: Tingginya Minat Ibadah Haji dan Umrah Bisa Jadi Peluang bagi Multifinance

Di sisi lain, Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan mengaku, hingga saat ini perseroan belum melihat adanya penurunan biaya dana maupun berkurangnya persaingan dalam menghimpun dana.

"Kami melihat cost of fund belum menurun saat ini. Kami juga belum melihat persaingan mendapatkan dana berkurang. Sampai akhir tahun masih sulit diprediksi karena akan tergantung BI Rate, kondisi likuiditas, serta instrumen seperti SBN dan SRBI," ujarnya.

Sementara itu, Executive Vice President Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn mengatakan, biaya dana BCA masih relatif terjaga karena didukung dominasi dana murah.

Menurut Hera, hingga Juni 2026 dana murah atau CASA BCA tumbuh 10,2% secara tahunan menjadi Rp 1.082 triliun. Total dana pihak ketiga (DPK) mencapai Rp 1.284 triliun atau naik 7,9% dibandingkan tahun lalu, dengan porsi CASA mencapai 84,3% dari total DPK.

"BCA sejalan dengan langkah pemerintah dalam mengelola likuiditas perbankan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Cost of fund BCA sejauh ini relatif terjaga sehubungan dengan keunggulan perbankan transaksi yang dimiliki BCA," kata Hera.

Ia menambahkan, BCA optimistis dapat mempertahankan struktur pendanaan yang sehat dan tetap menyalurkan kredit secara pruden.

Sementara itu, Wholesale Banking Director PT Bank KB Indonesia Tbk Widodo Suryadi mengakui biaya dana perseroan meningkat mengikuti kenaikan BI Rate.

"Sejalan dengan penyesuaian suku bunga acuan Bank Indonesia pada Mei lalu, biaya dana KB Bank memang bergerak naik dibandingkan periode sebelumnya. Tren ini dirasakan industri perbankan secara umum sehingga kami melihatnya sebagai konsekuensi wajar dari siklus suku bunga," ujar Widodo.

Menurutnya, KB Bank akan lebih selektif dalam menawarkan suku bunga khusus untuk penghimpunan dana sekaligus memperbesar porsi dana murah agar struktur pendanaan tetap efisien.

Baca Juga: Dikenai Sanksi Pembatasan Usaha, OJK: KoinP2P Tidak Bisa Salurkan Pembiayaan Baru

"Dari sisi kredit, kami juga akan lebih berhati-hati dalam menetapkan suku bunga kredit dengan mempertimbangkan biaya dana, profil risiko, dan kondisi pasar," katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU

[X]
×