Reporter: Ferry Saputra | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perusahaan asuransi umum PT Zurich Asuransi Indonesia (ZAI) menerapkan sejumlah strategi guna meningkatkan kinerja lini asuransi perjalanan.
Seiring meningkatnya mobilitas masyarakat, Direktur Zurich Asuransi Indonesia Auralusia Rimadiana mengatakan pihaknya terus berupaya meningkatkan kemudahan akses pembelian produk dan memperkuat layanan digital.
"Ditambah, meningkatkan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya perlindungan selama bepergian," katanya kepada Kontan, Rabu (9/9).
Auralusia menyampaikan pihaknya juga terus melakukan evaluasi terhadap kebutuhan nasabah dan tren perjalanan. Hal itu diperlukan agar perusahaan dapat menghadirkan solusi perlindungan yang sesuai dengan kebutuhan dan nilai tambah bagi nasabah.
Baca Juga: Intip Rencana Aksi Penambahan Modal BTN pada Tahun Ini
Terkait kinerja, Zurich mencatatkan Gross Written Premium (GWP) atau premi bruto dari lini asuransi perjalanan lebih dari Rp 150 miliar per Juli 2026.
Sementara itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai gangguan penerbangan akibat kebakaran hutan dan lahan, erupsi gunung berapi, maupun kondisi cuaca ekstrem menunjukkan bahwa perjalanan memiliki berbagai risiko yang dapat menimbulkan kerugian finansial bagi masyarakat. Dengan demikian, dalam kondisi tersebut asuransi perjalanan begitu diperlukan.
"Hal itu menunjukkan bahwa kebutuhan terhadap perlindungan perjalanan tetap relevan," kata Kepala Eksekutif Pengawasan Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun OJK Ogi Prastomiyono dalam lembar jawaban tertulis RDK OJK, Selasa (8/9).
Ke depannya, Ogi mengatakan prospek asuransi perjalanan masih cukup terbuka, sejalan dengan meningkatnya mobilitas masyarakat dan aktivitas perjalanan, baik domestik maupun internasional.
Untuk mendorong pertumbuhannya, dia bilang perusahaan asuransi perlu mengimplementasikan produk yang makin relevan, sederhana, terjangkau, dan mudah diakses oleh masyarakat, termasuk melalui kanal digital.
Baca Juga: BCA Catat Penyaluran KPR Rp144,3 Triliun hingga Juni 2026
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













