kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45694,52   23,75   3.54%
  • EMAS924.000 -0,22%
  • RD.SAHAM -0.69%
  • RD.CAMPURAN -0.34%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

Begini cara Bank Mandiri membuat karyawan milenial betah ngantor


Jumat, 26 Oktober 2018 / 16:51 WIB
Begini cara Bank Mandiri membuat karyawan milenial betah ngantor
ILUSTRASI. Bank Mandiri

Reporter: Laurensius Marshall Sautlan Sitanggang | Editor: Narita Indrastiti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Bank Mandiri Tbk menghadapi banyak tantangan dalam meningkatkan kinerja bisnis secara berkelanjutan. Tantangan tersebut diantaranya disrupsi digital dan teknologi, era Volatility, Uncertainty, Complexity dan Ambiguity (VUCA), serta hadirnya generasi milenial.

“Tantangan tersebut mendorong kami untuk terus berinovasi, termasuk yang menjadi salah satu fokus utama kami adalah pengelolaan sumber daya manusia, dimana saat ini lebih dari separuh pegawai Bank Mandiri merupakan usia milenial,” ujar Direktur Kepatuhan Bank Mandiri yang membawahi Human Capital Agus Dwi Handaya saat berbincang-bincang dengan media di Plaza Mandiri Jakarta, Jumat (26/10).


Generasi milenial, lanjut Agus, merupakan generasi yang dikenal kreatif, borderless, tech savvy, dan tidak sungkan dalam berpendapat. Karakter ini menjadi salah satu kekuatan positif jika dapat dikelola dengan baik.

Agus mengemukakan, Bank Mandiri juga menyadari bahwa waktu para pegawai dalam satu hari banyak dihabiskan untuk bekerja. Karena itu perusahaan berupaya memberikan kenyamanan bekerja kepada seluruh pegawai.

“Kami terus berupaya meningkatkan pengembangan karyawan baik dari aspek kebahagiaan, kapabilitas, hingga produktivitas. Kami percaya karyawan yang bekerja dengan happy, capable, engage dan produktif adalah kunci keberhasilan perseroan dalam jangka panjang. Singkatnya, kami ingin menjadikan karyawan super happy dan super produktif," ujarnya.

Menurut dia, dalam membangun kebahagiaan dan produktivitas, Bank Mandiri menggunakan pendekatan smell of the place yang artinya mengelola berbagai elemen kerja baik fisikal maupun emosional agar tercipta suasana (climate) yang membuat karyawan bahagia dan produktif. Dengan pendekatan ini ada empat elemen yang dibangun.

Pertama, role model dan komunikasi. Elemen ini bertujuan membangun komunikasi dan hubungan antara pimpinan dengan atasan serta antar kolega yang lebih egaliter, terbuka dan informal, baik dalam aktivitas kerja sehari-hari maupun acara-acara kebersamaan seperti happy hour, employee gathering, mandiri karnaval, Mandiri Volunteer.

Pimpinan unit juga dilatih untuk bisa story telling, menjawab pertanyaan dengan tepat, dan membimbing timnya untuk menemukan tujuan dalam bekerja.

Kedua, fasilitas dan simbol. Di sini, Bank Mandiri menyediakan berbagai fasilitas dan ruang kerja yang lebih kekinian sesuai dengan selera para milenial, termasuk fasilitas untuk hobi dan seni, olah raga baik indoor maupun outdoor.

Mandiri juga memiliki Mandiri Club yang mengorganisir komunitas berbagai hobi dan cabang olah raga yang diminati pegawai.

Di samping itu, Bank Mandiri juga memberikan fasilitas ruang laktasi bagi pegawai yang masih menyusui anak dan day care untuk anak usia 1-5 tahun sehingga pegawai bisa membawa anaknya ke kantor, serta memperkenankan pegawai berbusana kerja informal pada waktu tertentu.

Elemen ketiga, lanjut ADH, adalah Kapabilitas. Pada elemen ini, Bank Mandiri menyediakan berbagai training, pelatihan dan pendidikan melalui kerjasama dengan berbagai kampus terbaik di dalam dan luar negeri untuk meningkatkan kapabilitas teknis, soft-skill, leadership dan menjadikan karyawan sebagai pembelajar yang tangguh (growth mindset).

Mandiri juga memiliki Mandiri Inkubator untuk membina para start up fintech generasi milenial. Di samping itu, perusahaan pun memberikan kesempatan dan melatih para difabel untuk berkontribusi di Bank Mandiri.

Keempat, elemen manajemen kinerja. Pada elemen ini Bank Mandiri mengimplementasikan berbagai tools dan metode untuk memperkuat akuntabilitas pengukuran kinerja karyawan.

Dalam kaitan tersebut Bank Mandiri juga menyediakan berbagai program untuk mengapresiasi pegawai, mulai dari hal yang dasar seperti gaji, bonus dan berbagai fasilitas tunjangan hingga program apresiasi khusus seperti Mandiri Best Employee, Mandiri Employee Award dan National Frontliner Championship.

Berbagai inovasi dalam pengelolaan sumber daya manusia tersebut, menjadikan Bank Mandiri sebagai salah satu World Best Employers oleh Forbes, dengan posisi ke–11 dari 2000 perusahaan global.

“Kami bersyukur karena sebagai badan usaha milik negara, kami dapat berdiri sejajar dengan perusahaan top dunia seperti Alphabet (holding company Google), Microsoft, Apple, BMW, Disney, IBM dan Facebook.

Perubahan suasana kerja dengan nuansa yang kental milenial dan digital di Bank Mandiri, tidak terlepas dari leadership Direktur Utama, Pak Tiko, yang style-nya kekinian, muda, cerdas, terbuka, informal dan egaliter. Beliau adalah Role Model yang sangat tepat dengan kondisi saat ini.” ungkapnya.

Di sisi lain, hadirnya generasi milenial di Bank Mandiri juga mendorong perusahaan terus menyesuaikan budaya kerjanya agar tetap relevan dengan kondisi internal dan eksternal perusahaan.

“Hasilnya, kami sangat bersyukur, kinerja Bank Mandiri terus meningkat di tengah turbulensi ekonomi global maupun persaingan yang semakin ketat,” kata Agus. 

Sementara dari sisi kinerja Bank Mandiri tumbuh positif pada triwulan III 2018. Hingga September 2018, perseroan berhasil mencatat kenaikan penyaluran kredit sebesar 13,8% menjadi R 781,1 triliun sehingga mendorong penghimpunan asset menjadi Rp1.173,6 triliun, tumbuh 8,8% dari September 2017.

Laju cepat tersebut pun berdampak pada laba bersih perseroan pada Januari-September 2018 yang tumbuh 20,0% year on year (yoy) menjadi Rp 18,1 triliun.

Pertumbuhan kredit tertinggi dalam 18 bulan terakhir tersebut terutama disumbangkan oleh segmen korporasi besar sebesar 27,6% dan pertumbuhan kredit segmen mikro sebesar 27,1% menjadi Rp 301,4 triliun dan Rp 97,5 triliun.

Adapun kenaikan laba bersih perseroan didukung oleh meningkatnya net interest income sebesar 4,2% menjadi Rp 40,5 triliun dan fee based income sebesar 11,4% menjadi Rp 18,75 triliun, serta dibarengi penurunan biaya pencadangan 10,3% menjadi menyusul penurunan rasio NPL Gross 74 bps menjadi 3,01% pada akhir September 2018.

Sebagai bank milik negara, Bank Mandiri juga terus menjaga konsistensi dalam mendukung program-program strategis pemerintah untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi dan mendorong pemerataan pembangunan.

Salah satunya terlihat pada penyaluran kredit usaha rakyat (KUR) yang mencapai Rp 13,45 Triliun hingga September 2018 kepada 201.235 debitur, atau telah mencapai 76,6% dari target Rp 17,56 triliun.

Adapun 49,4% dari nilai tersebut atau Rp 6,65 triliun disalurkan kepada sektor produktif, yakni pertanian, perkebunan, industry pengolahan, dan jasa produksi. Sejak pertama kali disalurkan hingga September 2018, Bank Mandiri telah menyalurkan KUR sebesar Rp 61,79 Triliun kepada lebih dari 1,19 juta debitur yang tersebar di seluruh Indonesia.




TERBARU

Close [X]
×