kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.624.000   -40.000   -1,50%
  • USD/IDR 17.783   18,00   0,10%
  • IDX 6.596   -4,17   -0,06%
  • KOMPAS100 859   -4,53   -0,52%
  • LQ45 652   -2,54   -0,39%
  • ISSI 229   -0,27   -0,12%
  • IDX30 365   -1,19   -0,33%
  • IDXHIDIV20 451   -1,09   -0,24%
  • IDX80 98   -0,50   -0,51%
  • IDXV30 124   -1,26   -1,01%
  • IDXQ30 117   -0,24   -0,20%

Begini Peluang Perbaikan Pembiayaan Investasi Multifinance pada Semester II-2026


Rabu, 02 September 2026 / 18:28 WIB
Begini Peluang Perbaikan Pembiayaan Investasi Multifinance pada Semester II-2026
ILUSTRASI. Pembiayaan investasi multifinance diprediksi masih berpeluang membaik hingga akhir 2026. Tapi peluang ini masih bersifat terbatas dan tidak merata (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Ade Priyatin | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pembiayaan investasi multifinance diprediksi masih berpeluang membaik hingga akhir 2026. Sayangnya, peluang ini masih bersifat terbatas dan tidak merata.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet mengatakan peluang perbaikan pembiayaan segmen ini masih terbuka hingga kuartal IV-2026 karena pada periode ini sebagian belanja modal yang sebelumnya ditunda berpotensi mulai direalisasikan oleh pelaku usaha.

Selain itu, kebutuhan investasi juga sebenarnya masih tetap ada. Hal ini tercermin dari data Pemerintah terkait realisasi investasi yang pada kuartal II-2026 tercatat mencapai Rp511,8 triliun atau tumbuh 7,1% secara tahunan.

Baca Juga: Tabungan Haji Bank Mega Syariah Capai Rp 336 Miliar Per Juni 2026

“Jadi, kebutuhan investasi sebenarnya masih ada, hanya saja tidak semuanya disalurkan melalui multifinance karena proyek dengan nilai besar banyak menggunakan perbankan, obligasi, atau dana internal perusahaan,” jelasnya kepada Kontan, Rabu (2/9/2026).

Di sisi lain, tingkat suku bunga acuan Bank Indonesia atau BI Rate yang masih berada di level 5,75% membuat biaya dana belum cukup rendah untuk mendorong pembiayaan investasi dengan tenor panjang. Apalagi, penerbitan surat utang multifinance hingga Juli 2026 juga tercatat turun 41,8% secara tahunan.

Oleh sebab itu, Yusuf menilai kecil kemungkinan pembiayaan investasi multifinance mencatat rebound yang tajam hingga akhir tahun ini. Akan tetapi, skenario yang lebih realistis adalah kontraksi pembiayaan mulai mengecil dengan sebagian pemain berpotensi mencatat pertumbuhan rendah satu digit.

Meski begitu, sejumlah pemain multifinance mencatatkan kinerja apik pada semester I-2026. Misalnya, PT CIMB Niaga Auto Finance (CNAF) mencatat pertumbuhan piutang pembiayaan investasi sebesar 53% per Juni 2026 dan PT BRI Multifinance Indonesia (BRI Finance) yang mencatat pertumbuhan pembiayaan investasi sebesar 46,85% YoY pada periode yang sama.

Katanya, tren tersebut menunjukkan bahwa permintaan pembiayaan investasi lewat multifinance masih ada, tetapi masih terkonsentrasi pada pemain dan sektor tertentu saja.

Baca Juga: Transaksi QRIS BTN Melesat 158% Menjadi 102 Juta Transaksi Hingga Juli 2026

Di samping itu, perbaikan pembiayaan investasi ke depan akan ditopang oleh kebutuhan penggantian aset, berlanjutnya proyek hilirisasi dan infrastruktur, serta kepastian kebijakan. Ketika utilisasi produksi meningkat dan biaya pemeliharaan mesin atau armada lama makin mahal, perusahaan pada akhirnya akan terdorong untuk kembali melakukan investasi.

Di sisi lain, proyek di sektor industri, hilirisasi, konstruksi, logistik, dan infrastruktur juga berpotensi menciptakan permintaan terhadap alat berat dan mesin produksi.

Walau demikian, peluang tersebut tetap bergantung pada kepastian proyek, perizinan, dan biaya pembiayaan. Perusahaan pembiayaan diimbau untuk memperhatikan risiko kredit macet dan tetap berhati-hati saat melakukan ekspansi pembiayaan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×