kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.954.000   50.000   1,72%
  • USD/IDR 16.853   10,00   0,06%
  • IDX 8.212   -53,08   -0,64%
  • KOMPAS100 1.158   -9,98   -0,85%
  • LQ45 830   -9,73   -1,16%
  • ISSI 295   -1,25   -0,42%
  • IDX30 432   -3,95   -0,91%
  • IDXHIDIV20 516   -4,82   -0,92%
  • IDX80 129   -1,21   -0,93%
  • IDXV30 142   -0,67   -0,47%
  • IDXQ30 139   -1,75   -1,24%

Tren Korporasi Beralih ke Obligasi, Bank Tetap Optimistis Kredit Modal Kerja Tumbuh


Jumat, 13 Februari 2026 / 10:33 WIB
Tren Korporasi Beralih ke Obligasi, Bank Tetap Optimistis Kredit Modal Kerja Tumbuh
ILUSTRASI. Data Pefindo tunjukkan penerbitan obligasi korporasi melonjak 89,9% pada 2025. Ketahui alasan di balik fenomena ini dan dampaknya. (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Terdapat sinyal pergeseran sumber pendanaan korporasi dari kredit perbankan ke penerbitan surat utang (obligasi) sepanjang 2025.

Pergeseran ini terjadi seiring lambatnya penurunan suku bunga kredit, sehingga biaya dana melalui obligasi dinilai lebih kompetitif. Meski demikian, perbankan tetap optimistis penyaluran kredit modal kerja mampu mencatatkan pertumbuhan positif pada 2026.

Data dari PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menunjukkan penerbitan surat utang korporasi melonjak 89,9% secara tahunan pada 2025, dengan total nilai mencapai Rp 284,3 triliun. Lonjakan signifikan ini mencerminkan meningkatnya minat korporasi terhadap instrumen pendanaan pasar modal.

Imbal Hasil Obligasi Turun, Kredit Masih Relatif Tinggi

Pefindo menilai tren tersebut dipicu oleh biaya dana obligasi yang relatif lebih murah dibandingkan kredit perbankan. Sepanjang 2025, imbal hasil obligasi turun hampir 100 basis poin (bps) menjadi 6,07% dari level 7% pada tahun sebelumnya.

Baca Juga: Indomobil Finance (IMFI) Tawarkan Obligasi Rp 2,5 Triliun, Cek Jadwalnya

Sebagai perbandingan, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mencatat suku bunga kredit modal kerja perbankan hanya turun 50 bps menjadi 8,2% dari sebelumnya 8,7%.

Selain faktor bunga, skema pembayaran obligasi juga dinilai lebih fleksibel bagi korporasi, khususnya dalam kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil. Pada obligasi, perusahaan cukup membayar kupon secara berkala, tanpa kewajiban mencicil pokok pinjaman setiap bulan sebagaimana skema kredit perbankan.

Di sisi lain, Bank Indonesia (BI) melaporkan kredit modal kerja mengalami perlambatan sepanjang 2025, dengan pertumbuhan hanya 4,4% secara tahunan. Angka ini lebih rendah dibandingkan Desember 2024 yang masih mencatat pertumbuhan 6,8% secara tahunan.

Perbankan Yakin Kredit Kembali Ekspansif

Kendati terjadi perlambatan, sejumlah bank tetap optimistis kredit korporasi akan lebih ekspansif pada 2026.

Bank Central Asia (BCA), misalnya, masih mampu membukukan pertumbuhan kredit modal kerja sebesar 6,9% secara tahunan hingga akhir 2025 menjadi Rp 439,8 triliun, melampaui rata-rata industri.

EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Heryn menyampaikan bahwa tren penyaluran kredit pada dasarnya sejalan dengan kondisi perekonomian. Ia berharap pertumbuhan kredit modal kerja tahun ini tetap berada dalam jalur positif.

Baca Juga: Wealth Management BCA Tumbuh Positif, AUM Reksa Dana dan Obligasi Naik 15% pada 2025

Secara umum, kata Hera, BCA optimistis dapat terus mendukung pertumbuhan ekonomi melalui penyaluran kredit ke berbagai segmen dan sektor. “Tentunya dengan tetap mempertimbangkan prinsip kehati-hatian dan disiplin manajemen risiko,” ujarnya kepada Kontan, Kamis (12/2/2026).

Optimisme serupa disampaikan oleh Bank Syariah Indonesia (BSI). Corporate Secretary BSI Wisnu Sunandar menyatakan pihaknya yakin kinerja pembiayaan, khususnya di segmen produktif, akan tumbuh solid pada tahun ini.

Meski pembiayaan wholesale BSI pada 2025 tercatat turun menjadi Rp 9,9 triliun dari Rp 10,9 triliun pada tahun sebelumnya, Wisnu melihat adanya sinyal positif peningkatan daya beli masyarakat. Hal ini didorong oleh berbagai stimulus insentif dan kebijakan pemerintah yang bertujuan mengakselerasi pertumbuhan industri.

BSI pun berkomitmen menghadirkan solusi pembiayaan yang kompetitif, fleksibel, dan sesuai prinsip syariah guna membantu pelaku usaha meningkatkan kapasitas, memperluas pasar, serta memperkuat struktur permodalan.

“Pembiayaan produktif menjadi salah satu fokus utama BSI dalam meningkatkan kontribusi terhadap sektor riil,” kata Wisnu.

Selanjutnya: Transformasi Dunia Kerja, Kemnaker Dorong Shopee Affiliate Buka Peluang Kerja Baru

Menarik Dibaca: 7 Film Romantis Wajib Tonton Jomblo, Dijamin Bikin Semangat Move On

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! [Intensive Workshop] Excel for Business Reporting

[X]
×